Berjalan Tegak di Atas Pohon
Selasa, 05 Juni 2007 | 16:43 WIB
TEMPO Interaktif, WASHINGTON: Berjalan tegak dengan kedua kaki (bipedalisme) mungkin bukan ciri khas yang membedakan manusia dari primata lainnya. Sebuah studi cara berjalan orang utan di puncak pepohonan memberi gagasan bahwa nenek moyang manusia ada kemungkinan pertama kali berdiri tegak di atas pohon.
Studi peneliti Inggris itu menyatakan karakteristik tersebut bisa jadi berkembang pada kera purba yang hidup berpindah di puncak pohon, jauh sebelum nenek moyang kita turun ke tanah. Hipotesis itu lahir dari riset setahun penuh dengan memotret orang utan di hutan hujan Sumatera.
Ilmuwan Robin Crompton dari University of Liverpool, Inggris, dan timnya mengumpulkan hampir 3.000 observasi tentang cara orang utan liar berpindah di hutan Taman nasional Gunung Leuser, Sumatera. Dia juga mencatat diameter dahan yang dilewati primata itu ketika bergerak. Orang utan menghabiskan lebih banyak waktu di atas pohon dibanding primata besar lainnya.
Terbukti, gerakan bipedal dengan bantuan tangan lebih sering dilakukan ketika binatang itu berjalan pada dahan ramping yang mudah bengkok. Hasil riset itu dilaporkan dalam jurnal Science.
Hal itu menunjukkan manfaat bipedalisme. "Bagi binatang pemakan buah, banyak dorongan untuk mencapai tepian pohon, bagian cabang pohon yang paling kecil, karena di sanalah buah-buahan berada. "Jika Anda punya satu tangan yang bebas ketika Anda berada di sana, hal itu menguntungkan," kata Crompton.
Hipotesis itu jelas menimbulkan kontradiksi di kalangan pakar antropologi dunia. Tapi Crompton berkeras hipotesis itu justru lebih selaras dengan temuan fosil.
Crompton menyatakan makin banyak orang yang mempertanyakan gagasan "bangun dari kera" tentang bagaimana bipedalisme berkembang. Penjelasan yang paling populer adalah adanya makhluk mirip simpanse yang menyeret buku jarinya di tanah turun dari pohon ke rerumputan dan secara bertahap berjalan tegak seperti manusia modern.
Data iklim dan fosil seperti Lucy (Australopithecus afarensis) menunjukkan bahwa nenek moyang manusia awal tinggal lama di hutan dan bisa bergerak dengan dua atau empat kaki.
Orang utan memperlihatkan ciri itu. Memang ia sering berayun seperti terlihat di kebun binatang. Namun, kata Crompton, sebenarnya kerabat terdekat manusia secara genetika ini bisa berjalan seperti manusia.
Susannah Thorpe dan Roger Holder dari University of Birmingham, Inggris, mencatat orang utan berdiri tegak di atas kakinya, mirip manusia, ketika bergerak ke cabang kecil. Di dahan besar dan kuat, ia berjalan dengan tangan dan kaki.
Hal itu bisa dilakukan karena orang utan punya jari-jari kaki yang panjang untuk menggenggam dahan kecil dan bertahan, menyeimbangkan diri dengan satu lengan di atas kepalanya, sedangkan tangan lainnya mengambil makanan.
Keuntungan lain adalah bisa menggapai cabang pohon lain yang terdekat dengan satu tangan dan menyeberanginya tanpa perlu turun dari pohon. "Ini argumen yang bagus untuk menjelaskan mengapa postur tubuh tegak dipilih untuk di atas pohon," ujar antropolog Daniel Lieberman dari Harvard University di Cambridge, Massachusetts.
Temuan ini diharapkan bisa menjawab bagaimana manusia bisa berjalan dengan dua kaki. Selama ini pertanyaan itu telah menjadi teka-teki besar di kalangan antropolog. Amat sulit menentukan mana yang pertama kali muncul: hidup di atas tanah atau berjalan dengan dua kaki.
Masalah yang orang utan hadapi adalah menemukan sebuah keuntungan evolusioner untuk berdiri tegak. Evolusi memerlukan alasan atas munculnya keahlian khusus semacam itu.
Ada berbagai dugaan, misalnya berdiri memperkecil kemungkinan kulit terbakar sinar matahari di tengah padang rumput terbuka. Namun, gagasan itu dicoret karena nenek moyang primata kita ada kemungkinan menghabiskan sebagian besar waktunya di bawah bayang-bayang hutan yang sejuk.
Riset tim Inggris dianggap bisa memperlihatkan adanya manfaat yang bisa dipetik makhluk penghuni pohon dengan posisi berdiri tegak. "Penelitian ini menjadi kasus terkuat bahwa bipedalisme bisa jadi berkembang secara arboreal," kata Dennis Bramble, peneliti yang mempelajari pergerakan binatang di University of Utah di Salt Lake City, Amerika Serikat.
Thorpe juga membandingkan cara orang utan berjalan di puncak pohon itu dengan gaya berjalan atlet dengan kaki lurus di lintasan. Membengkokkan lutut membuat otot kaki bekerja lebih keras. Jongkok lebih masuk akal bagi simpanse dan gorila, yang mengembangkan tangan bawah lebih kuat ketika memanjat dan menuruni pohon besar.
Tapi tidak bagi orang utan yang bertangan lebih kecil karena menghabiskan sepanjang hari di atas pohon untuk menghindari harimau. "Dari segi energi, hal itu lebih ekonomis bagi orang utan untuk makan dan bergerak di atas ranting-ranting melengkung menggunakan bipedalisme," katanya.
Pakar evolusi lainnya memuji riset itu, tapi keraguan tetap mengganjal. Will Harcourt-Smith dari American Museum of Natural History di New York, misalnya, mempertanyakan mengapa simpanse kehilangan kemampuan bipedalisme, sedangkan kerabatnya, yang akhirnya menjadi manusia, itu bisa mempertahankannya. Harcourt-Smith percaya kemampuan berjalan tegak itu berkembang secara bertahap, tidak muncul secara tiba-tiba.
Chris Stringer, paleontolog di Natural History Museum, London, menyatakan ide bipedalisme berawal di atas pohon sebenarnya bukan barang baru. Namun, riset tiga peneliti Inggris itu menawarkan data observasi terbaik bipedalisme dengan bantuan tangan pada orang utan. Studi itu juga menunjukkan implikasi yang paling memungkinkan bagi evolusi bipedalisme manusia.
Seluruh bukti fosil menunjukkan nenek moyang manusia tinggal di hutan, bukan di tempat terbuka. "Sehingga bipedalisme arboreal adalah mekanisme yang paling masuk akal," ujar Stringer.
Paul O'Higgins dari Unit Evolusi dan Morfologi Fungsional University of York, Inggris, mengatakan penemuan ini mempersulit upaya mencari ciri unik pada garis leluhur manusia. "Jika bipedalisme lutut dan pinggul panjang memang muncul pada jutaan tahun lalu, hal ini membuat tugas identifikasi siapa nenek moyang manusia akan lebih sulit," ujarnya.
Di luar hasil observasinya, Crompton menyatakan ada bukti fosil yang lebih menggoda tentang asal-muasal bipedalisme. "Orang utan adalah satu-satunya kera yang memiliki sendi lutut mirip dengan manusia," katanya.
tjandra dewi | AP | nature | sciencedaily | newscientist




Komentar Anda :