Bencana Datang Bersama Hujan

Minggu, 11 Februari 2007 | 20:48 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Setiap musim hujan tiba, Supratman selalu dihantui ketakutan. Bukan banjir yang dia takuti, melainkan longsor. Warga Desa Karang Tengah, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu sudah beberapa hari mengungsi di balai desa karena takut terjadinya longsor susulan akibat tanah di beberapa wilayah desa retak dan ambles serta daerah perbukitan sudah gundul.

Bencana longsor yang hampir setiap tahun terjadi itu juga membuat Supratman kehilangan sawahnya, yang hancur diterjang longsoran. "Kami berharap hujan tak turun lagi. Kalau masih hujan, ancaman longsor menghantui kami," tuturnya.

Kabupaten Bogor bukanlah satu-satunya daerah rawan longsor. Lima kabupaten yang memiliki potensi longsor tinggi adalah Bandung, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, dan Cianjur.

Sebagian besar wilayah di provinsi Jawa Barat memang rentan terhadap bencana yang selalu datang bersama musim hujan itu. Karena kondisi tanah di daerah ini tersusun oleh material tanah yang tidak padat. "Tanahnya berasal dari pelapukan batu tufa dan batuan breksi vulkanik dari material gunung berapi berumur kuarter," kata Adrin Tohari, peneliti muda bidang geoteknik, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Data 2003-2005 menunjukkan hampir 70 persen peristiwa longsor terjadi di Jawa Barat dengan korban jiwa 166 orang. Namun, bukan berarti Jawa Tengah dan Jawa Timur bebas dari bencana ini. Sebab, kondisi tanahnya memiliki kesamaan sifat. Begitu juga beberapa daerah di Pulau Sumatera dan Sulawesi. Satu-satunya pulau yang relatif bebas longsor selama musim hujan adalah Kalimantan.

Sayangnya, sampai saat ini belum ada mekanisme untuk memprediksi terjadinya longsor. Sekarang ini baru bencana banjir yang dapat diprediksi, yaitu bila ketinggian air di daerah hulu melebihi batas normal. Padahal, sama dengan banjir, longsor juga amat ditentukan oleh tingginya curah hujan.

Berangkat dari gagasan untuk mencari sistem pemantau bahaya longsor yang efektif itu, Adrin dan beberapa rekannya di Pusat Penelitian Geoteknologi, Bandung, melakukan riset tentang mekanisme pemicu longsoran pada lereng tanah residual vulkanik. Terutama untuk mengetahui berapa curah hujan yang bisa mengakibatkan longsor dan potensi longsor suatu daerah.

"Curah hujan yang bisa mempengaruhi perubahan tekanan air pori adalah 100 milimeter," kata Adrin. "Tapi besarnya berbeda-beda di tiap tempat, bergantung pada jenis lapisan tanahnya. Dan di Pulau Jawa sebagian besar lapisan tanahnya adalah pelapukan batuan vulkanik muda."

Peneliti kelahiran Jakarta, 26 April 1970, itu memfokuskan penelitiannya untuk mempelajari respons tekanan air pori dalam tanah terhadap infiltrasi air hujan. "Air hujan bisa memicu longsor," katanya. "Infiltrasi air hujan menyebabkan perubahan tekanan air pori dari negatif menjadi positif, mengindikasikan kenaikan muka air tanah, sehingga kekuatan lapisan tanah berkurang."

Untuk penelitiannya itu, Adrin sengaja memilih lokasi di Cadas Pangeran, Sumedang, Jawa Barat. Daerah ini pernah diterjang longsor besar pada 2005, yang menutup jalan provinsi. Perbaikan telah dilakukan, tapi masih ada retakan di lereng yang merupakan gejala longsor.

Dalam riset yang berlangsung sejak Februari tahun ini, Adrin akan memasang sejumlah alat di Cadas Pangeran untuk mencatat tekanan air pori atau perubahan kadar air dalam tanah. Ada empat macam alat yang digunakan, yaitu tensiometer, thetaprobes, data logger, dan telemetri.

Tak kurang dari 24 jet-fill tensiometer akan ditanam pada kedalaman 0,5 meter, 1 meter, 1,5 meter, 2 meter, 2,5 meter, dan 3 meter untuk mengukur data tekanan air pori pada titik itu. Adrin juga memasang sembilan thetaprobes pada kedalaman 1 meter, 2 meter, dan 3 meter untuk mengukur data perubahan kondisi kadar air dalam tanah. Untuk mengukur data intensitas dan total hujan, dipasang alat takar hujan otomatis. Sebuah panel surya juga digunakan untuk pembangkit tenaga listrik bagi instrumentasi dan telemetri pengirim data.

Pengukuran data akan dilakukan secara real-time dengan waktu sampling 60 detik dalam kurun 12 bulan. Data ini akan mewakili periode musim hujan dan musim kemarau.

Nantinya, data pengukuran lapangan berupa perubahan tekanan air pori, kadar air dalam tanah, dan curah hujan akan disimpan dalam data logger. Data ini akan diambil seminggu sekali dan dikirim melalui jaringan GSM (global system for mobile communications) alias sistem telepon seluler ke stasiun pengolah data di Pusat Penelitian Geoteknologi di Bandung.

Data yang diperoleh akan dianalisis dengan peranti lunak untuk memodelkan mekanisme infiltrasi air hujan, perubahan tekanan air pori, serta perubahan faktor keamanan lereng terhadap karakteristik air hujan. "Hasil pemodelan ini akan memberikan informasi mekanisme yang memicu ketidakstabilan lereng di lokasi penelitian," kata Adrin. "Kondisi lereng tak stabil akan dicirikan oleh nilai faktor keamanan lebih kecil dari 1,25."

Peneliti yang dua kali menerima dana hibah untuk penelitian bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dari Indonesia Toray Science Foundation, Jepang, itu berharap kombinasi empat alat ini bisa dipakai untuk pengembangan sistem peringatan dini bahaya tanah longsor. "Dengan membaca tensiometer, bisa diketahui perubahan tekanan air pori dari negatif menjadi positif," kata doktor bidang geoteknik dari Okayama University, Jepang, itu. "Pada saat itulah warga harus waspada."

Namun, seperti Supratman, Adrin juga dihantui kekhawatiran. Bukan takut alat yang berharga Rp 300 juta tiap unitnya itu ambles diterjang longsor, melainkan Adrin cemas terjadi tindakan perusakan dan pencurian alat. "Saya lebih suka alat itu rusak karena longsor daripada rusak karena vandalisme," ujarnya.

tjandra dewi | deffan purnama






Komentar Anda

Kirim