|
Perubahan Status Burung di Maluku
Senin, 20 Agustus 2007 | 14:23 WIB
TEMPO Interaktif, Tanimbar:
Organisasi pelestari burung liar, Burung Indonesia, menemukan adanya perubahan status sejumlah burung endemi Maluku berdasarkan kajian sejak awal tahun ini. Dalam rilisnya kepada Tempo akhir pekan lalu, disebutkan bahwa ada satu spesies yang turun menjadi subspesies dan kenaikan tingkat tiga subspesies menjadi spesies baru.
Burung yang turun status adalah adalah kedasi pipi hijau (Chrysococcyx rufomerus). Berdasarkan penelitian pada 1996 diketahui bahwa burung ini masih berkerabat dekat dengan kedasi laut (Chrysococcyx minutillus) sehingga kini menjadi subspesies saja.
Adapun burung yang naik tingkat adalah gosong tanimbar (Megapodius tenimberensis), yang hanya terdapat di Kepulauan Tanimbar. Dalam publikasi ahli biologi Paul Andrew pada 1992, burung ini dianggap subspesies gosong kaki merah (Megapodius reinwardt).
Tapi Burung Indonesia menyatakan gosong tanimbar memiliki jambul yang lebih pendek, ekor yang lebih panjang, serta tungkai kaki, jari, dan kuku yang lebih pendek daripada gosong kaki merah. Alhasil, burung ini pun menjadi satu spesies tersendiri.
Burung endemi lain yang meningkat statusnya adalah anis buru (Zoothera dumasi) dari Pulau Buru dan anis seram (Zoothera joiceyi) dari Pulau Seram. Sebelumnya, kedua jenis ini adalah subspesies dari anis maluku (Zoothera dumasi).
Juru bicara Burung Indonesia, Rachma Tri Widuri, mengatakan terjadinya perubahan tersebut lantaran bertambahnya pengetahuan para pengamat burung. "Informasi dan pengetahuan yang semakin lengkap semakin membuka mata kami," katanya.
Meski begitu, Burung Indonesia mengkhawatirkan kelestarian burung-burung endemi Indonesia akibat pemanasan global. Fenomena ini dianggap bertanggung jawab atas kenaikan permukaan laut yang membuat sejumlah pulau kecil di Maluku terancam tenggelam.
DEDDY SINAGA
INDEKS BERITA LAINNYA :
|