close

Kembalinya Si Burung Hilang

Kamis, 08 Maret 2007 | 20:21 WIB

TEMPO Interaktif, BANGKOK:
Tak banyak yang diketahui tentang burung berkicau berparuh besar yang tinggal di alang-alang rawa itu karena dia tak pernah terlihat lagi sejak ditemukan di Lembah Sutlej, India, pada 1867. Saking langkanya, para ilmuwan harus berdebat panjang untuk memutuskan apakah burung ini bisa digolongkan sebagai jenis baru atau cuma individu yang menyimpang dari kelompok burung sejenis.

Debat ini akhirnya selesai setelah Philip Round, ornithologist alias pakar burung di Mahidol University, Bangkok, menangkap seekor burung itu pada 27 Maret 2006 di pusat pengolahan air limbah di pinggiran Bangkok. "Walaupun burung berkicau rawa umumnya tidak menari dan tampak sama semua, salah satu burung yang saya tangkap pagi ini mengejutkan saya karena tampak ganjil, sesuatu yang tidak nyambung," kata Round dalam pernyataan tertulisnya.

Dia mengatakan paruh burung itu lebih panjang daripada burung lainnya dan sayapnya yang pendek menarik perhatiannya. "Baru saya sadar, ada kemungkinan yang saya pegang adalah seekor burung paruh besar alang-alang," katanya.

Untuk mengkonfirmasikan penemuan besarnya ini, Round mengirimkan foto dan sampel DNA burung itu kepada Staffan Bensch dari Lund University, Swedia, karena dia pernah memeriksa spesimen burung langka sejenis dari India. Bensch memastikan bahwa burung itu sama dengan burung yang ditemukan di India.

Enam bulan setelah penemuan Round, diperoleh bukti bahwa burung berparuh besar ini adalah spesies yang unik. Sebelumnya, bukti itu terselip di laci museum.

Bukti berupa spesimen burung paruh besar kedua itu ditemukan dalam koleksi Natural History Museum di Tring, Inggris, dalam sebuah laci spesimen yang dikumpulkan di India pada abad ke-19. Spesimen burung itu ditangkap di Uttar Pradesh, India, pada 1869, dan Bensch telah melakukan identifikasi DNA burung itu.

"Menemukan burung paruh besar alang-alang setelah 139 tahun sangat luar biasa," kata Stuart Butchart, ahli burung dari BirdLife International.

Butchart dan pakar lainnya menyatakan penemuan dua burung, yang satu hidup dan satu lagi dalam bentuk awetan itu, telah membuka harapan burung sejenis ada kemungkinan bisa ditemukan di Myanmar, Bangladesh, atau wilayah Thailand lainnya. "Hampir tak ada yang kami ketahui tentang burung ini," kata Butchart.

Butchart menyatakan spesimen burung dari India itu memiliki sayap pendek bulat dan masih dipertimbangkan apakah burung itu memang tinggal di situ atau burung migran jarak pendek. "Sehingga penemuannya di Thailand amat mengejutkan," katanya. "Prioritas sekarang adalah menemukan di mana populasi utama burung itu tinggal, apakah kondisinya terancam, dan bagaimana menanggulanginya."

AFP

  • Share on Facebook
  • Print
  • Send

Komentar Anda :

Kirim Komentar

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan