Pembentukan Forum Radar Nasional

Kamis, 19 April 2007 | 19:57 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Sistem radar yang mampu merekam data penerbangan di wilayah udara nasional selama seribu hari itu adalah hasil integrasi yang dilakukan pakar lulusan Institut Teknologi Sepuluh Nopember. "Jadi, kalau ada peneliti atau lembaga nasional yang bisa mengembangkan radar, pasti kami akan gunakan karena banyak kebutuhan," kata Eris saat berbicara dalam Seminar Radar Nasional di gedung Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kemarin.

Eris menyatakan saat ini Kohanudnas hanya memiliki 17 radar, 50 persen dari jumlah ideal untuk memantau seluruh wilayah udara Indonesia sampai negara tetangga. "Sekarang masih ada celah yang tak dapat dipantau radar kami," katanya. "Kami masih membutuhkan radar filler atau passive radar yang bisa menangkap sinyal pesawat stealth sekalipun."

Eris mengatakan saat ini hampir semua amunisi kecil dan senjata perorangan militer adalah produksi dalam negeri. "Alangkah senangnya kalau radar yang jadi tulang punggung kami bisa menggunakan produksi dalam negeri," ujarnya.

Radar buatan luar negeri yang selama ini digunakan TNI AU sangat mahal. Eris menuturkan TNI AU sedang mengupayakan pengadaan radar untuk menutup wilayah udara nasional sampai 2024 dan harga satu unit radar yang dibutuhkan bernilai Rp 227,3 miliar.

Radar produksi nasional juga punya nilai tambah karena menyediakan tingkat kerahasiaan lebih tinggi dibanding radar impor. Saat ini, selain suku cadang yang sulit diperoleh dalam waktu singkat, tingkat kerahasiaan radar kurang karena negara pembuat mengetahui frekuensi yang dipakai alat itu. "Kalau bermasalah dengan negara sekutu, dia bisa mengetahui frekuensi itu dari negara pembuatnya," kata Eris.

Staf Ahli Menteri Negara Riset dan Teknologi Richard Mengko menyatakan kemajuan dan pemanfaatan teknologi radar di bidang nonmiliter juga semakin luas. Beberapa kecelakaan pesawat udara dan keterbatasan radar untuk transportasi udara yang tak bisa bekerja optimal lagi adalah pelajaran untuk membenahi bidang itu. "Keinginan bersama untuk meningkatkan kerja sama dengan lembaga penelitian dan pengembangan serta perguruan tinggi, juga industri pendukung, semakin penting diwujudkan," katanya.

Pada saat ini, lalu lintas pesawat yang terbang di wilayah nasional mencapai 2.000-3.000 pesawat per hari. Jumlah itu memang belum seberapa dibandingkan dengan kepadatan lalu lintas penerbangan komersial di Amerika Serikat, yang mencapai 54 ribu setiap hari. Total lalu lintas penerbangan di udara Amerika mencapai hampir setengah juta setiap hari.

Masbah Siregar, Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Teknik LIPI, menyatakan tuntutan kebutuhan radar di Indonesia saat ini tak bisa ditunda lagi. "Radar sangat penting karena tak hanya menyangkut ketahanan, tapi juga keselamatan," katanya. "Banyak masalah nasional yang terkait dengan aplikasi radar, contohnya keselamatan transportasi laut, udara, dan cuaca."

Berangkat dari kebutuhan itu, para pakar, pengguna, dan peneliti radar sepakat membentuk suatu wadah nasional sebagai sarana sosialisasi dan forum pertukaran informasi. "Wadah Asosiasi Radar Indonesia atau Ikatan Ahli Radar Indonesia diharapkan bisa membantu pemerintah dalam permasalahan radar di Indonesia," kata Yuyu Wahyu, ketua panitia seminar.

Yuyu mengatakan sasaran diadakannya seminar itu adalah memetakan kemampuan dan kebutuhan bidang radar secara nasional serta penyusunan program penelitian dan pengembangan radar yang terintegrasi secara nasional. Dia berharap pertemuan para pakar, pengguna, dan peneliti radar itu juga bisa mengidentifikasi bidang ilmu dan teknologi yang strategis serta harus segera dilakukan demi meningkatkan kemandirian dan keunggulan pengembangan radar.

tjandra dewi






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: