Bumi Makin Panas
Kamis, 11 Januari 2007 | 01:44 WIB
TEMPO Interaktif, MOSKOW:
Meski sudah lewat beberapa pekan dari masa tidur akhir tahunnya, beruang Rusia di Kebun Binatang Moskow, Rusia, belum juga bisa memejamkan matanya. Mereka mengalami insomnia gara-gara salju musim dingin yang telat datang.
Pada 2006 musim dingin Arktik Rusia sama sekali tidak membawa salju, bahkan suhu udara tetap hangat sehingga para beruang tidak bisa tidur. Padahal biasanya temperatur musim dingin Rusia bisa mencapai beberapa derajat di bawah titik beku.
Akhirnya masa hibernasi beruang cokelat Kamchatka datang juga ketika salju tipis, yang langsung meleleh, turun di pengujung Desember. Tahun-tahun sebelumnya, masa hibernasi beruang Rusia ini dimulai pada November.
Tak cuma beruang Kamchatka yang terkena dampak menghangatnya iklim global. Hangatnya musim dingin kali ini juga membuat warga Kota Moskow terpaksa meninggalkan sepatu luncur dan topi bulu di rumah. Badan Cuaca Moskow menyatakan musim dingin 2006 memecahkan rekor paling hangat sejak 1879.
Iklim hangat juga dirasakan di negara Eropa lainnya. Dalam sejarah Inggris, 2006 yang baru saja lewat adalah tahun terhangat. Pakar meteorologi Inggris mengatakan temperatur tengah 2006 adalah 9,7 derajat Celsius atau 1,1 derajat Celsius di atas angka rata-rata selama ini, berdasarkan periode 1971-2000.
Badan Meteorologi Inggris, Met Office, mencatat temperatur hangat itu juga terjadi di seantero bumi dan kemungkinan besar tahun ini bumi akan mengalami tahun terpanas yang pernah tercatat. Pakar prediksi cuaca menyatakan periode hangat yang lebih panjang daripada biasanya ini terjadi akibat El Nino di atas Samudra Pasifik. Hal ini mendorong naiknya temperatur global.
Mereka mengatakan ada kemungkinan 60 persen temperatur permukaan akan menyamai, bahkan melampaui, angka yang tercatat sejak 1998. Para ilmuwan Inggris ini juga mengungkapkan tahun lalu mereka mencatat temperatur rata-rata tertinggi di negara itu sejak 1914.
Temperatur permukaan global diperkirakan naik 0,54 derajat Celsius daripada temperatur rata-rata 14 derajat Celsius. Angka itu mengalahkan catatan tertinggi saat ini, 0,52 derajat Celsius, yang terjadi pada 1998.
Angka proyeksi tahunan itu disusun oleh Hadley Centre Met Office Inggris, yang dibantu University of East Anglia. Kepala riset keanekaragaman iklim Hadley Centre, Chris Folland, menyatakan ramalan cuaca ini disusun berdasarkan dua faktor, yaitu emisi gas rumah kaca hasil aktivitas manusia dan El Nino.
"Prediksi itu memakai metode statistik, angka yang mewakili pemanasan di atmosfer," kata Folland. "Gas rumah kaca menyebabkan pemanasan, sedangkan aerosol menyebabkan pendinginan."
Folland menyatakan pengaruh El Nino adalah faktor yang memungkinkan mereka bisa meramalkan apakah iklim tahun ini berbeda secara signifikan daripada tahun sebelumnya. El Nino ditandai dengan datangnya air yang lebih hangat daripada biasanya dari sebelah barat laut pesisir Amerika Selatan. El Nino dideskripsikan sebagai pengaruh terbesar yang menyebabkan keanekaragaman iklim bumi dari tahun ke tahun.
Meski baru berjalan beberapa hari, tahun ini disebut amat potensial menjadi pemecah rekor tahun terpanas karena fenomena El Nino yang cukup kuat di Samudra Pasifik. Organisasi Meteorologi Dunia WMO mengatakan El Nino diperkirakan akan terus berlangsung sampai kuartal pertama 2007, sehingga pengaruhnya cukup besar.
"Terjadi kelambatan antara El Nino dan menghangatnya temperatur global sekitar empat bulan atau lebih lama lagi," kata Folland.
Folland menyatakan pusat riset cuaca itu memiliki dua metode untuk meramalkan dampak El Nino. Metode pertama berlandaskan dua pola temperatur permukaan laut di wilayah El Nino, sedangkan metode kedua memakai model matematika yang kompleks.
Hasil prediksi itu kemudian dibandingkan dengan data 50 tahun terakhir. Handley Centre telah mengumumkan ramalan cuaca tahunannya selama tujuh tahun belakangan, yang tingkat kesalahan wajarnya cuma 0,06. "Kami telah melakukan perhitungan ini tiga kali dan diperbarui setiap bulan dan kini sudah stabil," kata Folland.
Desember lalu, WMO merilis data sementara temperatur permukaan rata-rata global untuk 2006. Mereka menilai temperatur rata-rata tahun lalu 0,42 derajat Celsius di atas rata-rata periode 1961-1990. Itu berarti 2006 menjadi tahun terpanas peringkat enam yang pernah tercatat.
Katie Hopkins dari Met Office Consulting mengatakan informasi itu memperkuat peringatan bahwa perubahan iklim terjadi di seluruh dunia. "Tugas kami di tim konsultasi perubahan iklim Met Office adalah membantu para pebisnis mengambil langkah mitigasi terhadap risiko itu dan bisa menyesuaikan diri agar berhasil dalam lingkungan yang baru," katanya.
Sebelumnya, sejumlah ilmuwan lain telah menyatakan kemungkinan kenaikan temperatur dua sampai enam derajat Celsius dalam abad ini. Kenaikan itu terjadi akibat emisi gas karbon dari pembakaran bahan bakar fosil untuk transportasi dan listrik.
Memanasnya bumi akan menyebabkan melelehnya gunung-gunung es di kutub serta peningkatan permukaan laut dan perubahan pola cuaca yang membawa
banjir, badai, dan kelaparan yang membahayakan jiwa jutaan umat manusia.
Tentu ramalan cuaca ini bisa saja keliru karena baru berupa prediksi. Meski demikian, kementerian darurat Rusia telah memperingatkan kemungkinan beruang liar yang menjadi simbol negara itu akan jadi sedikit lebih agresif jika bangun nanti. Musim dingin yang sedang-sedang saja itu membuat mereka kurang tidur karena bangun lebih cepat daripada biasanya.
l tjandra dewi | BBC | nature | metoffice | CNN





