Menyaring Sampah Jakarta

Rabu, 27 Juni 2007 | 17:58 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Rencana Nurlaila mengajak cucunya, Muhammad Nayaka, mencoba transportasi air di Terusan Kali Ciliwung, Minggu lalu, gagal total. Padahal bocah tiga tahun dari Ciganjur itu sengaja menginap di rumah neneknya di Ciracas, Kampung Rambutan, agar lebih mudah menuju lokasi moda angkutan terbaru di Provinsi DKI Jakarta itu.

Jauh-jauh datang ke Dermaga Halimun, ternyata kapal motor Kerapu III dan Kerapu VI tidak beroperasi. Dua kapal motor yang melayani rute Halimun-Dukuh Atas-Karet itu berhenti berjalan pada pukul 09.30 WIB karena air sungai surut. "Nggak jadi deh," kata Nurlaila. "Kecewa, tadi naik bajaj pakai mogok segala."

Rully Kurniawan, petugas operasional dari Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyatakan, jika debit air tidak mencukupi, kapal memang tidak dijalankan. "Kami khawatir sampah malah tersangkut ke baling-baling mesin," kata Rully. "Kalau sudah begitu, kapal bisa oleng, mesin cepat rusak."

Dua perahu karet dikerahkan untuk mengambil sampah plastik, potongan kayu, dan dahan pohon. Namun, upaya manual yang dilakukan dua petugas itu tak menampakkan hasil memuaskan. Sampah masih mengapung.

Sebenarnya, sudah ada sistem dan rangkaian peralatan penyaring sampah otomatis, tapi belum terpasang di semua sungai di Jakarta. Tak perlu tenaga manusia dan dijamin bisa menjaring sampah sebesar sofa sampai tutup botol yang berukuran kecil. Nama alat itu Mekanikal-Elektrikal Hydraulic.

Alat buatan PT Asiana Technologies Lestary itu terinspirasi dari cara kerja forklift, yang bekerja naik-turun. Cara kerja itulah yang diterapkan pada alat yang menyaring sampah dengan cara menggaruk sampah yang tertahan di jeruji bar screen, mirip pagar yang terpasang membentang di sungai, dan menaikkannya ke belt conveyor untuk dibuang. Makin kecil jarak antara jeruji bar screen, makin kecil ukuran sampah yang terjaring.

Ada beberapa variasi jarak antara bar, mulai dari 2 milimeter sampai 20 sentimeter. Besarnya bergantung pada permintaan dan disesuaikan dengan jenis sampah yang ada di sungai. "Kalau sampahnya besar, seperti batang pohon dan balok, jarak bar kami lebarkan 10 sentimeter," kata Manajer Pemasaran PT Asiana M. Syarifuddin. "Kalau sampah besar dan aliran sungai deras, jarak bar harus besar agar tidak menghambat air."

Penyaring sampah ini sudah teruji di beberapa sungai di Surabaya dan Jakarta. Alat yang telah dipatenkan ini pertama kali digunakan di Kali Dinoyo, Surabaya, pada 2002. Provinsi DKI Jakarta baru memakai alat ini sejak 2004 di beberapa sungai dan waduk, seperti Kali Grogol, Kali Sunter, Kali Sekretaris di Daan Mogot, Siphon Teluk Gong, Kali Cideng, dan Kali Baru di daerah T.B. Simatupang.

Syarifuddin mengklaim sampah terangkat bisa mencapai 98 persen karena jaring screen bar dibangun hingga dasar sungai. Kelebihan lainnya, alat ini bekerja otomatis sehingga bisa dioperasikan pada tengah malam hingga dini hari, waktunya orang-orang tidur. "Kali Sunter, misalnya, pukul 02.00 sampai 04.00 WIB mesin tidak berhenti karena kegiatan pasar dimulainya dari waktu itu," kata Syarifuddin.

Mesin ini berkekuatan 750 kilogram hingga 1 ton. Kalau sampah yang diangkatnya lebih berat dari 1 ton, secara otomatis mesin akan berhenti karena memiliki sensor berat. Kendala lain yang dihadapi penyaring sampah ini adalah saat sampah mengalir deras dan mengunci alat penggaruk sehingga tak bisa naik. Jika mesin macet, seperti beberapa waktu lalu ada sofa yang menjepit penggaruk, terpaksa dilakukan proses secara manual.

Masalah lainnya adalah sampah yang sudah diangkat dari sungai tidak segera diangkut ke tempat pembuangan akhir (TPA). Syarifuddin menyatakan tugas institusinya hanya mengangkat sampah dari sungai. "Kami tidak bertugas mengangkutnya ke TPA," ujarnya "Kalau jarang diangkat oleh Dinas Kebersihan dan sampah menggunung, mesin bisa tidak beroperasi karena conveyor tak bisa jalan."

Syarifuddin berharap teknologi yang diciptakan oleh Poltak Sitinjak, pemimpin perusahaan yang bergerak di bidang teknologi pengendali banjir, bisa menjadi solusi mengatasi sampah di 13 kali besar di Jakarta. Termasuk masalah sampah di Teluk Jakarta, yang telah memasuki perairan Kepulauan Seribu.

Diperkirakan, setiap harinya tak kurang dari 5.000 meter kubik sampah memasuki perairan Pulau Untung Jawa. "Jika sampah sudah disaring di tiap sungai, sampai di Teluk Jakarta, air sungai sudah bebas dari sampah," ujarnya.

Saringan yang dipasang melintang di atas sungai itu juga disesuaikan dengan banjir, yang rutin menyambangi Jakarta. Bar screen penyaring sampah ini bisa diangkat sewaktu-waktu sehingga air bisa mengalir tanpa hambatan.

Khusus untuk sampah di Banjir Kanal Barat, yang digunakan sebagai alur transportasi air (waterway), kata Syarifuddin, penyaringan tak bisa dilakukan secara langsung di terusan Kali Ciliwung itu. Pertimbangannya, aliran sungai deras dan kanal itu digunakan untuk menangani banjir.

"Kalau dipasangi penyaring sampah yang permanen, nanti kapal tak bisa lewat," katanya. "Solusinya, anak-anak sungai yang masuk kanal disaring dari sampah sehingga kanal bebas sampah."

Bila kanal terbebas dari sampah, Kerapu III dan VI bisa berjalan tanpa khawatir oleng karena baling-baling motor terlilit sampah. Biasanya, sampah yang tersangkut di baling-baling kapal Kerapu III dan VI berupa plastik, baju, bahkan selimut. Sampah itu lebih mudah menyangkut ke baling-baling jika muka air terlalu rendah karena barang buangan itu bercampur dengan endapan lumpur.

tjandra dewi

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :