Selamat Tinggal Oryx Oman
Kamis, 12 Juli 2007 | 15:24 WIB
TEMPO Interaktif, Christchurch:
Sidang Komite Warisan Dunia yang bernaung di bawah badan PBB, UNESCO, pekan lalu, memutuskan mencoret cagar alam Oryx Arab di Oman dari daftar situs Warisan Dunia. Ini adalah kali pertama komite itu mencoret sebuah situs dari daftar tersebut.
Cagar alam Oryx Arab di Oman, dimasukkan ke dalam daftar situs Warisan Dunia sejak 1994. Situs tersebut berada di wilayah Al Wusta, di kawasan Central Desert dan Coastal Hills.
Oryx Arab (Oryx leucoryx) adalah satwa yang berada pada genus yang sama dengan antelop, namun tubuhnya lebih kecil. Pada 1972 hewan ini disebut sudah punah dari semenanjung Arab.
Pada 1982 oryx berhasil dilestarikan kembali di Oman. Pun di Bahrain, Israel, dan Arab Saudi, dengan total populasi 886 ekor berdasarkan data tahun 2003. Sebanyak 600 ekor lebih ada di penangkaran.
Namun kawasan cagar alam oryx di Oman kini telah berkurang drastis. Kesultanan Oman telah mencukurnya sampai 90 persen, dari 28.000 kilometer persegi menjadi 2.824 kilometer persegi, lantaran ada sumber hidrokarbon di bawahnya.
Keputusan itu disahkan melalui sebuah Dekrit Kerajaan. Kesultanan Oman lantas menyerahkan kendali eksplorasi kawasan tersebut kepada sebuah perusahaan minyak.
"Pengurangan itu akan menghancurkan nilai universal situs tersebut," demikian pernyataan resmi Komite Warisan Dunia setelah menyelesaikan sidangnya di Christchurch, Selandia Baru, pada akhir pekan lalu.
Di sisi lain, populasi oryx pun terus merosot tajam. Dari 450 ekor pada 1994-saat situs tersebut dimasukkan ke dalam daftar Warisan Dunia-kini tinggal 65 ekor.
Pada akhir 1990an, departemen konservasi alam negeri itu melaporkan hilangnya 200 ekor oryx yang dibunuh oleh pemburu liar. "Sungguh pekerjaan yang berat untuk mengawasi kawasan seluas itu," kata seorang pejabat yang tak mau disebut namanya.
Adapun Dr Moosa Bin Ja'afar, Perwakilan Tetap Kesultanan Oman di UNESCO, mengatakan Oman kini mengendalikan penuh kawasan cagar budaya tersebut sejak dikeluarkan dari daftar. "UNESCO tidak akan terlibat lagi di dalamnya," kata dia.
Selain memutuskan pencoretan, sidang Komite yang berlangsung sejak akhir Juni sampai pekan lalu itu, juga menambahkan 22 situs baru ke dalam daftar Warisan Dunia. Daftar baru itu terdiri 16 situs kebudayaan, lima situs alam, dan satu situs campuran.
Dengan pencoretan dan penambahan situs baru, kini daftar Warisan Dunia sudah memuat 851 situs. Sejak Juni komite itu telah mempertimbangkan 45 situs yang diusulkan oleh para anggota komite, termasuk dari Perhimpunan Konservasi Dunia (IUCN).
Selain memutuskan daftar terbaru dan mencoret cagar alam Oman, komite itu juga memperluas situs Jungfrau-Aletsch Bietschhorn di pegunungan Alpen, Swiss. Komite juga menyatakan perhatian serius terhadap pembangunan yang berlangsung di sekitar Istana Potala di Tibet dan di sekitar empat situs di Cina, termasuk Istana Kaisar Kuno, Istana Musim Panas, dan Kuil Surga.
Komite juga mengeluarkan empat situs dari daftar Warisan Dunia yang terancam, lantaran telah meningkatnya kegiatan konservasi di sana. Keempat situs itu adalah: Taman Nasional Everglades di Amerika Serikat, penyimpan cadangan biosfer Río Plátano di Honduras, Istana Kerajaan Abomey di Benin, dan Lembah Kathmandu di Nepal.
Namun tiga situs lain malah dimasukkan ke dalam daftar itu lantaran kelestariannya terancam. Ketiganya adalah Kepulauan Galapagos di Ekuador, Taman Nasional Niokolo-Koba di Senegal dan Kota Kuno Samarra di Irak.
Kepulauan Galapagos sudah lama memancing kekhawatiran sejak meningkatnya angka kunjungan wisata dan imigran ke kawasan tersebut. Keramaian dan keriuhan para turis tersebut telah mengancam kelestarian flora dan fauna yang unik di kawasan tersebut.
Adapun Kota Samarra kini terancam hancur akibat perang yang berkepanjangan sejak pasukan Amerika Serikat dan sekutunya menggempur kawasan tersebut untuk menggulingkan Presiden Saddam Hussein. Padahal kota yang disucikan kaum Syiah di Irak itu mengandung "harta karun" kebudayaan seperti reruntuhan yang membentang di tepian Sungai Tigris dan Mesjid Agung abad ke-9 yang memiliki menara spiral setinggi 52,7 meter.
Komite Warisan Dunia adalah representasi 184 negara penandatangan Konvensi 1972 mengenai Perlindungan Warisan Budaya dan Alam Dunia. Konvensi itu mendukung kerjasama internasional untuk menjaga kelestarian Warisan Dunia.
Usulan situs-situs warisan dunia biasanya disampaikan oleh para anggota komite pada sidang saban tahun. Usulan itu dievaluasi oleh dua badan penasihat, yakni Dewan Internasional Monumen dan Situs (ICOMOS) untuk usulan situs kebudayaan, dan Perhimpunan Konservasi Dunia (IUCN) untuk situs-situs alam.
DEDDY SINAGA | AP | IUCN | MERCURY NEWS | MIAMI HERALD | UNESCO | MONGABAY | GULFNEWS | WIKIPEDIA





