Gempa Hancurkan Terumbu Karang Simeulue
Minggu, 15 April 2007 | 17:27 WIB
TEMPO Interaktif, Bangkok:
Gempa besar di pesisir Sumatera pada 2005 menyebabkan kematian terumbu karang terbesar yang pernah tercatat. Akhir pekan lalu, ilmuwan dari Wildlife Conservation Society menyatakan kematian itu terjadi akibat Pulau Simeulue terangkat hampir 1,2 meter dari permukaan air laut.
Para ilmuwan yang memantau pulau itu dalam beberapa pekan terakhir menemukan terumbu karang yang tumbuh di pesisir sepanjang 306 kilometer tersebut terangkat ke permukaan akibat gempa. "Skalanya amat luar biasa," kata Andrew Baird, ilmuwan yang turut ambil bagian dalam survei lembaga konservasi itu. "Koral yang tersingkap ada di mana-mana."
Di beberapa titik sepanjang pantai, terumbu karang bisa terlihat dari jarak hanya beberapa meter dari bibir pantai sampai 500 meter ke arah laut. Tersingkapnya terumbu karang ini juga menyebabkan hancurnya banyak kehidupan laut yang lain karena koral adalah tempat tinggal berbagai jenis ikan dan binatang laut lainnya. "Beberapa spesies bahkan tak ditemukan lagi di sejumlah tempat," kata Baird, anggota Australian Research Council Centre of Excellence for Coral Reef.
Gempa bumi 8,7 skala magnitudo itu juga mengguncang Pulau Nias dan Banyak, menewaskan lebih dari 900 orang, serta ribuan orang kehilangan tempat tinggal.
Baird mengatakan terumbu karang yang tersingkap ini adalah kerugian yang amat besar. Wilayah yang sebelumnya terendam air ini akan menjadi hutan pantai. Sedangkan bagian karang yang masih berada di bawah permukaan air akan tetap hidup dan tumbuh kembali selama warga setempat melindungi binatang laut kecil yang rapuh itu.
Namun, secara keseluruhan, menurut Stuart Campbell, koordinator Program Kelautan Indonesia di Wildlife Conservation Society, berita kerusakan terumbu karang di Simeulue ini tidak terlalu buruk. Di beberapa tempat, spesies yang paling dipengaruhi kematian terumbu itu mulai membentuk koloni baru di terumbu yang masih hidup. "Terumbu karang itu tampaknya kembali ke bentuknya semula sebelum gempa meskipun proses ini perlu waktu bertahun-tahun," kata Campbell.
Baird mengatakan penemuan mereka ini membawa harapan bagi penduduk Kepulauan Solomon yang cemas atas kerusakan terumbu karangnya akibat gempa dan tsunami pada 2 April lalu. Kerusakan itu bisa membawa dampak buruk bagi industri penyelamannya. "Mereka tak perlu khawatir akan kehilangan industri penyelamannya," kata Baird. "Ikan yang menjadi sasaran mereka masih ada di sana."
Baird mengatakan semua kehidupan laut yang masih berada di dalam air akan tetap hidup. "Terumbu karang bisa menanggulangi peristiwa yang amat merusak ini," katanya. "Mereka sanggup melaluinya selama ada terumbu karang yang masih hidup di situ."
Pakar terumbu karang Australia, Clive Wilkinson, mengatakan kerusakan karang di Pulau Simeulue telah diperkirakan sebelumnya, mengingat pengangkatan pulau yang terjadi dan besarnya gempa. "Hal ini telah terjadi selama jutaan tahun," kata Wilkinson. "Hal ini adalah bagian dari proses evolusi terumbu karang secara alami. Sebenarnya banyak pulau di Samudra Pasifik berasal dari terumbu karang yang terangkat ke permukaan. Ini sesuatu yang alami pada gugus karang."
AP
Topik :




Komentar Anda :