Gelap Bukan Tak Ada

Selasa, 09 Januari 2007 | 13:55 WIB

Jurnal ilmiah Nature edisi terbaru memuat hasil studi pakar astronomi di Amerika Serikat yang berhasil memetakan rangka kosmik dari zat gelap jagat raya. Temuan simulasi itu memberi petunjuk paling sahih bahwa distribusi galaksi selama miliaran tahun mengikuti distribusi zat yang tidak memancarkan ataupun memantulkan cahaya itu lewat tarikan gravitasinya.

Zat gelap adalah teka-teki terbesar dalam dunia astronomi modern. Menyusun sampai 90 persen jagat raya, zat yang tidak tampak ini laksana sebuah rahim. Di sanalah bintang dan galaksi dilahirkan.

Pakar astronomi, seperti Jan Oort dan Fritz Zwicky, mulai memperhitungkan keberadaan zat gelap pada 1930-an. Mereka mendapatinya ketika sedang menghitung bobot galaksi. Teorinya, bobot sebuah galaksi dapat diketahui dengan cara mengkonversi kemilaunya ke dalam satuan massa. Teknik kedua, menghitung gerak rotasinya.

Teknik perhitungan kedua didasarkan pada fakta bahwa semua obyek di jagat raya berputar mengelilingi sumbunya. Bumi berputar pada porosnya. Semua planet bergerak mengitari bintang induknya. Matahari membawa planet-planetnya mengelilingi pusat Galaksi Bima Sakti. Semakin cepat galaksi berputar semakin besar massa di dalamnya.

Tapi hasil hitungan yang didapat Oort dan Zwicky berbeda di antara kedua teknik itu. Mereka mencocokkan berulang kali. Hasilnya sama, tidak pernah klop. Mereka curiga bahwa ada massa di sana, selain gas, planet, bintang, dan galaksi, yang tidak kelihatan. Sejak itu para pakar astronomi menyebutnya zat gelap.

Zat gelap itu sungguh penting. Tanpa zat itu para pakar meyakini setiap galaksi akan buyar. Agak konyol? Entahlah, tapi bayangkan saja sebuah menara tinggi di malam yang pekat. Meski yang terlihat hanya cahaya dari beberapa kamar, bukan berarti tidak ada kamar lainnya di menara itu.

Sama seperti kamar-kamar yang lampunya padam itu, zat gelap tidak bisa dilihat karena memang ia tidak memancarkan cahaya.

BBC

Topik :

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :