Bila Tubuh dan Sayap Menyatu
Rabu, 01 Agustus 2007 | 09:28 WIB
TEMPO Interaktif, Chicago:
Sekilas bentuk pesawat itu seperti Stealth, si siluman yang menjadi andalan Angkatan Udara Amerika Serikat. Tapi itu bukan siluman, melainkan sebuah duplikat pesawat angkut hasil keroyokan antara pabrikan Boeing dan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).
Pesawat yang diberi label X-48B ini menggunakan model konstruksi sayap yang berbeda dengan kebanyakan pesawat angkut. Teknologi sayap yang baru itu bernama konsep Blended Wing Body (BWB), sebuah teknologi dimana tubuh pesawat berpadu (blend) dengan sayap.
Bentuk X-48B, bila diperhatikan sekilas, mirip dengan pesawat sayap terbang (Flying Wing) yang diperkenalkan oleh pesawat-pesawat eksperimental pada Perang Dunia II. Contohnya adalah seri Horten yang dibangun pada 1944 oleh NAZI.
Konstuksi itu pun jelas berbeda dengan pesawat angkut yang umum di kalangan militer maupun komersil. Pesawat angkut umumnya menggunakan tubuh tubular alias tabung dengan konstruksi sayap yang terpisah sendiri, tipis dan menempel di sisi kanan dan kiri maupun membentuk bagian buntut.
Meski bentuknya berbeda dengan model yang umum, X48B berhasil membelah langit suatu pagi 20 Juli lalu. Dari Pusat Penelitian Penerbangan Dryden milik NASA yang ada di Pangkalan Angkatan Udara Edwards di California, pesawat duplikat yang beratnya 225 kilogram itu berhasil mencapai ketinggian 7.500 kaki.
Dikendalikan oleh pilot dari stasiun darat dengan konsol dan instrumen pengendalian pesawat konvensional, pesawat tak berawak dengan bentangan sayap 21 kaki atau sekitar 6,4 meter itu berhasil terbang selama 31 menit.
"Kami berhasil melampaui batas eksplorasi struktur, aerodinamika, dan efisiensi melalui konsep BWB," kata Bob Liebeck, program manajer BWB pada Boeing Phantom Works, pada senin lalu. Boeing Phantom Works adalah perusahaan yang melakukan riset X-48B.
Bob mengatakan, data kesuksesan ujicoba terbang itu akan dipadukan dengan data yang berhasil dikumpulkan sebelumnya pada model komputer dan ujicoba di terowongan angin (Wind tunnel). Rencananya, setelah keberhasilan perdana itu, akan dilanjutkan dengan ujicoba lebih dari 25 penerbangan lagi untuk menguji kemampuan X-48B.
Setelah itu dilanjutkan dengan pengujian karakter suara rendah BWB, handling, dan kemampuannya melahap kecepatan transonic (nyaris pada kecepatan suara). Dua unit X-48B lainnya yang akan dipakai untuk ujicoba lanjutan, sudah selesai dibuat.
Pesawat X-48B yang terbang pada 20 Juli lalu adalah model Ship 2. Adapun Ship 1 sudah diujicoba di terowongan angin di Terowongan Skala Penuh Langley milik NASA di Virginia pada 2006.
Bentuknya yang datar seperti Stealth itu diterbangkan oleh tiga buah mesin turbojet yang dicantelkan di buntut. Mesin ini sanggup membawa pesawat yang tubuhnya dilapisi komposit khusus itu terbang sampai ketinggian lebih dari 10.000 kaki.
Mesin turbojet itu membuat X-48B bisa terbang dengan kecepatan di atas 120 knots. Para pembuatnya berencana melakukan sejumlah modifikasi lainnya, agar pesawat itu bisa terbang pada kecepatan yang lebih besar.
Model sayap yang menyatu bentuk (blending) dengan badan pesawat ternyata membawa keuntungan tersendiri, setidaknya itulah data hasil ujicoba pada 20 Juli lalu. Sayap itu membuat pesawat mendapat tenaga angkat yang lebih besar lagi, sekaligus meminimalisir tahanan udara.
Keuntungan lain: pesawat itu lebih hemat bahan bakar, bahkan sampai 20 persen dari rata-rata pesawat angkut komersial maupun militer pada penerbangan jarak jauh. Di sisi lain, penempatan mesin di buntut atas membuat suara berisik yang menembus kabin bisa dikurangi.
Tak ada gading yang tak retak. X-48B, yang strukturnya dibangun oleh Cranfield Aerospace Ltd. dari Inggris, juga tak lepas dari "cacat". Bentuk pesawat yang melebar dan datar karena menyatu dengan sayap itu rupanya membuat stabilitas penerbangan berkurang. Di sisi lain, struktur seperti itu tak terlalu mumpuni mengatasi tekanan udara di dalam (internal pressurization).
Rupanya, lebih mudah mengatasi tekanan udara dengan bentuk yang bulat daripada bentuk lebar dan oval. Bentuk semacam ini juga membuat jendela samping bagi penumpang terpaksa dikurangi.
Melihat bentuknya, banyak pengamat menilai model itu lebih cocok diaplikasikan sebagai model pesawat angkut kargo militer di masa depan. Ini sejalan dengan rencana Boeing, yang tampaknya tak akan mengaplikasikan konsep itu pada pesawat komersial pada 20 tahun ke depan.
Organisasi Advanced Systems pada Sistem Pertahanan Terintegrasi Boeing--Boeing Integrated Defense Systems (IDS)--sepakat bahwa X-48B lebih potensial sebagai pesawat militer yang fleksibel, berdaya jangkau jauh, dan berkapasitas besar.
"Amat menjanjikan bagi masa depan penerbangan militer sebagai platform militer multifungsi pada 15 sampai 20 tahun ke depan," kata Darryl Davis, Wakil Presiden Boeing IDS Advanced Systems dan General Manager Advanced Precision Engagement and Mobility Systems. "Desainnya yang unik akan mengirit bahan bakar dan jejak suara bisa dikurangi.
Penerbangan 20 Juli yang lalu itu bukanlah rencana perdana. Boeing sudah berencana mengujicoba pesawat itu pada akhir 2006. Namun lantaran proyek belum selesai, rencana itu ditunda sampai Maret lalu. Namun saat tiba waktunya, lagi-lagi rencana itu kandas tanpa penjelasan.
Rencana itu pun terealisasi pada 20 Juli yang lalu. Pesawat model yang merupakan skala 8,5 persen dari ukuran pesawat sebenarnya itu terbang membelah langit. "Penerbangan X-48B sebaik yang kami prediksi dan kami akan meneruskan pengumpulan data penerbangan pada musim panas dan musim gugur mendatang," kata Gary Cosentino, manajer proyek Dryden Blended Wing Body.
DEDDY SINAGA | AP | BOEING | DAILYTECH | WIKIPEDIA




Komentar Anda :