Sampar 1918 Bangkit dari Kubur

Senin, 22 Januari 2007 | 17:12 WIB

TEMPO Interaktif, WINNIPEG:Tujuh ekor macaque di Kanada ini pasti menjadi monyet paling nahas di dunia. Mereka tinggal di Laboratorium Mikrobiologi Nasional Kanada di Winnipeg dengan tugas utama: diberi virus flu paling berbahaya yang dikenal manusia. Flu 1918 yang menewaskan 20-50 juta jiwa dalam setahun.

Para ahli mikrobiologi dari Universitas Wisconsin, Amerika Serikat, dan Dinas Kesehatan Masyarakat Kanada menghidupkan kembali virus maut dengan cara mirip pembuatan dinosaurus dalam film Jurassic Park.

Darwyn Kobasa, peneliti dari Dinas Kesehatan Masyarakat Kanada, yang memimpin riset terhadap monyet, mengatakan, "Riset ini memberikan sebagian jawaban penting masalah virus 1918, membantu kita bisa lebih memahami virus influenza, dan potensi mereka menciptakan sampar."

Jadi, setelah virus itu bisa dihidupkan kembali, mereka mencoba terhadap tikus percobaan. Reaksi pada tikus mirip seperti yang dilaporkan dalam catatan perawatan korban flu 1918. Tapi tikus bukan manusia, mungkin saja ada perbedaan. Tahap berikutnya diuji coba kepada makhluk yang mirip manusia: monyet.

Saat ini baru pada tahap bagaimana reaksi tubuh primata setelah terkena virus maut itu. Dalam sehari setelah virus diberikan, gejala mulai muncul. Virus itu tumbuh dengan cepat, begitu pula kekebalan tubuh para monyet.

Cairan kekebalan tubuh ini diproduksi dengan sangat berlebih sehingga akhirnya malah membanjiri paru-paru dengan cairan. Akibatnya korban tak ada bedanya dengan tenggelam di laut. Ia tidak bisa bernapas.

Tapi para ahli masih bingung bagaimana ia bisa tumbuh cepat. "Kami masih belum tahu bagaimana ini terjadi," kata Yoshihiro Kawaoka, pemimpin riset di Universitas Wisconsin, seperti dilaporkan jurnal Nature pekan lalu.

Dalam delapan hari, kondisi para monyet sudah sangat buruk dan mereka harus disuntik mati sebelum kian parah dan sekarat.

Analisis di Universitas Wisconsin di Madison menyebutkan salah satu komponen sistem kekebalan tubuh, yang disebut RIG-1, agaknya terlibat di sini. RIG-1 ini mestinya bertugas mengatur jumlah protein kekebalan tubuh agar pas dengan besar ancaman. Saat virus menyerang, jumlah RIG-1 lebih sedikit sehingga protein kekebalan tubuh beraksi tanpa kendali yang akhirnya membunuh tubuh sendiri.

Cara sampar 1918 ini mematikan mirip flu burung yang sedang menyerang dunia, termasuk Indonseia. "Kita melihat virus 1918 yang diinfeksikan kepada monyet sama dengan virus H5N1," kata Kawaoka.

Tentu saja ada bedanya. "Virus 1918 memang berbeda dengan jenis virus flu yang lain," kata Kawaoka. Perbedaan utamanya adalah: flu 1918 sangat cepat berpindah dari manusia satu ke manusia lainnya. Sedangkan flu burung relatif lambat.

Jika proses awal diketahui, Kawaoka berharap bisa mengetahui bagaimana proses pada awal infeksi terjadi sehingga sistem pengendalian pertahanan tubuh rusak. "Kita mungkin bisa masuk dan menghentikan reaksi itu," katanya.

Bukan hal mudah menghidupkan kembali virus flu 1918. Meski korban tewas mencapai puluhan juta jiwa, sulit mencari jaringan tubuh korban dengan baik. Ketika sampar melanda dunia pada 1918, virus belum dikenali. Butuh belasan tahun sebelum virus influenza diidentifikasi. Para ahli menggunakan korban flu yang dimakamkan di Alaska. Di wilayah dekat kutub itu, korban flu dimasukkan kulkas, badannya tak sepenuhnya rusak. Gennya masih bisa dilacak. Setelah virus jadi, nasib nahas menunggu tujuh ekor macaque.

nurkhoiri | bbc | nytimes | pbs | medicalnewstoday.com






Komentar Anda

Kirim