Kecelakaan Itu Bakat

Selasa, 16 Januari 2007 | 13:13 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Bruce Willis pernah bermain dalam film Unbreakable, yang bercerita bahwa dirinya adalah orang yang tidak pernah sakit, tidak pernah celaka, dan tidak pernah mendapat perkara kesehatan sedikit pun sepanjang hidup. Dalam kisah itu, ia berhadapan dengan tokoh diperankan Samuel L. Jackson. Orang yang sepanjang hidupnya selalu didera penyakit dan gampang mengalami kecelakaan.

Tokoh seperti Jackson ternyata bisa terjadi. Memang ada orang yang berbakat kecelakaan. Dan bakat itu muncul jika sejumlah syarat terpenuhi, di antaranya IQ rendah saat masih sekolah dasar. Soalnya, sebuah survei dengan lebih dari 10 ribu responden memperlihatkan bahwa semakin cerdas saat bocah semakin rendah kemungkinan mendapat kecelakaan.

Debbie Lawlor, PhD, dari Universitas Bristol, Inggris, dan rekan-rekannya membuat survei di Skotlandia. Mereka memanfaatkan catatan 11.282 orang di Skotlandia yang pada 1950-an dan 1960-an menjadi bahan penelitian perkembangan anak. Sebagai obyek penelitian, para bocah yang sekarang sudah berusia 50-an itu menjalani tes kecerdasan saat berusia 7, 9, dan 11 tahun.

Dalam studi yang bakal dilansir American Journal of Public Health edisi bulan depan itu, catatan tes IQ tersebut dibandingkan dengan rekaman medis setelah dewasa, apakah mereka sempat masuk rumah sakit akibat kecelakaan. Hasilnya ternyata ada. Semakin cerdas saat bocah, semakin kecil kemungkinan ia mendapat kecelakaan setelah dewasa.

Faktor-faktor lain, seperti latar belakang sosial-ekonomi atau pertumbuhan fisik, malah tidak berpengaruh. Yang lebih berpengaruh, selain kecerdasan, adalah pendidikan. Semakin terdidik semakin sedikit tingkat kecelakaan yang dialami. Pendidikan makin berpengaruh jika saat anak-anak kecerdasannya di atas 100.

Lawlor menduga hubungan ini karena beberapa alasan. Anak yang kurang cerdas cenderung mengalami cedera saat masih anak-anak. Jika cedera itu di bagian kepala, anak itu makin gampang mengalami kecelakaan. Anak-anak yang kurang cerdas kurang mampu memproses informasi bahaya dari sekelilingnya. Informasi ini tidak melindungi mereka dari kecelakaan.

Selain itu, anak yang kurang cerdas cenderung lebih cepat putus sekolah. Akibat berikutnya bertambah lagi: mereka kurang bisa menelan informasi. Selain itu, mereka terperangkap dalam pekerjaan yang lebih berisiko.

"Sepengetahuan kami, ini adalah studi pertama yang meneliti hubungan antara kecerdasan saat anak-anak dan risiko cedera saat dewasa," tulis Lawlor.

Lawlor bisa jadi benar. Jika mencari hubungan antara kecerdasan dan kecelakaan, ia dan timnya menjadi yang pertama. Tapi, jika mencari karakter orang yang gampang mengalami kecelakaan, ia bukan yang pertama.

Lima tahun lalu, Professor Ivan Robertson dari Institut Sains dan Teknologi di Universitas Manchester mencoba mencari tahu karakter orang-orang yang gampang mengalami kecelakaan.

Sebelumnya, hubungan karakter dengan kecelakaan sulit dievaluasi karena metodenya berbeda-beda. Tapi tim ini melakukan standardisasi temuan.

Hasilnya ada yang mengejutkan. Ada tiga karakter utama yang membuat orang gampang mengalami kecelakaan. Pertama, cenderung kurang bertenggang rasa dan bertanggung jawab secara sosial. Ini sangat jelas. Sebab, saat menyetir, misalnya, dia tidak mau mengalah. Hasilnya bisa ditebak, gampang mengalami kecelakaan.

Yang kedua, cenderung agresif dan mementingkan diri sendiri. Sebagian besar pengemudi angkutan umum di Jakarta, mungkin, masuk kategori ini. Di jalan yang sempit, para pengemudi metro mini, misalnya, masih bisa ngebut.

Tapi yang ketiga agak mengejutkan. Orang yang terbuka, suka belajar dari pengalaman, dan mudah menerima nasihat ternyata juga gampang mengalami kecelakaan. Profesor Robertson memiliki penjelasan sederhana. "Orang yang terlalu terbuka cenderung suka melamun dan membiarkan imajinasinya lebih berkuasa," katanya.

Tim Robertson juga mencoba menghubungkan karakter, seperti sifat terbuka atau kestabilan emosi, dengan kecelakaan. Tapi mereka tidak menemukan hubungan dua karakter itu dengan kecenderungan rentan kecelakaan.

Temuan yang agak aneh juga ditemukan tim peneliti lain. Orang yang tidak memiliki hobi pribadi--misalnya berkebun--ternyata cenderung gampang mengalami kecelakaan.

Tim yang dipimpin Dr G.C. Gauchard dari Pusat Kerja Sama WHO di Fakultas Kedokteran Universitas Henri Poincare, Nancy, Prancis, melansir temuan itu tahun lalu setelah melihat catatan 2.610 pekerja kereta api.

Ternyata, 27 persen individu yang diteliti lebih sering mengalami kecelakaan dibanding yang lain. Selain yang tidak memiliki hobi pribadi, mereka yang sering mengalami kecelakaan adalah mereka yang lebih muda, tak berpengalaman, tidak puas dengan pekerjaan dengan indikasi permohonan pindah bagian, tidak mendapat pelatihan keamanan, sulit tidur, serta memiliki kebiasaan merokok.


l nurkhoiri | the register | denver post | emaxhealth.com | bbc

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :