Profesor Gara-gara Sampah Plastik

Selasa, 19 Juni 2007 | 18:51 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

JAKARTA - Yayuk Rahayuningsih, 57 tahun, mengajak ingatan hadirin ke sebuah masa pada 1977 lalu. Saat itu tantangan dilontarkan kepadanya sebagai seorang peneliti muda untuk memanfaatkan sampah plastik yang bertebaran pasca pekan olahraga. Sebuah tantangan yang kemarin mengantar koordinator zoologi di Pusat Penelitian Biologi, LIPI, itu dikukuhkan sebagai profesor riset.

Tepat 30 tahun lalu di tanah yang sekarang menjadi komplek perumahan LIPI di Baranangsiang, Bogor, Yayuk bereksperimen dengan limbah plastik-plastik itu. Ia menggunakannya untuk memerangkap serangga tanah. Beragam spesimen dikumpulkannya, tapi entah kenapa, ”Yang paling banyak adalah Collembola.”

Hingga saat ini total 6500 spesimen hewan renik berekor pegas itu sudah dikumpulkan untuk ditelitinya. “Saya berhasil mendeskripsi 76 jenis dengan 12 jenis merupakan catatan tambahan dan 50 diantaranya saya kemukakan sebagai jenis baru dalam disertasi,” ujarnya.

Dari rangkaian penelitiannya, Yayuk paham betul Collembola memiliki banyak peran dalam ekosistem yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan manusia. Selain merombak bahan organik tanah dan pengendali penyakit tanaman karena gemar mengkonsumsi jamur, hewan yang dikenal sebagai ekor pegas itu juga ternyata memiliki kemampuan usus mengakumulasi logam berat. “Jadi bisa dimanfaatkan sebagai indikator hayati polusi tanah di daerah pertambangan,” kata Yayuk.

Bersamanya dikukuhkan pula sebagai profesor riset masing-masing Sumardi, spesialis kimia analitik dari Pusat Penelitian Kimia LIPI, dan Ika Hartika Ismet dari Pusat Penelitian Elektronika dan Telekomunikasi LIPI.

(wuragil)






Komentar Anda

Kirim