Ke Mana Borobudur

Selasa, 10 Juli 2007 | 20:22 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:
Apakah itu berarti Borobudur kurang populer sehingga tidak masuk sebagai nominee dalam jajak pendapat? "Itu kan hanya hasil polling lewat SMS dan telepon yang masuk," kata Soeroso, Direktur Peninggalan Purbakala di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. "Yang melakukan polling juga bukan UNESCO, tapi lembaga independen dan tidak tahu apa kriterianya."
Soeroso menyatakan kegiatan mencari Tujuh Keajaiban Dunia Baru ini tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Meskipun tidak masuk Tujuh Keajaiban Dunia Baru, Borobudur termasuk warisan dunia, bersama 850 situs budaya dan alam lainnya. "Status ini legal karena ditentukan oleh badan Perserikatan Bangsa-Bangsa," katanya.
Terlebih lagi, banyak monumen lain yang juga berstatus warisan dunia ternyata tidak terpilih menjadi satu dari Tujuh Keajaiban Dunia versi Weber itu. Soeroso menunjuk Angkor Wat di Kamboja, yang tidak terpilih, padahal candi itu punya nilai budaya dan keindahan yang luar biasa.
Sejumlah monumen warisan dunia lain, seperti Menara Eiffel di Prancis, Stonehenge di Inggris, dan Sydney Opera House di Australia, juga hanya duduk sebagai finalis dan tak terpilih sebagai Keajaiban Dunia. Hal ini terjadi karena sebagian besar pemberi suara berasal dari Amerika Latin dan Asia. "Amerika Serikat dan Eropa memiliki tingkat partisipasi terendah," kata juru bicara kampanye New7Wonders.
Soeroso mengaku kontes ini sama sekali tidak mempengaruhi Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. "Kalau Borobudur tidak masuk nominasi seperti itu, jangan salahkan candinya atau pemerintah yang mengelola," kata Soeroso. "Kami sadar pendapat masyarakat dipengaruhi oleh kondisi orang yang datang ke Borobudur."
Sekarang, kata Soeroso, jumlah wisatawan asing yang mengunjungi candi yang dibangun pada masa Dinasti Syailendra itu merosot tajam. Travel warning yang dikeluarkan pemerintah Amerika Serikat dan Australia agar warganya berhati-hati bila mengunjungi Indonesia memperburuk kondisi pariwisata Tanah Air. Selain itu, ada larangan terbang sejumlah maskapai asal Indonesia.
"Bukan kami mencari kambing hitam, tapi polling ini, kalau ditanggapi berlebihan, justru bisa merusak," katanya. "Kami lebih mementingkan bagaimana mengembalikan citra Indonesia dan melestarikan peninggalan budaya, seperti Borobudur, ini."

tjandra

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :