Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Japanese  
Mandarin  
Apa Itu RSS?
   

Mudik ala Ikan Karang
Senin, 22 Januari 2007 | 17:55 WIB

Arus laut bisa menghanyutkan larva ikan kecil jauh dari rumahnya. Namun, hidung ikan kecil ini ternyata bisa memandunya menemukan kembali terumbu karang tempat mereka dibesarkan.

Jelle Atema, ahli biologi sensorik di Boston University, dan Gabriele Gerlach dari Marine Biological Laboratory di Woods Hole, Massachusetts, Amerika Serikat, menganalisis unit gen kecil yang disebut marker mikrosatelit pada tiga spesies ikan karang, yaitu ikan cardinal, ikan berduri damsel, dan ikan neon neon damsel, yang hidup di lima terumbu karang di kawasan Great Barrier Reef, Australia.

Marker itu mengindikasikan ikan yang dapat kembali ke rumah karangnya bukan semata-mata beruntung menemukan karang yang tepat. Ikan cardinal, misalnya, memperlihatkan perbedaan genetik yang amat jelas antara satu terumbu karang dan yang lain.

"Meskipun larvanya tersebar di samudra luas, ada perbedaan yang jelas antarterumbu," kata Atema. "Mayoritas ikan itu harus mudik setiap generasi. Mereka yang pergi ke karang lain akan mati dan tidak bereproduksi."

Untuk mengetahui apa yang memandu ikan cardinal pulang, ilmuwan ini menempatkan larva ikan dalam saluran air yang berisi ceruk-ceruk sampel air yang diambil dari berbagai terumbu karang. Larva ikan lebih menyukai air dari terumbu karang rumahnya dan menghabiskan waktu lebih banyak di ceruk itu dibanding air dari terumbu karang tetangga.

Para peneliti menduga larva ikan ini mengendus bau familiar yang tersebar di dalam air untuk memandunya pulang. Cara ikan berusia tiga minggu ini mirip dengan manusia. "Satu-satunya perbedaan air, bukannya udara yang masuk ke organ penciuman, dan mereka mengendus bau yang larut di air," kata Atema.

livescience

Dari Arsip Majalah TEMPO
Kini Muncul Apollo | 29 Oktober 1977
Mengejar Harimau Di Laut Dan Darat | 29 Oktober 1977
Mengejar Harimau Di Laut Dan Darat | 29 Oktober 1977
"Susu Maut" Di Kisaran | 24 September 1977
"Susu Maut" Di Kisaran | 24 September 1977
Aman Dari Pukat Harimau | 12 Agustus 1978
Berbau Amis | 16 Oktober 1976
Menangkap Ikan Dengan Satelit | 14 Januari 1984
Manajer Gratis | 13 April 1985
Dari Tuna Ke Udang | 23 Agustus 1986
>>selengkapnya ::


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Pembunuh Mahasiswa Universitas Brawijaya Tertangkap
Sejumlah Pemerintah Daerah Larang Nelayan Melaut
Warga Karimunjawa Terancam Kelaparan
Badai Isobel Hentikan Aktivitas Penerbangan dan Pelayaran
Tim Singapura Fokuskan Pencarian Adam Air di Tiga Titik
Polisi Periksa Warga yang Mengaku Melihat Jatuhya Adam Air
Ahli Geologi Peringatkan Ancaman Longsor di Sumatera Barat
Ribuan Korban Longsor Mandailing Segera Direlokasi
Pemulangan Korban Kapal Senopati dengan Pesawat Udara
Seluruh Kapal Cepat Bakauheni-Merak Dilarang Beroperasi
> selengkapnya...

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk91740 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< January,2007>>
MSnSl RK JS
 01 02 03 04 05 06
07 08 09 10 11 12 13
14 15 16 17 18 19 20
21 22 23 24 25 26 27
28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data