Mewujudkan Mimpi di Selat Bering
Kamis, 26 April 2007 | 09:22 WIB
TEMPO Interaktif, Moscow:
Rusia berencana membangun terowongan bawah laut terpanjang di dunia. Terowongan ini akan melintas di bawah Selat Bering, yang menghubungkan Siberia di Rusia dan Alaska di Amerika Utara.
Terowongan yang diusulkan bernama TKM-World Link itu rencananya membentang sepanjang 103 kilometer. Panjangnya dua kali lipat dari terowongan bawah air Channel, yang menghubungkan Inggris dan Eropa daratan (50 kilometer). Terowongan ini jauh lebih panjang dibandingkan dengan rencana terowongan Selat Gibraltar, yang menghubungkan Eropa dan Afrika (40 kilometer).
Terowongan akan mengular dari Provinsi Chukotka, yang dipimpin Gubernur Roman Abramovich, miliarder pemilik klub sepak bola Chelsea. Terowongan itu akan muncul di permukaan, yakni di Pulau Diomede Besar dan Diomede Kecil. Muaranya ada di Tanjung Prince of Wales di Alaska.
Di dalam terowongan tersebut, akan tersedia jalur rel kereta api kecepatan tinggi, jalan tol, pipa gas dan minyak bumi, serta kabel-kabel serat optik.
Jalur kereta api akan tersambung dengan rel sepanjang 3.500 kilometer, yang mengular dari Pravaya Lena, di selatan Yakutsk; Republik Sakha; hingga menuju Uelen di Selat Bering.
Adapun di Amerika Utara, rel itu akan bersambung dengan jalur sepanjang 2.000 kilometer yang membentang dari Tanjung Prince of Wales di Alaska bagian barat ke Fort Nelson, British Columbia, Kanada.
Proyek raksasa ini diprediksi akan menelan biaya US$ 65 miliar, yang akan ditanggung bersama antara pemerintah Rusia, Kanada, dan Amerika Serikat. Viktor Razbegin, Deputi Kepala Riset Industri di Kementerian Ekonomi Rusia, mengatakan pembangunannya diperkirakan bakal memakan waktu 10-15 tahun.
Razbegin mengatakan, dengan adanya terowongan tersebut, jalur transportasi antara kedua benua akan terhubung. Demikian pula komoditas seperti minyak bumi, gas alam, dan listrik dari Siberia, bisa diekspor langsung ke Amerika dan Kanada. Kawasan Siberia yang dingin itu pun tak akan terisolasi lagi.
Maxim Bystrov, Deputi Kepala Badan Kawasan Ekonomi Khusus Rusia, mengatakan proyek tersebut akan dikerjakan dan diawasi oleh organisasi pemerintah serta perusahaan swasta. "Ini proyek bisnis, sama sekali tak ada kaitannya dengan politik," kata dia.
Razbegin menambahkan, pekan depan pemerintah Rusia, Amerika Serikat, dan Kanada akan bertemu untuk membahas proyek tersebut. Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia telah mempersiapkan sebuah proposal yang berisi rancangan teknis proyek itu.
Konstruksi terowongan akan menelan biaya US$ 10-12 miliar. Pemerintah yang terlibat akan menanggung masing-masing 25 persen dari modal, sisanya berasal dari swasta dan badan keuangan internasional. "Pemerintah (Rusia) akan bertindak sebagai penjamin modal swasta," kata Razbegin.
Investor Rusia yang telah menyatakan minatnya untuk terlibat dalam proyek itu adalah perusahaan kereta api Rusia, perusahaan energi Unified Energy Systems, dan operator pipa Transneft.
Vasily Zubakin, Deputi Kepala Kantor Eksekutif Hydro, unit pembangkit tenaga air dari Unified Energy System, mengatakan adanya terowongan tersebut akan menghemat biaya tahunan yang dikeluarkan Amerika Utara dan Rusia untuk energi listrik. Nilai penghematannya mencapai US$ 20 miliar per tahun. "Biayanya lebih murah mengirimkan listrik ke timur," kata dia.
Sebagai pendukung, Hydro akan membangun pembangkit listrik tenaga pasang Tugurskaya dan Pendzhinskaya di Laut Okhotsk, dekat Pulau Sakhalin, pada 2020. Masing-masing berkapasitas maksimal 10 gigawatt.
Adapun perusahaan kereta api Rusia kini sedang mengerjakan jalur kereta dari Pravaya Lena, di Republik Sakha, menuju Uelen di Selat Bering, membentang sejauh 3.500 kilometer. Wakil Presiden Sakha Artur Alexeyev mengatakan jaringan ini akan mengangkut komoditas dari Siberia bagian timur dan Sakha ke pasar ekspor di Amerika Utara.
Siberia bagian timur dan Sakha, kata Alexeyev, adalah penghasil logam dan mineral di Rusia. "Namun, hanya 1,5 persen yang tergali lantaran minimnya infrastruktur dan kondisi yang sulit," katanya.
Alexeyev mengatakan, bila jalur rel itu bisa menampung lalu lintas 100 juta ton kargo per tahun, proyek itu akan balik modal 20 tahun lagi.
Tapi nada skeptis pun bermunculan. Salah satunya dari Yevgeny Nadorshin, salah satu bos di Bank Trust Investment di Moskow. Menurut dia, lebih baik Siberia membangun pelabuhan laut dan jalur darat ke Cina, yang ekonominya sedang berkembang. "Semua tahu Amerika tak ingin menjadikan Alaska sebagai pusat transportasinya," kata Nadorshin.
Sergei Grigoryev, Wakil Presiden Transneft, malah mengaku belum mendengar perihal proyek tersebut. Lainnya juga sependapat dengan Nadorshin, yang menilai lebih menguntungkan membidik pasar raksasa di Cina karena lebih dekat jaraknya daripada Alaska.
Gary Lunn, Menteri Sumber Daya Alam Kanada, pun tak tahu adanya rencana tersebut. Demikian pula Brooke Grantham dari Kementerian Luar Negeri Kanada, yang mengatakan proyek itu bahkan tak dibahas dalam pertemuan tingkat tinggi antara Kanada dan Rusia di Ottawa, Maret lalu.
Pengamat energi Eropa, Derek Brower, menilai proyek itu tak masuk akal karena sumber gas dan minyak Rusia berada ribuan kilometer dari Selat Bering. Dia menilai proyek itu hanya akal-akalan Rusia untuk menakut-nakuti negara-negara Eropa, yang bermaksud mengurangi ketergantungan mereka terhadap pasokan gas dari Rusia.
DEDDY SINAGA | AP | GULFTIMES | THEREGISTER | TIMESONLINE | HERALRDTRIBUNE | KRTDIRECT | VANCOUVERSUN
Topik :




Komentar Anda :