Badai Petir Saba Kota
Jum'at, 17 Agustus 2007 | 17:13 WIB
TEMPO Interaktif, Washington:
Waspadalah orang-orang kota. Badai disertai petir dan guruh (thunderstorm) ternyata terjadi lebih intensif di tengah kota ketimbang di pinggirannya.
Badai yang kerap disebut juga badai elektrik itu disemai oleh awan kumulonimbus yang tinggi dan berkolom-kolom di langit. Petir terjadi akibat adanya tegangan listrik yang terbentuk di dalam badai berkaitan dengan pergerakan butir-butir air yang diterbangkan angin.
Badai ini kerap diikuti hujan yang amat deras, hujan es, dan tornado.
Para ilmuwan sebetulnya sudah lama berpandangan bahwa lingkungan urban ada kaitannya dengan keberadaan badai di sana. Tapi peneliti dari Universitas Princeton telah melakukan observasi badai ekstrem yang melanda Baltimore pada Juli 2004.
Selama badai itu, Baltimore mengalami serangan petir dan guruh dari langit sambung-menyambung selama 2 jam. Petir itu kebanyakan terjadi di sudut barat kota tersebut, kawasan paling padat dengan bangunan tinggi menjulang. "Sepertinya cahaya-cahaya yang tiba-tiba itu bisa merasakan adanya kota," kata Alexandros Ntelekos, salah satu peneliti.
Para peneliti itu menemukan tiga sebab yang menjelaskan mengapa badai begitu menyukai perkotaan. Sebab pertama adalah kota-kota menghasilkan temperatur yang lebih panas antara 2 hingga 5 derajat Fahrenheit daripada tanah tanpa bangunan. Panas tambahan ini bak bahan bakar bagi petir tersebut.
Sebab kedua, banyaknya bangunan pencakar langit. Bangunan-bangunan itu menjadi semacam tahanan, yang menghalangi gerak bebas angin. Akibatnya, udara bak "direbus". Udara menghangat dan semakin banyak mengikat air. Dampaknya, curah hujan pun semakin tinggi.
Sebab terakhir adalah erosol. Partikel-partikel amat kecil ini dibuang ke udara dan volumenya jelas lebih tinggi di kota, yang udaranya dikotori oleh polusi dari kendaraan dan industri. Ntelekos dan timnya yakin bahwa erosol berperan meningkatkan curah hujan di Baltimore.
Interaksi nyata antara badai dan kota punya konsekuensi kritis bagi para pembuat kebijakan, khususnya dengan kecenderungan semakin dahsyatnya badai akibat pemanasan global. "Badai petir pada musim yang hangat ada kemungkinan meningkatkan kilatan cahaya panas yang sangat berbahaya," kata James Smith, salah seorang anggota tim peneliti itu.
Dampak badai di kawasan urban telah terjadi di Kota New York dua pekan terakhir. Hujan dengan curah 2,5 inci membasahi bumi selama 3 jam. Akibatnya, terjadi banjir di terowongan kereta bawah tanah dan sejumlah fasilitas komuter. Sebuah badai tornado yang merusak juga tercipta di Brooklyn.
"Badai yang terjadi di New York adalah salah satu contoh yang harus kita perhatikan demi masa depan," kata ahli iklim Princeton, Michael Oppenheimer.
DEDDY SINAGA | LIVESCIENCE | WIKIPEDIA





