Tertinggal dari Negara Lain
Jum'at, 20 April 2007 | 03:06 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Banyak tumbuhan yang telah diisolasi dan diidentifikasi menunjukkan aktivitas antijamurnya. Misalnya aktivitas antijamur tanaman obat India Selatan, minyak esensial Hyssop, terhadap jamur patogen tanaman Pyrenophora avenae dan Pyricularia oryzae. Peneliti Iran juga memperlihatkan khasiat sejumlah tanaman obat yang biasa digunakan masyarakatnya untuk menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans.
Ekstrak Ailanthus excelsa juga menunjukkan aktivitas antijamur yang kuat terhadap jamur Aspergillus niger, A. fumigatus, Penicillium frequentence, P. notatum, dan Botrytis cinerea. Tanaman dragon's blood juga dilaporkan berpotensi membasmi jamur Tricophyton tonsurans, T. mentagrophytes, T. rubrum, Microsporum canis, dan Epidermophyton floccossum.
Dalam riset terdahulunya, Irawan menemukan aktivitas antijamur angsana dan Cryptomeria japonica terhadap beberapa jenis jamur patogen tumbuhan dan jamur penyebab pelapukan kayu.
Irawan menuturkan saat ini ada beberapa ilmuwan Indonesia yang sama-sama melakukan riset untuk mencari bahan aktif dari tumbuhan. "Tapi biasanya untuk antibakteri, antivirus, antikanker, atau teknologi pangan, jarang yang meneliti aktivitas antijamur," katanya.
Umumnya, riset tentang aktivitas bahan alami ini masih terbatas pada inventarisasi informasi dari masyarakat setempat tentang penggunaan berbagai tanaman dan pohon. "Upaya untuk pembuktian ilmiahnya masih menjadi tantangan," kata Irawan. "Informasi pengembangan bahan antijamur juga amat terbatas."
Berdasarkan publikasi paten di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, kata Irawan, sejauh ini tak ada informasi bahan antijamur dari pohon dan tanaman Indonesia. "Kami menemukan laporan tentang penggunaan bahan sintetis untuk mengawetkan kayu, rotan, dan hasil hutan lain," ujarnya. "Tapi tak ada investigasi aktivitas antijamur alami untuk makanan, cat, ataupun industri medis."
tjandra




Komentar Anda :