Setelah Seabad Si Burung Kembali
Rabu, 11 Juli 2007 | 10:03 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pada hutan lebat dan rimbun di puncak sebuah bukit di Pulau Peleng, Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, kedua pria itu tersaruk-saruk. Pepohonan dan permukaan tanah basah oleh hujan yang rintik-rintik sore itu.
Namun tiba-tiba mata mereka tertumbuk pada seekor burung kecoklatan yang mematuk-matukkan paruhnya di permukaan tanah. Kedua lelaki yang adalah peneliti biologi itu sontak saling berbisik. "Itu Gagak Banggai."
Perjumpaan singkat itu terjadi 16 tahun yang lalu, atau pada 1991, saat kedua pria--Yunus Masala dan Lefrendi Pesik-mendaki bukit di Tetendeng, di barat laut Pulau Peleng. Keduanya adalah peneliti biologi di Perhimpunan Ornitolog Indonesia.
Pulau Peleng adalah salah satu pulau terbesar di Kabupaten Banggai Kepulauan. Di bagian barat kawasan tersebut masih terdapat hutan tropik basah yang lebat.
Di hutan itulah sang burung terlihat pertama kali setelah 93 tahun. Sayang, si burung terbang dan raib bak ditelan bumi tak lama kemudian.
Kedua peneliti itu pun bergegas mengabari rekan-rekannya, tapi tak satupun yang percaya. Pasalnya, Gagak Banggai adalah spesies yang diperkirakan sudah punah.
Tapi 13 tahun kemudian barulah diyakini bahwa Yunus dan Lefrendi tidak berbohong. Pasalnya, pada 2004, Mochamad Indrawan, peneliti biologi konservasi dari lembaga yang sama, bertemu kembali dengan burung sejenis. Indrawan baru mengumumkan penemuannya di Pusat Penelitian Biologi di Bogor, Rabu pekan lalu.
Masih di bukit yang sama. "Kami menemukan berkali-kali di lokasi yang berbeda-beda di ketinggian antara 700 sampai 800 meter dari permukaan laut," kata Indrawan kepada Tempo.
Gagak Banggai atau kerap dipanggil Burung Kuyak di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah, adalah spesies langka yang endemik di kawasan tersebut. Burung bernama latin Corvus unicolor ini pertama kali ditemukan pada 1898.
Saat itu, penduduk setempat menjual dua ekor Gagak Banggai yang sudah mati kepada seorang pedagang asal Jerman bernama Menden. Sang pedagang pun menjual spesimen itu kepada dua peneliti Inggris, Rothschild dan Hartert, pada 1900.
Burung itu lantas dibawa ke negeri asal peneliti, sebelum akhirnya dibeli oleh Museum Sejarah Alam Amerika di New York dan disimpan di sana hingga kini.
Kedua spesimen pun disimpan sebagai koleksi Tipe di museum tersebut. Koleksi Tipe adalah penanda bahwa kedua spesimen harus menjadi acuan penelitian lanjutan mengenai spesies tersebut. Tipe adalah semacam akta kelahiran.
Pada 1991 dan 1996 peneliti asing pernah menyambangi Banggai Kepulauan demi mencari Gagak Banggai yang masih hidup. Namun pencarian mereka gagal sehingga diduga gagak itu sudah punah.
Maka, penemuan kembali burung itu menjadi amat penting artinya. Selain dugaan soal kepunahan itu tak terbukti, Indonesia telah memiliki spesimen gagak banggai hidup.
Setelah pertemuan kedua dengan Gagak Banggai di bukit di Tetendeng, Indrawan dan Yunus pun giat meneliti burung tersebut dan mencari habitat aslinya. Ternyata dari belasan pulau besar dan kecil di Banggai Kepulauan, Gagak Banggai hanya ditemukan di Pulau Peleng. Indrawan memperkirakan, di pulau itu masih ada 150 sampai 200 ekor.
Untungnya, habitat sang burung memang terus terjaga hingga kini. Padahal, lingkungan sekitarnya sudah tergerus pertanian dan pembalakan hutan. "Tertolong lantaran dianggap keramat," kata Indrawan setelah mempresentasikan penemuannya di Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di Bogor.
Indrawan mengatakan, untuk mencapai habitat burung gagak membutuhkan perjuangan tersendiri lantaran lokasinya terpencil di Pulau Peleng. "Itulah mengapa tak banyak peneliti yang mau ke sana, tidak sampai lima orang dalam sejarah," ujar dia.
Gagak Banggai terbilang sebagai burung hutan pegunungan yang mengkonsumsi serangga sebagai makanan utamanya. Di alam liar, kata Indrawan, burung ini memiliki pesaing gagak berparuh ramping (Corvus enca), yang banyak ditemukan di Sulawesi Tengah.
Habitatnya yang terisolir di barat Pulau Peleng membuat distribusi burung itu terancam bahaya. Indrawan mengatakan, mestinya pemerintah daerah dan masyarakat ikut melestarikan Gagak Banggai sebagai aset dunia. "Bila sampai benar-benar punah, tentu mereka ikut malu," katanya.
Ayub Maleso, tokoh agama Kristen di Banggai Kepulauan, mengatakan penemuan itu amat penting artinya bagi masyarakat karena akan mengangkat nama kawasan dan keanekaragaman hayati di sana.
Namun mengingat bahwa populasi burung itu terbilang kritis, maka kelestariannya tergantung pada masyarakat. "Oleh sebab itu, perlu dilakukan kerja sama dengan pemerintah daerah dan masyarakat setempat untuk melestarikannya," kata Ayub.
Indrawan mengatakan, dalam upaya sosialisasi akan pentingnya melestarikan Gagak Banggai, mereka lebih banyak melakukannya bersama dewan gereja dan tokoh agama di dalamnya. Pihak gereja, kata dia, lebih memiliki sikap rasional daripada masyarakat yang kebanyakan masih bergantung pada kebiasaan dan tradisi.
Adapun Kepala Pusat Penelitian Biologi LIPI, Dedy Darnaedi, mengatakan penemuan itu telah memperbaharui informasi yang ada sebelumnya. "Bahwa ternyata burung itu masih ada dan habitatnya ternyata tidak rusak," katanya.
Dedy mengatakan "Tipe" sang gagak memang kini sudah menjadi milik peneliti di luar negeri. Namun penemuan itu membuat peneliti Indonesia memiliki keuntungan lebih daripada peneliti asing, yang hanya bisa mengamati spesimen matinya.
Dedy berharap, hasil penelitian itu mendorong penelitian lebih lanjut mengenai perilaku burung tersebut dalam hal terbang, makan, bersarang, perkembangbiakannya, dan sebagainya. "Peneliti asing tidak bisa melakukan hal itu," ujar dia.
Tipe yang kini sudah berada di luar negeri memang sudah tak bisa diklaim lagi, kecuali pemiliknya mempunyai duplikat yang bisa disumbangkan ke Indonesia. "Tapi yang terpenting adalah penelitian berikutnya," kata Dedy.
DEDDY SINAGA
Akta Lahir Si Kuyak
Nama latin: Corvus unicolor
Ukuran: Lebih kecil dari gagak biasa, panjangnya rata-rata 39 sentimeter
Warna: Kecoklatan
Jelajah: Luas karena sering naik turun bukit bersama kelompok antara 3 sampai 5 ekor
Sarang: Di dahan-dahan pohon kayu seperti kenari, bitangur, dan osa.
Makanan: Serangga
Populasi kini: 150 sampai 200 ekor.
Topik :




Komentar Anda :