Pesawat Sel Bakar Georgia Tech
Rabu, 11 April 2007 | 16:38 WIB
TEMPO Interaktif, Atlanta:
Pesawat foto udara yang digunakan Georgia Tech adalah pesawat terbesar yang berhasil diterbangkan menggunakan sebuah sel bakar membran pertukaran proton (PEM) bertenaga hidrogen yang dimampatkan. Dibanding riset kelompok lain yang menggunakan pesawat kecil atau hidrogen cair, pesawat ini lebih unggul karena bisa memakai hidrogen termampatkan.
"Hidrogen yang dimampatkan, yang digunakan industri otomotif, lebih murah dan mudah digunakan sehingga mudah dikomersialkan," kata Tom Bradley, mahasiswa teknik mesin di Georgia Tech.
Deputi Direktur Georgia Tech Research Institute David Parekh yang mengepalai proyek itu ingin mengembangkan sebuah kendaraan berteknologi sel bakar yang bisa menarik minat industri. Walaupun industri otomotif telah menggunakan sel bakar, pengaruhnya amat kecil terhadap penerapan teknologi tersebut pada pesawat terbang.
"Pesawat sel bakar lebih menarik dibanding demonstrasi laboratorium atau sistem bahan bakar untuk kebutuhan sebuah rumah," kata Parekh. "Pesawat juga lebih dibutuhkan karena mendorong semua batasan untuk daya tahan, kekukuhan, densitas tenaga, dan efisiensi."
Sel bakar memang layak dipromosikan sebagai sumber energi. Sel bakar yang menghasilkan arus listrik ketika mengubah hidrogen dan oksigen menjadi air itu memiliki densitas energi yang tinggi. Makin tinggi densitas energi berarti semakin lama daya tahannya.
Pesawat tanpa awak berteknologi sel bakar ini memiliki beberapa keunggulan dibanding pesawat biasa. Pesawat ini tidak mengeluarkan polusi dan tidak memerlukan generator cadangan untuk menghasilkan listrik bagi komponen elektronik lain. "Tambahan lagi, sel bakar beroperasi pada suhu ambient, sama dengan sekitarnya, sehingga sedikit mengeluarkan tanda panas dan sulit terlacak sinyal pencari panas," kata Bradley.
Sayangnya, sistem sel bakar yang dipakai untuk mendorong pesawat dengan rentang sayap 6,7 meter ini hanya berkekuatan 500 watt sehingga tak bisa digunakan untuk sistem penggerak pesawat penumpang komersial. "Tenaga yang amat besar untuk menyalakan lampu, tapi tidak untuk pesawat sebesar ini," kata Adam Broughton, insinyur yang terlibat dalam proyek Aerospace Systems Design Laboratory di institut itu.
tjandra | gtresearch





