Mamut Kerabat Gajah Asia

Selasa, 31 Juli 2007 | 19:27 WIB

TEMPO Interaktif, LEIPZIG:Gajah Asia, termasuk gajah Sumatera, memiliki kekerabatan yang lebih dekat dengan mamut daripada dengan gajah Afrika. Pertalian genetika antara gajah Asia dan gajah purba itu terungkap lewat uji DNA terhadap fosil gading mastodon.

Mastodon adalah kerabat gajah modern yang telah punah. Uji rangkaian DNA yang dilakukan ilmuwan gabungan dari Jerman, Amerika Serikat, dan Swiss itu membuat mastodon menjadi binatang prasejarah tertua yang memiliki potret genetik. Sekaligus peta genom mitokondria tertua yang pernah diurai.

Menggunakan potongan gading yang telah memfosil, Michael Hofreiter dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, meneliti semua rangkaian DNA mitokondria mastodon, yaitu struktur pembangkit energi dalam sel dengan genom tersendiri.

Gigi itu dipercaya berumur 50-130 ribu tahun karena tim Hofreiter menemukan gigi mastodon tersebut terbenam dalam sedimen sungai yang berusia 130 ribu tahun. Sisa kerangka lainnya hilang.

Peta genom dari ekstrak gading mastodon yang ditemukan di tepi sebuah sungai di Alaska Utara inilah yang mengakhiri debat panjang soal asal muasal gajah modern. Sebelumnya, para ilmuwan tidak mencapai kata sepakat bagaimana kekerabatan antara gajah Asia, gajah Afrika, dan mamut berambut tebal.

Masalah ini muncul karena gajah tidak memiliki sanak famili dekat yang masih hidup. Kerabat terdekat mereka adalah duyung dan hyrax, sejenis binatang pengerat. Namun, pohon keluarga yang disusun berdasarkan DNA protein gajah Asia dan Afrika, mamut, serta mastodon menunjukkan kekerabatan yang lebih dekat antara gajah Asia dan mamut.

Gajah Afrika memang memiliki perbedaan yang cukup mencolok bila dibandingkan dengan gajah Asia. Selain lebih besar, gajah Afrika memiliki kuping besar yang terkulai. Dan, baik hewan jantan maupun betina, mempunyai gading berukuran besar. Sedangkan pada gajah Asia, hanya hewan jantan yang memiliki gading yang mencuat keluar.

Dari analisis genetik itu, para ilmuwan juga bisa menghitung kapan gajah Asia dan Afrika mulai menempuh jalan berbeda. Diperkirakan percabangan kedua spesies gajah itu berasal dari nenek moyang yang sama pada 7,6 juta tahun yang lalu.

Sebenarnya antara mastodon dan mamut memiliki penampilan yang amat mirip, berambut lebat dan gading besar. Namun, secara genetik, kedua binatang prasejarah ini amat berbeda, bahkan cuma terhitung sebagai kerabat jauh gajah modern.

Pohon keluarga gajah dari perbandingan materi genetik gajah purba itu menunjukkan gajah Afrika membentuk percabangan yang terpisah dari gajah Asia dan mamut sekitar 7,6 juta tahun lampau. Kemudian, sekitar 6,7 juta tahun lalu, gajah Asia dan mamut juga berpisah. Sementara itu, mastodon terpisah dari nenek moyang gajah sekitar 25 juta tahun silam.

"Yang mengagumkan dari mastodon adalah kami mengetahui secara pasti dari catatan fosil kapan dia mulai membuat cabang terpisah dari gajah dan mamut," kata Hofreiter, peneliti utama riset itu. "Menggunakan poin waktu dan data genetik, kami bisa menghitung waktu perpisahan antara gajah Afrika, Asia, dan mamut."

Hofreiter menyatakan semua peristiwa itu terjadi di Afrika, tempat yang sama dengan percabangan manusia, simpanse, dan gorila. Fakta itu juga yang menjadi pertimbangan bahwa ada kemungkinan gajah berpisah di tempat dan waktu yang sama dengan saat manusia berpisah dari monyet.

Kemungkinan lain, terjadi peristiwa iklim dahsyat atau lingkungan yang mendorong gajah dan manusia memulai perjalanan evolusinya. "Diperkirakan pada saat itu iklim menjadi lebih kering, padang rumput meluas, dan hutan terbagi menjadi beberapa hutan kecil," ujarnya. "Kami harus melihat lebih mendetail terhadap apa yang terjadi pada mamalia lainnya."

Berbeda dengan mamut yang pemakan rumput, mastodon adalah binatang hutan dan biasa mencari makan dedaunan dengan mematahkan ranting menggunakan gadingnya. Hutan yang pisah dan menyempit menekan perkembangan binatang itu. Mastodon, yang hidup di Eropa, Asia, sampai Amerika Utara, masuk catatan fosil sekitar 28 juta tahun lampau. Mereka diperkirakan menghilang dari Eropa dan Asia sekitar 2 juta tahun lalu, dan terakhir hidup di Amerika Utara sampai 10 ribu tahun silam.

Penyebab kepunahan mereka masih kontroversial. "Beberapa pakar menuding perubahan lingkungan dan yang lain menyalahkan manusia yang memburu mereka," kata Hofreiter.

Kontroversi ini mungkin bakal terungkap dengan penemuan kerangka mastodon di Yunani bagian utara, Oktober lalu. Gading mastodon jantan itu berukuran lima dan empat meter. Ditemukan pula beberapa bagian kerangka, seperti tulang kaki serta rahang atas dan bawah lengkap dengan giginya.

Evangelia Tsoukala, asisten profesor geologi di University of Thessaloniki , menyatakan penemuan ini amat signifikan karena mereka bisa menarik kesimpulan tentang perkembangan binatang itu dari berbagai bagian kerangka yang ada. "Kami juga mencari petunjuk tentang kepunahannya," kata ketua tim penggalian itu.
Dari kerangka paling utuh yang pernah ditemukan itu, para peneliti berharap banyak informasi bisa diperoleh. Peneliti Belanda, Dick Mol, mengatakan tumbuhan yang ditemukan di dekat gading itu akan dianalisis untuk mencoba menggambarkan lingkungan tempat binatang tersebut hidup. Cincin pertumbuhan pada gadingnya juga bisa memberi informasi tentang iklim dunia pada masa mastodon hidup.

Bila mereka berhasil menemukan DNA dari mastodon Yunani ini, para ilmuwan bisa membandingkannya dengan fosil mastodon Amerika Utara. Sekaligus memastikan siapa yang paling bersalah atas punahnya binatang itu: iklim atau manusia.

tjandra dewi | nature | BBC

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :