Stok Darah Tak Habis Lagi

Selasa, 03 April 2007 | 12:30 WIB

TEMPO Interaktif, KOPENHAGEN:Keluarga almarhum Heru Cahyono, pasien demam berdarah di Rumah Sakit Umum Daerah Koja, Jakarta Utara, pernah merasakan betapa sulitnya memperoleh darah. Stok darah golongan A di PMI Pusat kosong sehingga mereka harus mencari donor dari teman, kerabat, bahkan tetangga. Namun, darah itu masih harus diproses lagi selama 12 jam. Akhirnya, anak bungsu berusia 24 tahun itu meninggal dunia karena tak juga memperoleh 10 kantong darah golongan A pada akhir Januari lalu.

Sebenarnya, setiap orang bisa menerima darah golongan O, tapi stoknya juga minim. Tapi dalam waktu yang tak terlalu lama lagi, barangkali kasus Heru tak perlu terulang dan pasien bisa menerima transfusi dari golongan darah apa pun karena semua antigennya dihilangkan.

Terobosan di bidang dunia kedokteran ini adalah hasil kerja tim gabungan beberapa negara penemu sederet enzim, yang secara efisien bisa mengubah golongan darah A, B, dan AB menjadi golongan O yang universal, dapat diberikan kepada pasien golongan darah apa saja.

Dua enzim glycosidase baru, yang terdapat dalam bakteri, ditemukan oleh sebuah tim internasional yang dipimpin Henrik Clausen dari University of Copenhagen di Denmark. Enzim pertama diperoleh dari sejenis bakteri saluran pencernaan, disebut Bacteroides fragilis, yang membuang antigen B. Enzim lainnya diambil dari Elizabethkingia meningosepticum, penyebab infeksi oportunistik pada manusia, yang mengincar antigen A.

Para ilmuwan berharap gabungan enzim itu akan memperbaiki suplai darah yang tak menentu di berbagai belahan dunia sekaligus keamanan transfusi darah. Uji klinis untuk mengetes keamanan dan kemanjuran perubahan darah ini sedang dipersiapkan.

Sistem golongan darah ABO didasarkan pada ada tidaknya antigen berbasis gula 'A' dan 'B' dalam sel darah merah. Sel darah golongan O tak punya antigen A maupun B sehingga kemungkinan besar aman ditransfusikan ke golongan darah apa saja. Tapi golongan darah A, B, dan AB memiliki salah satu bahkan kedua antigen itu serta bisa menimbulkan reaksi imun yang mematikan jika diberikan kepada pasien bergolongan darah berbeda.

Nah, enzim glycosidase bakteri temuan Clausen dan kawan-kawannya ini bisa memisahkan dan menyingkirkan antigen-antigen itu dari darah A, B, dan AB. Tanpa antigen, semua golongan darah itu menjadi serupa dengan darah golongan O.

Sebenarnya, gagasan untuk memisahkan antigen dari darah dirintis sejak awal 1980-an. Pada saat itu, satu tim di New York, Amerika Serikat, menemukan satu enzim dari biji kopi hijau yang bisa mengeluarkan antigen B dari sel darah merah.

Uji klinis tahap awal menunjukkan darah yang telah diubah ini dapat ditransfusikan dengan aman ke tubuh pasien pemilik golongan darah berbeda. Tak ada jejak enzim maupun antigen yang tersisa sehingga mengakibatkan reaksi imun. Sayangnya, reaksi enzim dari New York ini masih kurang efisien untuk pemisahan antigen skala besar.

Namun, riset Clausen, yang dilaporkan dalam jurnal ilmiah Nature Biotechnology terbaru, menunjukkan adanya enzim yang lebih kuat. Tim Clausen telah melakukan skrining terhadap 2.500 ekstrak dari berbagai bakteri dan jamur untuk melihat kemampuan mereka memisahkan antigen A dan B. "Keanekaragaman yang bisa Anda peroleh dalam kerajaan bakteri jauh lebih tinggi," kata Clausen.

Enzim bakteri 'B' temuan mereka itu 1.000 kali lebih efisien daripada enzim biji kopi B. Tak cuma enzim 'B', Clausen juga menemukan enzim untuk memisahkan antigen A sehingga semua golongan darah sekarang bisa diubah jadi O.

Memang golongan darah O adalah kelompok darah yang paling umum ditemui. Tapi stoknya amat minim karena sering digunakan dalam situasi darurat dan tak ada waktu untuk menentukan golongan darah pasien. "Kami selalu kekurangan darah golongan O," kata Richard Benjamin, pejabat medis American Red Cross di Washington DC.

Tekanan kebutuhan darah golongan O amat besar, terutama di Amerika Serikat, karena ketidakseimbangan antara donor dan penerima. Umumnya, donor di negara itu adalah ras Kaukasia dan 45 persen di antaranya bergolongan darah O. Namun, lebih dari separuh warga Afrika-Amerika dan sebagian besar penduduk aslinya berdarah golongan O sehingga kebutuhan darah golongan O amat tinggi.

Kelangkaan darah juga terjadi karena populasi donor terus menurun karena kekhawatiran berbagai penyakit infeksi baru yang ditularkan lewat transfusi, seperti SARS, penyakit sapi gila, dan Nil Barat. Penyakit itu berpindah dari kelompok donor yang telah tertular.

Martin Olsson, Kepala Lund University Hospital Blood Centre di Swedia, menyatakan kekhawatiran penularan penyakit infeksi ini membuat pemerintah sejumlah negara mengambil kebijakan berbeda-beda. Pemerintah Amerika, misalnya, melarang orang yang baru datang dari Eropa untuk menyumbangkan darahnya untuk mencegah kemungkinan mereka kontak dengan penyakit sapi gila (Bovine Spongiform Encephalopathy). Sebaliknya, negara Eropa melarang donor yang baru mengunjungi Amerika karena risiko tinggi terinfeksi HIV. "Pembatasan orang yang boleh menjadi donor itu cukup menggelikan," kata anggota tim internasional itu.

Dalam prakteknya, risiko terbesar dalam transfusi darah bukanlah penularan penyakit, melainkan kekeliruan mentransfusikan golongan darah yang salah. Kesalahan ini terjadi rata-rata satu kasus dalam 15 ribu transfusi. "Sebagai seorang dokter, saya melihat keuntungan terbesar teknologi enzim baru ini untuk menghapus insiden pemberian golongan darah yang salah," kata Olsson.

Pada saat ini, ZymeQuest, sebuah perusahaan yang berpusat di Boston, tengah mengembangkan teknologi enzim itu untuk tujuan komersial di pusat suplai darah. Uji klinis tahap awal sedang berlangsung. Jika semua berjalan lancar, berbagai pusat darah, seperti PMI Pusat yang selalu kekurangan stok, bisa menggunakan teknologi itu dalam beberapa tahun lagi.

TJANDRA DEWI| IBNU RUSYDI |nature | newscientist






Komentar Anda

Kirim