Menyulap Batu Bara Menjadi Gas

Rabu, 15 Agustus 2007 | 20:15 WIB

TEMPO Interaktif, KARANGANYAR:

Jangan menganggap batu bara sebagai sebongkah batu hitam yang padat. Lihatlah batu bara sebagai suatu massa atom karbon, hidrogen, sulfur, dan nitrogen. Bila massa ini dibongkar oleh seorang ahli kimia, terjadilah suatu substansi baru, yaitu gas.

Gas dari hasil gasifikasi batu bara itulah yang dilirik oleh PT Mandala Energi Terapanindo (MET), salah satu perusahaan milik Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto, sebagai energi alternatif pengganti bahan bakar minyak (BBM). Energi alternatif yang dinamai Baragas ini diklaim bisa menghemat penggunaan bahan bakar sampai 70 persen dibanding BBM. "Ini sangat cocok untuk industri kecil dan menengah," kata Tommy pada saat peluncuran Baragas, awal Agustus lalu.

Husni Mursyid, Direktur Niaga dan Pabrikasi PT MET, menyatakan energi yang dihasilkan setiap liter solar setara dengan 3 kilogram batu bara. Dengan asumsi harga solar Rp 5.000, penggunaan Baragas hanya membutuhkan Rp 1.500 dengan hasil energi setara 1 liter solar.

Selama setahun, gas berbahan baku batu bara ini telah diujicobakan di Lampung untuk pengeringan jagung. "Daripada menggunakan solar, akan lebih murah menggunakan teknologi ini. Setelah industri, saat ini tengah kami galakkan untuk sektor pertanian di Lampung, Garut, dan Cirebon," katanya.

Pada uji coba di Hotel Lor In di Karanganyar, Jawa Tengah, Baragas dipakai untuk menyuplai energi bagi pemanas air dan laundry. "Sengaja kami pakai untuk hotel guna menunjukkan bahwa teknologi benar-benar aman," ujar Tommy.

Panas yang dihasilkan Baragas bisa mencapai 1.400 derajat Celsius sehingga bisa dimanfaatkan untuk memanaskan boiler di hotel itu. Jika tidak dipakai, unit konversi itu dimatikan sehingga tidak berbahaya. "Di hotel, Baragas dialirkan melalui pipa besi, dimanfaatkan untuk laundry dan pemanas air untuk kamar-kamar hotel,'' ujar Catur, operator Baragas di Hotel Lor In.

Sejak dipakai pada awal Juli lalu, penghematan bahan bakar di hotel milik Tommy itu mencapai Rp 90 juta. Unit konversi yang digunakan di hotel itu berkapasitas setara 50 liter solar per jam. "Dari hitung-hitungan penghematan selama sebulan itu, dibandingkan dengan investasi Rp 250 juta yang ditanamkan di sini, diperkirakan dalam waktu kurang dari 3 bulan sudah impas," kata Tommy.

Untuk menghasilkan energi yang murah ini, Eko Djatmiko, penemu Baragas, menuturkan bahwa prinsip kerja teknologi ini adalah oksidasi. Reaksi antara karbon dari batubara dan oksigen itu menghasilkan gas sintetis yang murah serta ramah lingkungan karena tidak menimbulkan polusi udara. "Kontrol terhadap panas dan energi yang dihasilkan juga mudah karena stabil dan tidak berbahaya," kata Eko, yang juga Direktur Produksi PT MET.

Pembuatan gas dari batu bara ini, Eko melanjutkan, jauh lebih ramah lingkungan ketimbang pemakaian batu bara secara konvensional, yaitu pembakaran langsung. Dalam teknologi Baragas, pembakaran batu bara tidak lengkap atau tidak sampai menghasilkan api, menghindari terjadinya limbah karena gas, karbon, dan sisa pembakaran terbuang percuma.

''Tapi dengan teknologi kami ini, gas yang keluar ditampung dan diberi perlakuan khusus, ditambah tar, dan diolah lagi sehingga menghasilkan gas yang bisa dialirkan untuk digunakan secara langsung bagi keperluan apa pun," kata Eko. "Limbahnya bisa untuk bahan metanol, urea, dan amonia sehingga tidak terbuang percuma."

Energi alternatif sebenarnya hal baru bagi Eko, yang sebelumnya bekerja di bidang industri makanan. Bila tahun lalu Eko bergelut dengan makanan instan dan sirop, kini dia harus rela mengotori tangannya dengan batu bara. "Terpaksa banting setir," ujarnya. "Kalau terus berfokus di makanan bingung juga karena biaya produksi terus meningkat, apalagi BBM makin mahal."

Namun, hanya butuh waktu 4 bulan bagi lulusan teknologi pangan Institut Pertanian Bogor itu untuk melakukan riset dan melahirkan Baragas. Dari hasil coba-coba dan baca buku, Eko bisa mewujudkan teknologi yang telah dipatenkan ini.

Teknologi temuan Eko ini ternyata menarik perhatian Tommy, yang langsung mengajaknya bekerja sama. "Kebetulan perusahaan Humpuss sejak 2006 juga melakukan riset energi, tapi belum berhasil," kata Eko, Direktur Produksi PT MET. "Jadi langsung nyambung karena ide hampir sama."

Meski baru diluncurkan, Eko yakin Baragas bisa berkembang karena Indonesia punya cadangan batu bara yang melimpah. Sebagai bahan baku Baragas, PT MET menggunakan batu bara berbentuk kerikil ukuran 1-5 sentimeter. Batu bara yang didatangkan dari Kalimantan itu dipilih dari jenis yang bisa mengeluarkan 5.000 kalori ke atas.

Untuk sementara, Baragas memang baru menyentuh kalangan industri. Karena satu unit alat konversi cukup mahal, mulai dari Rp 135 juta. Makin mahal bergantung pada kapasitasnya. Alat konversi senilai Rp 2,6 miliar, misalnya, mampu menghasilkan energi setara 700 liter per jam.

Pabrik Baragas yang terletak di Cikampek, Jawa Barat, juga baru bisa memproduksi 10 unit alat konversi tiap bulan. "'Sekarang baru kami pakai untuk industri, tapi ke depan akan kami produksi massal," kata Husni. "Nantinya Baragas ini juga akan kami kembangkan untuk memutar turbin dan menghasilkan listrik. Sudah ada permintaan ke arah sana."

anas syahirul | tjandra dewi

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :