Derita Borneo
Senin, 08 Januari 2007 | 18:36 WIB
Raksasa minyak di muara Sungai Mahakam, Kalimantan Timur, PT Total E&P Indonesie, sudah lama gelisah. Perusahaan ini mengamati tak lagi mendominasi di sekitar aliran sungai besar itu sejak meletusnya krisis moneter di Indonesia 1998 lalu. Tambak liar udang bermunculan dengan cepat bak jamur pada musim hujan.
Mula-mula satu dan menghadap ke arah laut, tapi lama-kelamaan Delta Mahakam tak kuasa menahannya sehingga merembet semakin ke tengah. Potret satelit terbaru yang dipesan Total atas wilayah itu membuktikan hutan mangrove setempat terdesak, rusak parah dan menciut hingga tersisa 20 persen saja.
Kepala Departemen Lingkungan Total, Suripno, mengatakan kerusakan hutan mangrove di Delta Mahakam sudah sangat kritis. Mulai dari abrasi, erosi, hingga menurunnya produksi ikan dan udang-udang dalam tambak. "Bahkan tingkat produksi tambak udang juga sudah ikut merosot gara-gara daya dukung lingkungannya yang memang sudah menurun," kata Bahteramsyah, ahli lingkungan di Kutai Kartanegara, menambahkan.
Hasil studi terbaru yang dibuat Total bersama pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara, didukung Cirad--institut penelitian agronomik di Prancis--menunjukkan peran rawa mangrove sebagai sumber nutrisi ekosistem setempat sudah digantikan pupuk-pupuk kimia. Akibat perlakuan itu, ekosistem justru menerima serangan balik. "Ekologi delta akan segera merosot dalam waktu dekat... muncul berbagai bibit penyakit, polusi air, dan kadar salinitas yang berbahaya," studi itu menyimpulkan.
Philippe Armand, Presiden Direktur Total E&P Indonesie, khawatir menjadi sasaran tembak gara-gara lingkungan setempat yang perlahan-lahan merana itu. "Sebanyak 15 ribu orang bakal kehilangan pekerjaan karena udang tak mau berbiak lagi dan itu bukan karena sumur-sumur gas kami," katanya.
Total mulai menelisik dan mengisap minyak dan gas di kawasan delta itu sejak 1975. Sebanyak 550 ribu barel gas diekstrak dari sedimennya, yang memerangkap cadangan hidrokarbon terbesar yang pernah ditemukan Total 30 tahun terakhir.
Tapi hubungan bertetangganya dengan para nelayan tambak mulai tak akur setelah krisis moneter yang melambungkan nilai tukar mata uang dolar Amerika terhadap rupiah. Saat itu, harga udang yang laku di pasar luar negeri ikut melonjak tinggi. "Barulah mereka berlomba-lomba membuat tambak di Delta Mahakam," kata juru bicara Total Indonesia, Ananda Idris.
Sayangnya, menurut Suripno, nelayan lokal mengandalkan kondisi ekosistem hutan mangrove yang sehat untuk menciptakan tambak, lalu berpindah dengan menebang hutan mangrove lainnya. "Kalau seperti itu, secara otomatis ekosistem lingkungannya akan rusak," katanya.
***
Rusaknya kawasan pesisir di Delta Mahakam melengkapi derita Kalimantan sebagai sebuah pulau yang utuh. Pakar ekologi asal Belanda di The Nature Conservancy, Erik Meijaard, pernah mengatakan kekayaan alam hutan Kalimantan sudah tersudut hingga ke jantungnya. Di sana, hutan-hutan tak terjamah hanya berkat kondisi geografisnya yang memang dibentengi oleh lereng dan bukit-bukit curam. "Untuk mengambil kayunya tak lagi ekonomis," kata Erik.
Di kawasan yang sama pula WWF International, jelang ganti tahun lalu, mengumumkan telah menemukan 52 spesies terbaru khas Borneo selama Juli 2005 sampai September 2006. Mereka terdiri atas 30 spesies ikan, dua kodok, 16 spesies tanaman jahe, dan tiga pepohonan. "Temuan ini semakin menegaskan posisi Borneo sebagai pusat biodiversitas paling penting di dunia," kata Stuart Chapman, Koordinator Program Jantung Borneo di WWF International.
WWF memperingatkan bukan tak mungkin habitat itu akan menyusul nasib kawasan hutan dataran rendah. Karena penambangan kayu dan konversi menjadi perkebunan kelapa sawit dan karet, termasuk kebakaran, yang mendominasi kawasan itu, WWF memperkirakan Borneo sudah setengah gundul.
"Jantung Borneo adalah tapal terakhir kekayaan pengetahuan dan spesies di Borneo," kata Chapman. Di sana, kata Chapman lagi, "Kejutan akan selalu ada kalau kita mencarinya."
GUNAWAN WIBISONO | WWF INTERNATIONAL | AFP





