Iklim Berubah, Petani Merana

Kamis, 05 Juli 2007 | 18:14 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Tugas anggota kepolisian Cirebon bertambah. Selama 24 jam mereka harus mengawasi dan menjaga pintu-pintu irigasi di wilayah itu. Pada musim kemarau seperti sekarang, air memang menjadi barang berharga. Perkelahian antarwarga, yang memperebutkan air untuk irigasi pertanian, tak bisa dihindarkan.

Kejadian ini memang kerap terjadi karena lumbung padi, seperti Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu, selalu mengalami kekeringan jika musim kemarau tiba. Daerah itu juga selalu digenangi air jika musim hujan.

Kekeringan tahun ini tak hanya menyusahkan para petani Cirebon, tapi juga ribuan petani di Jawa Tengah. Tak kurang dari 104.744 hektare sawah di Demak, Kudus, Pati, Grobogan, dan Jepara mengalami kekeringan. Kekeringan ini diperburuk oleh penutupan Waduk Kedungombo untuk pertanian karena ketinggian air tinggal 78 meter, dari batas toleransi 80,53 meter. Air yang ada diprioritaskan untuk fasilitas dua pembangkit listrik di Kedungombo dan Sidorejo serta air minum.

Akibatnya, perkembangan pertumbuhan padi pun terganggu karena varietas yang ditanam adalah jenis yang perlu air cukup. Petani asal Mijen, Kabupaten Demak, yang menderita kekeringan terparah, meminta kebijakan itu ditinjau ulang. "Jika tak ada toleransi, ribuan hektare tanaman padi di sini bisa mati," ujar Sukardi.

Derita Sukardi dan ribuan petani lainnya di Cirebon serta Jawa Tengah memang sudah diprediksi para peneliti cuaca. Akhir April lalu, peneliti di Stanford University, University of Washington dan University of Wisconsin, Amerika Serikat, menyatakan pertanian padi di Indonesia akan sangat terpengaruh oleh perubahan iklim karena pemanasan global. Dalam jangka pendek, pertanian akan terkena dampak variabilitas iklim dan kondisinya semakin buruk dalam jangka panjang.

"Pertanian adalah kunci kelangsungan hidup manusia dan mungkin inilah kegiatan manusia yang paling rentan terhadap perubahan iklim," kata Rosamond Naylor, Direktur Program on Food Security and the Environment di Stanford. "Kondisi ini terjadi di negara seperti Indonesia, dengan populasi terbesar di pedesaan miskin yang menggantungkan hidupnya pada pertanian padi."

Untuk menghindari dampak kekeringan yang akan semakin memburuk itu, perlu pemahaman tentang dampak perubahan iklim--saat ini dan yang akan datang--terhadap pertanian padi di Indonesia. Sekarang ini Indonesia digolongkan sebagai negara berpenduduk terbanyak nomor empat dunia dan peringkat pertama negara produsen sekaligus konsumen beras.

Rizaldi Boer, Kepala Laboratorium Klimatologi jurusan Geofisika dan Meteorologi Institut Pertanian Bogor, menyatakan ada kemungkinan produksi padi pada waktu-waktu tertentu mengalami penurunan drastis. Hal itu adalah hasil prediksi berdasarkan 30 macam pemodelan iklim yang dilakukan. "Penurunan ekstrem terjadi pada saat perubahan iklim ekstrem, seperti ketika El Nino dan Southern Oscilation," kata Rizaldi.

Fenomena El Nino, yang menyebabkan musim kering berkepanjangan di Indonesia, pada masa mendatang akan lebih sering terjadi karena anomali temperatur global yang dikaitkan dengannya terus meningkat. "Cuaca regional ekstrem dan anomali iklim, yang diasosiasikan dengan El Nino, akan semakin memburuk karena kenaikan temperatur," kata pakar cuaca itu.

Kedatangan El Nino di Indonesia membawa dampak peningkatan kebakaran hutan, pemudaran terumbu karang, dan memunculkan penyakit ataupun hama. Pada kejadian El Nino 1997, fenomena ini juga mengakibatkan penurunan muka air di bendungan, yang mengancam irigasi dan suplai listrik hingga merosotnya produksi pangan.

Berdasarkan skenario konsumsi, kata Rizaldi, defisit akan selalu terjadi setelah 2020. Itu berarti kerawanan pangan akan sering terjadi.

Hal serupa diungkapkan Emil Salim, mantan Menteri Lingkungan Hidup. Emil mengingatkan bahwa kawasan tropis akan menderita "pukul produksi pangan" akibat besarnya variabilitas iklim menjelang 2030. "Perubahan iklim mempengaruhi tersedianya pangan akibat bergesernya suhu dan hujan," kata Emil di Jakarta pekan lalu.

Pemodelan iklim menunjukkan awal musim hujan di Jawa dan Bali akan sering mundur. Musim hujan ini juga kian singkat, tapi curah hujannya tinggi dibandingkan dengan iklim saat ini. Sedangkan hujan pada musim kering cenderung berkurang.

Hujan yang telat datang ini akan mempersulit upaya pemerintah meningkatkan indeks penanaman dari dua kali dalam setahun menjadi tiga kali karena masa tanam ikut mundur. "Pada masa mendatang, akan sulit menanam padi dua kali tanpa menghadapi risiko kekeringan karena musim hujan yang semakin pendek," kata Rizaldi. "Harus ada pola. Misalnya, ketika El Nino terjadi, tanam padi satu kali dan lainnya menanam palawija. Dan ketika ada La Nina bisa dilakukan tanam padi dua kali."

Kasdi Subagyono dari Balai Penelitian Agroklimat dan Hidrologi, Departemen Pertanian, menyatakan strategi budidaya tanaman harus dilakukan demi mengantisipasi perubahan iklim. Untuk wilayah dengan awal musim hujan mundur dan curah hujan di bawah normal, misalnya, harus digunakan varietas unggul tahan kering, umur pendek, serta tahan hama. Penerapan teknologi pengolahan tanah minimum untuk memperpendek masa tanam juga harus diterapkan dan penanaman mesti sesuai dengan jadwal penggolongan air.

Sedangkan untuk wilayah dengan awal musim hujan mundur dan curah hujan normal, diterapkan strategi tambahan berupa optimalisasi pemanfaatan air serta penerapan semai kering. "Selain penyesuaian perencanaan musim dan pola tanam, dilakukan pemanfaatan varietas tahan kekeringan, tahan genangan, dan berumur pendek," kata Kasdi.

tjandra dewi | ivansyah | rofiuddin | bandelan | stanford






Komentar Anda

Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar: