Gelap, Siapa Takut

Selasa, 02 Januari 2007 | 15:18 WIB

TEMPO Interaktif, PHILADELPHIA:Lisa Pratt harus menanggung risiko kehilangan nyawa untuk menyelidiki bentuk kehidupan baru yang kemungkinan besar ada di planet lainnya. Menggunakan helm, pakaian khusus, dan sepatu bot karet berujung besi setinggi lutut, dia masuk kandang baja yang biasa mengantarkan penambang ke sebuah tambang emas di Kota Carletonville, Afrika Selatan.

Kandang itu jatuh amat cepat, lebih dari 64 kilometer tiap jam, sehingga Pratt harus berulang kali melakukan gerakan menelan sekuat tenaga untuk menyeimbangkan tekanan di telinganya. "Sebuah tindakan nekat," kata peneliti dari Indiana University, Amerika, itu.

Dalam tiga tahun terakhir, kandang baja itu memang tak cuma membawa para penambang naik-turun ke tambang bawah tanah yang panas, gelap, dan berbau sulfur pada kedalaman lebih dari tiga kilometer. Kandang itu juga mengangkut sejumlah peneliti dari New Jersey yang mencari bakteri bawah tanah.

Selama tiga tahun naik-turun tambang dan menganalisis 200 sampel air mendidih dari ribuan tahun lampau itu, tujuan tim peneliti dari Princeton University serta sejumlah institusi lain itu akhirnya tercapai. Salah satu temuan mereka adalah bakteri berbentuk tabung kurus yang hidup dari radiasi rendah bebatuan sekitarnya.

Tampaknya spesies bakteri itu telah hidup di dalam kegelapan total selama jutaan tahun. Gaya hidup mereka ini menentang dugaan lama bahwa organisme hidup butuh cahaya dan oksigen.

Direktur proyek ini, Tullis Onstott, menyatakan ekosistem bawah tanah ini adalah contoh pertama adanya komunitas stabil yang tidak menerima energi dari matahari. Organisme yang belum diberi nama itu sama sekali tidak menggantungkan kehidupannya dari energi matahari, baik langsung maupun tidak. "Yang harus digarisbawahi, air dan batu serta radiasinya cukup untuk menyokong kehidupan selama ribuan tahun," kata Onstott.

Keberadaan mereka juga membuka pemahaman baru tentang kemungkinan adanya kehidupan di planet lain. "Temuan ini memudahkan kami membayangkan bagaimana kehidupan di Mars," kata Onstott, pakar ilmu kebumian dari Princeton.

Memang di Mars masih ada cahaya matahari, tapi kondisi permukaan planet itu tidak mendukung adanya kehidupan. Belum lagi atmosfernya yang tipis, yang tidak bisa menyaring radiasi ultraviolet yang berbahaya. Sehingga kemungkinan besar kehidupan di Mars diperkirakan berada jauh di bawah tanah.

Untuk menjawab dari mana bentuk kehidupan di Mars memperoleh energinya, para peneliti ini mengubek-ubek perut Bumi. Afrika Selatan sengaja dipilih sebagai lokasi penelitian karena terkenal dengan tambang-tambang paling dalam di dunia.

Ketika penambang menggali, terkadang bukan emas yang mereka peroleh, melainkan air. Namun, justru air inilah yang menarik tim beranggotakan lebih dari 30 peneliti itu mendatangi daerah tersebut. Bahkan ada yang tinggal selama dua bulan penuh sekali datang.

Setiap kali penambang menemukan semburan air bertekanan tinggi, pejabat perusahaan tambang akan menyampaikan berita itu kepada ilmuwan yang menunggu di permukaan, meski saat itu tengah malam. Secara bergiliran, peneliti memantau terus semburan baru yang terkadang mencapai 15.142 liter per menit itu, sehingga mereka harus menunggu semburan melemah sebelum menjelajahi lubang tambang.

Kondisi ini bisa amat berbahaya. Banyak penambang emas yang menjadi korban tewas dalam kecelakaan di penambangan. Tapi Pratt dan rekan penelitinya harus turun sebelum tekanan itu mereda dan sumber air prasejarah itu terkontaminasi udara dari permukaan.

Begitu sampai di bawah, mereka harus menutup lubang tambang itu dengan alat khusus berupa silinder baja yang, jika diputar, akan menyebabkan tutup karetnya mengembang dan menutup lubang galian. Dari silinder itu, tim peneliti menarik sampel air melalui tabung steril untuk dianalisis.

Dari 80 lubang galian di berbagai tambang, mereka mengambil 200 sampel air. Tapi bakteri ini hanya ditemukan di tambang Mponeng, yang berarti "lihatlah saya". Tahun lalu tambang ini menghasilkan 14.175 kilogram emas.

Kini, di bawah arahan Pratt, tim ini akan mengulangi penelitian ini di eksplorasi bawah tanah di daerah Arktik. Kondisi lingkungan wilayah ini dianggap lebih menyerupai Mars karena juga memiliki lapisan tanah yang selalu membeku.

Sementara itu, di Princeton, pakar ilmu kebumian John Kessler juga bersiap-siap melakukan misi ke Planet Merah. Dia membuat semacam detektor kehidupan dari silinder baja tahan karat, sirkuit elektronik, dan laser inframerah. Alat itu menganalisis gas metana yang dihasilkan makhluk hidup dan proses geologis.

Jika benar-benar ada kehidupan di Mars, tidak ada yang bisa memastikan apakah bentuknya mirip dengan organisme bersel tunggal dari tambang emas, yang mirip dengan bakteri penyebab antraks, itu. Bila dugaan itu benar, penemuan itu akan mendukung gagasan yang menyatakan kehidupan berawal dari Mars dan menyebar ke Bumi dengan menumpang meteor.

tjandra dewi | philadelphia inquirer | mct | BBC | sfgate

TOPIK






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: