Menimang Si Raja Laut

Rabu, 13 Juni 2007 | 18:45 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta: Mata kail sepanjang 12 sentimeter itu masih mengait di rahang ikan Coelacanth yang tergolek beku di lemari beku bertemperatur minus 30 derajat Celsius. Kail yang dipasangi umpan ikan malalugis atau ikan layang (Decapterus macarellus) itu tanpa sengaja justru dilahap ikan yang dianggap fosil hidup tersebut.

Ketidaksengajaan nelayan lokal Justinus Lahama dan putranya, Delfi, menangkap Raja Laut, nama yang diberikan nelayan Manado untuk ikan itu, menimbulkan kehebohan besar. Apalagi Menteri Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi tengah berkunjung ke Manado.

Ikan yang semula hendak dimasak untuk lauk makan siang itu pun diboyong ke kolam sebuah restoran agar tetap hidup. Sayang, upaya itu gagal dan Coelacanth mati setelah 17 jam tertangkap.

Biarpun sudah menjadi bangkai, nilai ikan itu amat penting karena ia tertangkap lagi setelah 9 tahun, sampai-sampai Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Sarundajang turun tangan langsung memerintahkan pemindahan ikan itu ke lemari pendingin. Ikan itu dibalut plastik tembus pandang agar tidak membusuk sampai para pakar meneliti dan mengawetkannya.

Akhir Mei lalu, para pakar dari berbagai disiplin ilmu dikumpulkan di Sekretariat World Ocean Conference 2009, Kantor Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Sulawesi Utara. Mereka berasal dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Riset Kelautan dan Perikanan Departemen Kelautan dan Perikanan, Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Universitas Negeri Manado, Fakultas Perikanan dan Kelautan Institut Pertanian Bogor, Fukushima Aqua Marine, Jepang, serta peneliti dari Prancis.

Para pakar--mulai dari ahli ichthyology (ikan), biologi laut, sampai ahli kimia, biologi, mikrobiologi, dan anatomi otak--itu bertemu untuk membicarakan tindakan apa yang harus dilakukan terhadap spesimen Coelacanth tersebut. Dalam rapat yang berlangsung hingga petang itu, diperoleh beberapa kesepakatan, baik menyangkut penelitian maupun langkah konservasi ikan itu.

Rapat juga menunjuk Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unsrat Alex Masengi sebagai koordinator otoritas ilmiah dan bertugas membuat protokol penelitian ikan langka itu. "Steering committee memutuskan spesimen ikan raja laut tetap menjadi milik pemerintah Provinsi Sulawesi Utara," kata Alex. "Tapi spesimen itu bisa dipinjam oleh siapa pun dan harus menandatangani nota kesepahaman dengan pemerintah provinsi."

Meski menetapkan bangkai ikan itu sebagai milik pemerintah setempat, upaya pengawetan akan tetap berkoordinasi dengan Museum Zoologi LIPI di Cibinong. Roy Pangalila, staf WWF Indonesia Marine Program, menyatakan dalam rapat itu dibicarakan kemungkinan status ikan tersebut tercatat dalam katalog museum, tapi tetap milik pemerintah provinsi.

Pengawetan ikan laut dalam itu menjadi masalah besar karena ongkosnya amat mahal. Sang ikan harus direndam terlebih dulu dalam cairan formalin. Setelah 3 pekan sampai 1 bulan, cairan pengawet itu dibuang dan diganti dengan alkohol.

"Untuk mengawetkan ikan ini perlu setidaknya 8 drum alkohol," kata Mohammad Kasim Moosa, ahli peneliti utama biologi laut LIPI. "Bayangkan, 1 liter alkohol kan Rp 30 ribu di Jakarta, satu drum Rp 6 juta. Mahal itu. Sedikitnya Rp 48 juta untuk pengawetan seperti di Cibinong. Belum lagi kontainer kaca setebal minimal 1 sentimeter."

Meski dihadang persoalan dana, Alex menyatakan sama sekali tidak khawatir. "Kami sudah banyak dukungan dari Jakarta dan negara donor," katanya. "Jepang sudah siap. Kalau kami tidak mampu, mereka akan menanggungnya."

Penelitian terhadap spesimen itu direncanakan bakal dilakukan pekan mendatang, 24-27 Juni 2007. Mereka masih menunggu berapa peralatan dan pakar yang didatangkan dari Jepang. Perlakuan khusus ini sengaja dilakukan karena ikan yang tertangkap pada 19 Mei lalu itu diduga tengah hamil dan tidak bisa dipotong sembarangan. "Ini amat penting karena belum pernah ada anak Coelacanth yang ditemukan," kata Kasim.

Kasim menyatakan spesimen Coelacanth pertama yang kini tersimpan di Cibinong panjangnya 124 sentimeter dan berat 29 kilogram, sedangkan ikan baru itu panjangnya 130 sentimeter dan berat 50 kilogram. "Panjangnya hanya berbeda 6 sentimeter, tapi beratnya hampir dua kali lipat sehingga kami menduga dia tengah hamil," katanya.

Menurut Alex, Prof Seiichi Watanabe, pakar ikan dari University of Tokyo, akan membantu melakukan CT-scan terhadap spesimen itu. Alex menyatakan, sebelumnya ikan itu juga akan dipindai dengan USG. "Kalau benar hamil, kami akan melakukan pembedahan ekstrahati-hati memakai laser agar tidak rusak," katanya.

Tim peneliti itu juga meneliti DNA ikan untuk mencocokkan materi genetiknya dengan spesimen Coelacanth pertama, yang tertangkap di dekat Pulau Manado Tua, Bunaken, 1998. Ikan itu diberi nama ilmiah Latimeria menadoensis dan dinyatakan sebagai spesies yang berbeda dengan Coelacanth yang ditemukan di Afrika (Latimeria chalumnae). "Kalau ternyata ikan ini berbeda dengan spesimen pertama dulu, kami akan memberinya nama," kata Alex.

Namun, Kasim ragu ikan itu berbeda spesies. Sebab, Coelacanth di Afrika yang tersebar dari Tanzania sampai Afrika Selatan masih spesies yang sama. "Analisis DNA itu harus dilakukan untuk meneliti apakah ikan ini satu induk, satu nenek, atau populasi yang berbeda karena lokasi Malalayang dan Manado Tua berseberangan," tuturnya.

Tim berencana mempublikasikan data hasil penelitian Coelacanth terbaru itu di jurnal ilmiah internasional. "Saat ini sudah ada 3.800 lebih studi tentang Coelacanth, sehingga harus jeli melihat apa yang sudah diteliti dan mana yang belum," kata Kasim.

Selain penelitian terhadap bangkai ikan, tim itu akan mempelajari habitat Coelacanth di Malalayang. Tim peneliti Jepang dari Fukushima Aqua Marine akan kembali menggunakan remotely operated vehicle (ROV) untuk memantau dan merekam gambar ikan itu di habitatnya. "Begitu alat ini selesai proses di bea cukai dan sampai di Manado, kami segera turun ke laut," kata Alex.

Pemantauan ini akan digunakan sebagai pertimbangan oleh tim dari Departemen Kelautan dan Perikanan untuk membuat daerah konservasi laut dalam di sekitar perairan Malalayang, setelah perairan di sekitar Manado Tua. Untuk melindungi ikan langka itu, tim juga akan merekomendasikan pembuatan peraturan daerah yang melarang nelayan menangkap ikan di wilayah konservasi itu.

"Ancang-ancang ke arah sana sudah ada, tapi kami harus meyakinkan dulu apakah Coelacanth-nya masih ada di situ atau tidak," ujar Alex. "Nantinya juga harus ada kompensasi buat nelayan agar tidak mencari ikan di situ, mungkin dengan menyediakan perahu dan peralatan untuk menangkap ikan di tempat lain."

Alex menyatakan tim gabungan telah menyiapkan sebuah rencana besar bagi program konservasi Coelacanth serta menjadikan ikan itu sebagai maskot Ocean Year 2008 di sana. Mereka juga akan mengembangkan penelitian meluas ke Sulawesi Tengah bagian utara (Sangir), bahkan sampai ke Papua. Termasuk kerja sama dengan Fukushima Aqua Marine, yang menyiapkan sebuah akuarium mobile yang bisa ditenggelamkan pada kedalaman tertentu. "Jika suatu saat ada Raja Laut lagi yang tertangkap, dia akan dipindahkan ke akuarium itu," katanya.

tjandra dewi






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: