Ilmuwan Asia Sisihkan Inggris
Kamis, 18 Januari 2007 | 01:08 WIB
TEMPO Interaktif, LONDON:
Pada saat ini, India, misalnya, telah menghasilkan banyak sarjana sains. Namun, Demos meminta perkembangan ini tidak dilihat sebagai sebuah ancaman karena hal tersebut akan membuka banyak peluang bagi Inggris.
James Wilsdon, Kepala Sains dan Inovasi Demos, mengatakan ritme inovasi berubah amat cepat di Asia. Berbagai faktor, seperti tumbuhnya pasar, meningkatnya anggaran belanja untuk riset, dan pulangnya ilmuwan yang kembali dari belajar di Amerika Serikat, menjadi pendorong inovasi berbasis sains.
Baru-baru ini Korea Selatan telah melipatgandakan investasinya di bidang riset dan menambah lembaga ilmiahnya, menyusul perkembangan industri yang amat cepat dalam 30 tahun terakhir. Cina juga memperbanyak anggaran ilmu pengetahuannya, sedangkan India memproduksi 2,5 juta insinyur serta sarjana sains dan teknologi informasi setiap tahunnya.
Baik perusahaan multinasional maupun lokal menangguk keuntungan dari perkembangan ini. Amerika Serikat dan Eropa tak dapat lagi mengandalkan keunggulan mereka di bidang sains.
Laporan bertajuk Atlas of Ideas, yang dipesan pemerintah Inggris serta konsorsium publik dan swasta itu, menguji peran yang dapat dimainkan dunia sains Inggris dalam perubahan global yang terjadi sekarang ini. "Banyak peluang di luar sana," kata Wilsdon. "Jika Inggris dapat membaurkan kebijakan dan insentif untuk mendorong ilmuwan terbaiknya agar bekerja sama dengan ilmuwan terbaik dari negara-negara itu, akan sangat menguntungkan bagi semua pihak."
Laporan itu juga memperingatkan Inggris perlu segera bertindak untuk menghadapi dunia baru, tempat inovasi tak lagi didominasi Eropa dan Amerika Serikat. Jika tidak, Inggris akan tertinggal. l BBC




Komentar Anda :