Makan Pisang = Vaksinasi
Jum'at, 19 Januari 2007 | 01:46 WIB
TEMPO Interaktif, Bogor:Melangkah ke dalam ruang kerja Witjaksono, peneliti di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Kebun Raya Bogor seperti mendapati kapal pecah. Kontras dengan suasana teduh lingkungan di luarnya.
Begitu pintu terbuka, beberapa pasang sepatu sandal malah sudah menyambut. Witjaksono harus sedikit menendang satu diantaranya ke tepian sebelum mempersilahkan Tempo masuk.
Tapi siapa sangka dibalik kesemrawutan isi kamar kerja yang didominasi tumpukan buku, kertas, juga bungkus rokok itu tersimpan potensi luar biasa memproduksi vaksin bukan dari laboratorium pabrik farmasi, tapi dari 'mesin' sel tanaman. Vaksinasi terbukti sangat efektif menghentikan penyebaran suatu penyakit di muka bumi.
Secara konvensional, vaksinasi dilakukan dengan cara menyuntikkan bibit penyakit yang sudah dilemahkan. Tapi, Witjaksono ingin dengan hanya mencungkil gen milik virus yang bertanggungjawab membangkitkan antibodi dalam tubuh (epitop).
Epitop lalu ditanam dalam sel meristematik atau embriogenik, yang membawanya tumbuh dan berkembang jadi tanaman. Ketika masanya tiba, epitop bisa dituai dalam panenan tanaman itu. "Bayangkan kalau kita tanam berhektare-hektare, akan ada produksi sendiri tanpa kita perlu susah-susah," kata Witjaksono.
Ahli kultur jaringan tanaman berusia 45 tahun itu menggandeng koleganya di Pusat Penelitian Bioteknologi, LIPI, merintis ke arah sana. Separo jalan sudah dilewati, separo lainnya diukur 2-3 tahun lagi.
Witjaksono dan kawan-kawannya mengincar jenis vaksin Hepatitis B yang sebenarnya bukan baru-baru amat dalam teknologi molecular farming di dunia. Di Amerika, misalnya, sudah ada yang memproduksinya dengan kentang.
Tapi vaksin pada kentang dianggap kurang efektif karena vaksin harus diekstrak dulu dalam bentuk tepung karena kentang tak bisa langsung dimakan. "Sedang kalau kentang direbus, protein (epitop) bisa rusak dan tidak aktif," tuturnya.
Jadilah Witjaksono memilih pisang-pisang mas-yang bisa langsung dimakan. "Tinggal makan..tentu harganya akan jauh lebih murah," katanya.
Bukan kebetulan juga kalau pisang mas yang menjadi model program penelitian unggulan di LIPI itu. Pertama, pisang mas memiliki nilai etnobotani sebagai obat untuk sakit kuning yang biasa dimakan bersama kutu rambut. "Dulu sakit kuning biasa disebut sakit liver atau sakit hati, ya hepatitis juga," kata Witjaksono.
Kedua, pisang mas tidak pernah ada bijinya, alias steril. Itu menghapus kekhawatiran transfer gen secara horizontal antara satu tanaman ke tanaman lain. "Kalau gen kita masukkan ke tanaman itu, ya, tanaman itu saja yang punya, tidak ke tanaman lain," jelas Witjaksono.
Dikerjakan sejak 2004, saat ini Witjaksono sudah berhasil membuat teknik regenerasi tanaman pisang dari sel meristem sebagai infrastruktur sebelum rekayasa epitop dari virus hepatitis B dimulai. Saat tahap lanjutan itu itu dimulai Witjaksono akan menyerahkan kendali tim kepada Amy Estiati dari Pusat Penelitian Bioteknologi di Cibinong yang pakar soal rekayasa gen.
Tapi, yang jelas, Witjaksono juga sudah menguji sistem yang diciptakannya itu dengan cara transformasi (memasukkan) gen percobaan berupa anti higromisin dan gas. Masing-masing gen itu berperan sebagai selektor dan penanda kalau tanaman pisangnya berhasil disusupi gen asing.
Masih butuh beberapa penyempurnaan memang, seperti menekan kejadian kimera atau ekspresi gen yang tidak merata di bonggol pisang yang diujinya. Tapi itu bukan kendala. Witjaksono yang sudah berpengalaman mengutak-atik sel tanaman jahe-jahean sampai alpukat itu menyanggupi membereskannya dalam 1-2 tahun ke depan.
Kini, bola justru berada di tangan Amy untuk melanjutkan cita-cita membuat pisang sebagai vaksin Hepatitis B. Menurut Amy, sampel epitop dari virus Hepatitis B sudah dimiliki anggota tim. Tapi, masalahnya, "Kami masih menunggu anggaran penelitiannya turun," katanya.
Begitu ada dana, penelitian lanjutan dengan merekayasa epitop itu agar bisa terekspresi dalam sel-sel tunas yang dikembangkan Witjaksono siap digulirkannya. "Pada tahun ketiga, kami sudah akan memiliki tanaman pisang mas yang baru," kata Amy.
(wuragil)




Komentar Anda :