Berburu Gen dan Bertani Molekul di Cibinong

Jum'at, 05 Januari 2007 | 10:03 WIB

TEMPO Interaktif, Cibinong: Sudah dua tahun terakhir Muktiningsih Nurjayadi bertingkah beda. Ia melupakan dulu bakteri-bakteri Salmonella typhi penyebab tipes yang selama ini dekat dengan meja laboratoriumnya di Jurusan Kimia Fakultas MIPA Universitas Negeri Jakarta. Ia beralih menelisik erythropoietin pada manusia (hEPO).

Erythropoietin adalah protein yang berperan mempercepat pematangan sel darah merah pada ginjal -terutama ketika banyak sel-sel itu yang sedang rusak. Latar belakang ilmu yang dikuasainya membuat Muktiningsih tahu pasti kalau protein yang satu itulah yang selama ini menyandera kondisi suaminya.

Sejak fungsi ginjal yang tinggal satu merosot tajam hingga lima persen saja, produksi erythroproietin dalam tubuh suaminya itu ikut terganggu. Akibatnya, seminggu dua kali harus ke rumah sakit untuk cuci darah. Begitu terus, hingga nanti akhir hayat hidupnya.

Rutinitas adalah satu hal. Biaya menjadi persoalan lain. Kepala Hematologi-Onkologi Rumah Sakit Dr Sardjito, Yogyakarta, Sutaryo, mengatakan, setiap pasien cuci darah butuh hampir Rp 2 juta rupiah per minggu untuk membeli erythropoietin tidak lebih dari 10 cc. Biaya itu belum termasuk ongkos cuci darahnya. "Lama-lama terasa juga," begitu kata Muktiningsih.

Itu sebabnya Muktiningsih menyambar saja undangan milik temannya ke seminar hasil-hasil penelitian pasca genomik dan pertanian molekul (molecular farming) yang digelar Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI-Cibinong, kemarin. Tidak salah karena di tempat itu ia bisa bertemu dan konsultasi langsung dengan Adi Santoso, peneliti LIPI yang sedang mengembangkan teknik pemanenan erythropoietin dari tanaman barley dan ragi.

Kalau Adi berhasil, Sutaryo menilai, akan sangat membantu pasien cuci darah di Indonesia yang selama ini bergantung kepada glikoprotein impor. "Biaya cuci darah pasti akan jauh lebih murah," jelas Sutaryo sambil menerangkan di rumah sakitnya setiap hari ada 100-150 pasien yang butuh cuci darah. "Itu yang mampu bayar," katanya menambahkan.

Adi sudah 2,5 tahun bergelut dengan penelitiannya itu yang tergolong program kompetitif di LIPI. Sementara, doktor dari North Dakota State University, Amerika, itu mendapati sistem ekspresi pada ragi lebih efisien dibandingkan dalam sistem 'pabrik' barley. Erythropoietin yang diproduksi juga sangat mirip dengan hEPO.

Meski baru 30 persen berjalan (belum uji in vivo dan in vitro), terbukti bukan hanya Sutaryo dan Muktiningsih yang menaruh harap. Perusahaan-perusahaan farmasi pun langsung pasang kuda-kuda untuk membantu pemasarannya. Obat berbasis bioteknologi lainnya, Interferon untuk hepatitis dan antikanker, bahkan sudah memikat komitmen Kimia Farma. "Tahun ini sudah siap produksi massal," Kata Kepala LIPI Umar Anggara Jenie.

Selain Adi dengan human erythropoietin-nya, Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI juga memaparkan lima penelitian kompetitif lainnya yang tidak kalah memikat perusahaan-perusahaan farmasi lokal. Diantara mereka adalah Witjaksono yang berusaha bertani molekul dengan tanaman pisang.

Mengusung topik penelitian Pengembangan Protokol Embriogenesis Somatik Pisang dan Transformasi Genetik untuk Molecular Farming Vaksin, Witjaksono bercita-cita membuat pisang juga berkhasiat vaksin. "Tumbuhan pisang memiliki serbuk sari steril dan mudah diperbanyak," katanya menerangkan alasannya memilih buah pisang.

Ada pula ahli virologi Andi Utama yang coba melumpuhkan flavivirus -virus yang bertanggung jawab untuk hepatitis C dan Japanese encephalitis- lewat enzim helikase-nya. Satya Nugroho yang berusaha mengidentifikasi dan mengisolasi gen yang berperan bagi tanaman bertahan dari cekaman kekeringan.

Ines Irene C. Atmosoekarto tidak mau kalah dengan melanjutkan penelitiannya terdahulu. Kali ini, dengan pendekatan molekuler, ia akan mencari antivirus flu burung. Ia memburu channel ion protein M2 virus ganas itu sebagai targetnya. Kalau berhasil, Ines mengatakan, "Protein Vpu pada virus HIV dan p7 di virus Hepatitis C merupakan target yang dapat dikembangkan dengan teknik yang sama."

Srikandi peneliti bioteknologi lainnya, Endang Tri Margawati memilih mengarahkan kelompoknya meneliti pengembangan vaksin Jembrana berbasis protein rekombinan. Vaksin ini dipilih karena hanya menyerang sapi Bali. "Ini masalah lokal yang harus diselesaikan peneliti Indonesia sendiri," kata Andi Utama mewakili Endang tidak hadir.

(wuragil)

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :