Phoenix Terbang ke Mars

Selasa, 07 Agustus 2007 | 15:38 WIB

TEMPO Interaktif, CAPE CANAVERAL:Detik-detik menjelang peluncuran Phoenix Mars Lander, Sabtu lalu, Peter Smith berlari keluar dari ruang pusat pengendali di pangkalan udara militer di Florida, Amerika Serikat. Peneliti utama misi dari University of Arizona itu tak mau kehilangan kesempatan melihat dengan matanya sendiri bagaimana wahana itu meluncur ke arah planet yang tampak seperti bintang merah di langit.

"Dia seperti bisa mencium baunya, mengarah ke tujuannya," kata Smith seraya tertawa. "Mirip seekor anjing pemburu, dia akan menemukan Mars."

Peneliti lainnya, seperti Michael Hecht dan staf Jet Propulsion Laboratory di badan antariksa Amerika Serikat, NASA, memilih berkumpul di pantai. Mereka menghitung mundur 10 detik terakhir peluncuran itu lalu berteriak, "Go, baby!" dan melakukan toast dengan sampanye di tangan. Kerja keras mereka selama empat tahun mempersiapkan Phoenix telah terbayar dengan menyaksikan wahana itu meluncur ke angkasa.

Tak sampai enam jam kemudian, Phoenix Mars Lander yang diluncurkan pada pukul 05.26 waktu setempat atau 09.26 GMT itu telah berjarak 587,4 kilometer dari bumi. Menumpang roket Nir awak Delta II, Phoenix melesat dengan kecepatan jelajah lebih dari 19.312 kilometer per jam. Pejabat misi menyatakan segalanya bekerja sempurna. "Pemberhentian berikutnya adalah Mars," kata Doug McCuistion, direktur program Mars NASA.

Jika semua berjalan sesuai dengan rencana, wahana itu akan mendarat di dataran Arktik Mars pada 25 Mei 2008. Ini bukan perkara mudah, hanya lima dari 15 misi yang dikirimkan ke Mars bisa menjejakkan kaki ke planet tersebut. Untuk mencapai planet merah itu, Phoenix Lander harus menempuh 679 juta kilometer dalam tempo 10 bulan.

Bila tahap ini sukses dilalui, wahana itu akan melewatkan tiga bulan untuk menggali tanah dan es, menganalisis sampel dalam oven superkecil dan mangkuk pencampur. Tentu yang dicarinya bukan makhluk hijau dengan mata hitam besar, melainkan jejak senyawa organik dalam sampel tanah dan air yang telah dilembapkan dan dipanggang. Bisa jadi senyawa itu adalah indikator kondisi yang memungkinkan adanya kehidupan, sekarang atau dahulu kala.

Jika senyawa organik ini ditemukan di Mars, ada kemungkinan materi ini terawetkan dalam es. Itu sebabnya NASA mengarahkan Phoenix ke belahan utara Mars di bagian atas, tempat es dipastikan tersembunyi di bawah permukaan.

Tebal tanah yang menutupinya cuma 15,2 sentimeter. Masalah sepele bagi lengan robotik Phoenix untuk menggalinya. Namun, es di bawahnya diperkirakan sama kerasnya dengan beton sehingga dibutuhkan bor di ujung sekop untuk mengambil sampel beku sedalam 50 sentimeter.

Di laboratorium Phoenix, contoh tanah dan es itu akan dipanaskan dan uapnya dianalisis. Sampel tanah itu juga akan dicampur dengan air dan larutan lumpur tersebut akan diperiksa di bawah mikroskop. "Kami ke sana hanya untuk mengetahui apakah kondisinya cukup ramah bagi kehidupan mikroba," kata William Boynton, ketua ilmuwan untuk eksperimen oven dari University of Arizona.

Boynton memperingatkan, meski Phoenix bisa menemukan molekul organik, ada kemungkinan molekul itu berasal dari meteorit yang menumbuk Mars. "Harus diingat, kami hanya mencari molekul organik untuk melihat apakah kondisinya cocok bagi mereka bertahan hidup," katanya. "Kami tak akan membuat kesimpulan apa pun soal apakah molekul itu indikasi adanya kehidupan."

Misi ini jelas amat mahal dan berbahaya untuk sekadar mencari molekul. Keseluruhan misi ini bernilai Rp 3,87 triliun. Belum lagi risiko kegagalan yang harus ditanggung. Sebab, dari 15 misi yang dikirimkan Amerika Serikat, Rusia, dan Eropa, hanya lima yang berhasil mencapai Mars. Sisanya gagal total.

Namun, tim Phoenix menyatakan pihaknya telah mengetes semua kemungkinan terjadinya kegagalan dan terus mencoba selama pesawat itu menuju Mars. Alasannya, NASA belum pernah mendaratkan pesawatnya di kutub Mars. "Fokus kami adalah menerbangkan wahana itu ke titik pendaratan yang kami pilih dan melanjutkan pengujian serta pengetesan semua proses penurunan dan pendaratan pada 25 Mei tahun depan," kata Barry Goldstein, manajer proyek misi di Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena, California.

Sebuah wahana pendarat lainnya, yang seharusnya mendarat di kutub selatan Mars pada 1999, langsung hilang kontak begitu sampai. Kegagalan itu, ditambah hilangnya orbiter pendampingnya, mendorong NASA membatalkan misi pendaratan lainnya pada 2001. Berbagai peralatan dari misi tak jadi itu kemudian digunakan untuk Phoenix sekaligus menjadi alasan pemilihan nama wahana tersebut. Phoenix adalah burung dongeng yang bisa hidup lagi dari abu tubuhnya.

Kutub utara Mars mungkin terlalu dingin bagi Phoenix. Untuk berjaga-jaga, para ilmuwan sepakat memilih lokasi pendaratan sedikit di bawahnya. Phoenix akan dilepaskan 68,35 derajat lintang utara, setara dengan Greenland atau Alaska bagian utara di bumi, dan 233 derajat bujur timur. Wahana ini akan diturunkan memakai parasut dan mesin pendorong akan mempermudah pendaratannya.

Zona mendatar dan bebas batu sengaja dipilih sebagai lokasi pendaratan. Target pendaratan adalah "Kansas flat", sebuah tempat yang menurut tim wahana itu aman bagi pendaratan. Sebab, batu besar bisa menggulingkan wahana pendarat berkaki tiga atau menabrak panel surya bundar sehingga membuatnya macet.

Diharapkan Phoenix akan membuka jalan bagi manusia untuk berkunjung ke planet merah itu, terutama jika berhasil mengkonfirmasi adanya air dalam jumlah besar, begitu kata Michael Meyer, pemimpin ilmuwan NASA. Es itu akan menjadi sumber daya yang amat berharga.

Lain soal jika materi organik benar-benar ditemukan. "Mungkin Anda tak mau mengirim manusia sampai Anda mengetahui lebih banyak soal planet itu," ucap Meyer. "Mengetahui apakah ada kehidupan yang bermula di sana."

l tjandra dewi | newscientist | phoenix | AP

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :