Surga Tak Tersentuh
Senin, 09 Juli 2007 | 01:35 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Mochamad Indrawan, peneliti biologi konservasi dari Perhimpunan Omitolog Indonesia, mengatakan kawasan Banggai Kepulauan di Sulawesi Tengah masih kaya dengan keanekaragaman hayati di darat dan lautan yang masih "perawan".
Tumbuhan dan satwa di hutan tropika kawasan tersebut belum banyak disentuh pada peneliti. Apalagi ekosistem padang lamun dan terumbu karang di perairannya.
Di lautan misalnya, ditemukan banyak lumba-lumba jenis spiner dan paus jenis Sperm Whale. "Dengusan spiner dolphin sampai terdengar ke kampung, sangat mendebarkan," kata Indrawan di Bogor pada rabu pekan lalu.
Selain satwa itu, di kawasan Banggai Kepulauan juga masih banyak ditemukan flora dan fauna yang oleh Perhimpunan Konservasi Dunia (IUCN) dinyatakan kritis, terancam punah, dan di tempat lain mendapat perhatian khusus.
DEDDY SINAGA | IUCN | WIKIPEDIA | ANSWERS
1. Kima/Clam raksasa (Tridacna gigas)
Satwa perairan laut dari klas moluska ini hidup tersebar mulai dari Australia sampai ke Amerika Serikat. Kebanyakan habitatnya ada di kawasan Asia dan Pasifik. Berdasarkan data Perhimpunan Konservasi Dunia, satwa ini termasuk kriteria Vulnerable alias tak kritis namun tetap menghadapi ancaman kepunahan di masa depan.
2. Ketam kenari (Birgus latro)
Satwa bercapit yang disebut juga kepiting/ketam kelapa adalah artropoda terbesar di dunia. Ketam ini bisa memanjat dan memecahkan tempurung kelapa untuk memakan isinya.
3. Ikan Kardinal Banggai (Pterapogon kauderni)
Ikan ini endemik dari Banggai Kepulauan. Peredarannya terbatas pada area seluas 5.500 kilometer persegi. Populasinya pun kini tinggal 2,4 juta ekor, tersebar di perairan di 17 pulau besar dan 10 pulau kecil di Banggai Kepulauan. Sedikit populasinya juga tampak di pelabuhan Luwuk di Sulawesi Tengah. Sejak 2000, ikan ini diperjualbelikan sebagai ikan hias.
4. Penyu spesies Chelonia mydas
Chelonia mydas dikenal pula sebagai penyu hijau yang habitat terbesarnya ada di Sabah, Malaysia, Filipina, dan Australia. Statusnya kini berada dalam keadaan terancam (Endangered) menurut Perhimpunan Konservasi Dunia. Inilah spesies satu-satunya yang tertinggal dalam genus Chelonia.
5. Penyu spesies Eretmochelys imbricate
Spesies Eretmochelys imbricate atau yang dikenal sebagai penyu Hawksbill kini statusnya malah sudah kritis. Populasinya tersebar di Samudera Atlantik dan Pasifik. Bila penyu lain banyak beraktivitas di perairan terbuka, spesies yang satu ini lebih banyak di laguna dangkal dan terumbu karang.
6. Burung 'Kailong' atau Burung Gosong Sula (Megapodius bernsteinii)
Inilah burung endemik lainnya dari Sulawesi Tengah. Termasuk ke dalam familia Megapodiidae, burung ini sesungguhnya seperti ayam dengan kepala kecil dan kaki yang besar. Burung yang emoh terbang ini statusnya kini mendekati terancam.
7. Kuskus Banggai (Strigocuscus pelengensis)
Disebut juga Kuskus Peleng karena hanya ditemukan alias endemik di Pulau Peleng. Statusnya adalah Lower Risk (masih aman meski tetap beresiko) menurut Perhimpunan Konservasi Dunia.
8. Dugong/Duyung (Dugon dugon)
Dugong adalah mamalia laut pemakan tumbuhan (herbivora). Satwa bernama lokal Ikan Duyung ini habitatnya tersebar di kawasan pantai di Samudera Hindia, Laut Merah, dan barat daya Samudera Pasifik. Satwa yang hidup berkelompok antara dua sampai enam individu ini panjangnya mencapai 2,2 meter sampai 3,4 meter. Statusnya kini Vulnerable alias tak kritis namun menghadapi ancaman kepunahan. Satwa ini biasanya diburu untuk daging, kulit, dan minyaknya.
Topik :




Komentar Anda :