Mencari Dewi Sri Tahan Kering
Kamis, 05 Juli 2007 | 20:02 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Sampai saat ini, Indonesia memang belum memiliki padi sawah yang tahan terhadap kekeringan. Peneliti dari Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI, Satya Nugroho, menyatakan yang disebut padi tahan kering sekarang ini adalah jenis padi gogo yang memang kurang enak rasanya. "Petani juga tak mau menanamnya karena produktivitasnya rendah," kata Satya. "Di pasar harganya murah. Orang tidak mau membeli karena rasanya tidak enak."
Untuk mencari padi unggul yang toleran terhadap kekeringan sekaligus enak rasanya, Puslit Bioteknologi melakukan pendekatan dengan melihat gen padi yang bisa beradaptasi dengan kondisi kering. Gen inilah yang kemudian dimanipulasi untuk membuat varietas yang lebih toleran terhadap kekeringan. "Kandidat gen yang dipelajari sudah ada," kata Satya. "Marka-marka molekuler yang terkait dengan kekeringan ini akan dipakai untuk merakit padi unggul lokal tahan kekeringan."
Sayangnya, meski kandidat gen sudah ada, penciptaan padi unggul perlu proses yang cukup lama. "Maunya cepat, tapi penelitian untuk breeding memang lama," kata doktor biokimia dan biologi molekuler itu.
Dengan cara konvensional, penciptaan varietas unggul baru lewat persilangan perlu waktu paling cepat 10 tahun. "Soalnya harus backcross (mengawinkan hibrid dengan salah satu induknya)," kata Satya. "Ini dilakukan beberapa generasi untuk memastikan hanya sifat unggul yang pindah, bukan sifat jelek."
Namun, dengan bioteknologi, pengujian itu bisa dipercepat. Jika kandidat gen sudah di tangan, bisa langsung diintroduksikan ke padi tanpa perlu backcross untuk menghilangkan sifat yang tak diinginkan. "Satu tahun sudah bisa, tinggal uji lapangan dan multilokasi," ujarnya.
Satya optimistis varietas padi unggul ini bisa diperoleh. Pertimbangannya, Indonesia memiliki biodiversitas padi yang mencapai ribuan varietas lokal, yang belum tergali sifat-sifatnya, dari sifat yang tahan kering, genjah, tahan hama, tahan jamur, dan rasa yang enak atau beraroma harum.
LIPI tak sendiri dalam proses pencarian ini. Perakitan padi unggul ini berkolaborasi dengan banyak peneliti dan pusat penelitian dari luar negeri. Nantinya, varietas padi unggul ini juga bisa dimanfaatkan untuk pertanian di lahan kritis atau tempat yang airnya amat terbatas. "Di Indonesia kan banyak daerah yang kering sehingga nanti bisa dihidupkan menjadi lahan produktif," ujarnya.
tjandra





