Harimau Cacat Tertangkap Kamera
Jum'at, 06 Juli 2007 | 01:34 WIB
TEMPO Interaktif, Riau:
Kamera intai WWF di Taman Nasional Tesso Nilo, Riau, merekam sosok seekor harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) yang berkaki tiga. Kondisi itu bukanlah cacat bawaan lahir, namun diduga akibat jeratan pemburu liar.
Harimau itu terekam kamera di dua lokasi yang berbeda pada Maret dan Mei yang lalu. WWF mengidentifikasinya sebagai satu individu. “Kemungkinan besar merupakan harimau yang dilaporkan lolos dari jerat pada November 2006,” kata Sunarto, Koordinator Survei dan Monitoring Harimau WWF di Riau, dalam rilis yang diterima Tempo kemarin.
Harimau sumatera adalah subspesies yang terancam punah. Populasinya di hutan Pulau Sumatera kini diperkirakan tinggal 400 ekor saja. Sebanyak 5-11 ekor di antaranya diperkirakan hidup di Taman Nasional Tesso Nilo.
Sunarto mengatakan hal itu sangat memprihatinkan karena terjadi di taman nasional, yang mestinya menjadi tempat perlindungan satwa yang kian langka itu. “Meski harimau di dalam foto tersebut tampak dalam kondisi baik, namun kelanjutan masa depannya sangat mengkhawatirkan,” ujarnya.
Meski populasinya kian menipis, harimau masih menjadi target perburuan liar dan habitatnya terus tergerus oleh pertanian dan pembalakan liar. Pemburu biasanya memasang jerat untuk menangkap harimau, yang tak jarang malah melukai buruannya.
Sejak 2005, WWF dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam Riau telah menyita 101 perangkap atau jerat, 23 di antaranya adalah jerat khusus harimau. Sebanyak 75 jerat ditemukan di Taman Nasional Tesso Nilo dan Rimbang Baling.
Sunarto mengatakan masih berlangsungnya perburuan harimau tak hanya akan mengancam populasinya, tapi juga akan memicu konflik dengan manusia. Harimau yang pincang, kata dia, akan kehilangan kemampuannya berburu secara alami sehingga mengincar ternak atau bahkan manusia.
Sepanjang 2006, menurut catatan WWF sudah terjadi 15 konflik harimau-manusia di kawasan Tesso Nilo. Adapun setengah tahun pertama 2007, sudah terjadi enam konflik.
Kepala Balai Taman Nasional Tesso Nilo, Hayani Suprahman, mengatakan mereka akan terus mensosialisasikan kepada masyarakat di sekitar taman agar ikut melestarikan harimau sehingga terhindar dari konflik. Selain itu mereka juga mengintensifkan pengamanan kawasan taman nasional.
Kawasan Taman Nasional itu berdiri di kawasan seluas 38.576 hektar. WWF dan balai taman nasional sudah mengusulkan agar taman nasional itu diperluas menjadi 100 ribu hektar demi kelestarian populasi harimau dan gajah.
Namun perambahan hutan masih terus berlangsung untuk pembangunan kebun kelapa sawit. Hingga Agustus 2006 saja, sedikitnya 7.000 hektar lahan taman nasional sudah dirambah.
DEDDY SINAGA
Topik :




Komentar Anda :