Kremasi Buruk Bagi Lingkungan

Jum'at, 20 April 2007 | 00:20 WIB

TEMPO Interaktif, Sydney:
Tradisi membakar mayat (kremasi) ternyata menjadi salah satu penyebab terjadinya pemanasan global. Profesor Biologi Reproduksi dari Universitas Melbourne, Roger Short, menyarankan orang-orang untuk menguburkan saja jenazah keluarga mereka di bawah pohon, sebab itu lebih bermanfaat bagi lingkungan.

Short mengatakan pembusukan jenazah di dalam tanah bermanfaat karena akan menyediakan nutrisi bagi pepohona yang akan membantu mengatasi masalah karbondioksida, mengubahnya menjadi oksigen yang bermanfaat bagi kehidupan.

Adapun pada saat jenazah dikremasi, itu sama saja dengan melepaskan tubuh ke angkasa dalam bentuk karbondioksida. “Mengapa harus membuang karbondioksida pada saat kematian Anda?” katanya di Sydney kemarin.

Pada proses kremasi seorang lelaki dewasa, tubuhnya dibakar pada suhu 850 derajat celcius. Proses pembakaran selama 90 menit ini menghasilkan 50 kilogram karbondioksida. Ini belum termasuk karbon pada emisi pembakaran dan peti mati.

Kadar pencemaran itu memang jauh lebih kecil. Short pun tak bermaksud mencegah orang memilih dengan cara apa jenazah mereka ditangani. Tapi menguburkan jenazah di alam, bukanlah ide buruk untuk menjadikan tubuh seseorang sebagai “makanan” bagi lingkungan.

Kremasi di negara-negara
Inggris: 70 persen
Kanada: 63 persen
Australia: 55 persen
Amerika Serikat: 30 persen
Indonesia: 10 persen

Polusi akibat kremasi
nitrogenoksida
karbonmonoksida
sulfurdioksida
mercuri
hidrogen fluorida
hidrogen klorida
logam berat

AFP | BBC | PR | WIKIPEDIA | DEDDY SINAGA

Topik :

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :