Hutan Indonesia Tidak Menolong Bumi

Selasa, 21 Agustus 2007 | 16:34 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Indonesia adalah negara pembuang unsur gas rumah kaca, C02, terbesar ketiga di dunia. Saat ini Indonesia hanya kalah dari Amerika Serikat dan Republik Rakyat Cina. Data itu diungkap tokoh lingkungan, Profesor Emil Salim, dalam orasi pengukuhan dirinya sebagai Perekayasa Utama Kehormatan Bidang Ekologi, Kebumian, dan Lingkungan di lingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Selasa siang.

Emil menyatakan emisi C02 terbesar di Indonesia bukan berasal dari bidang energi—seperti kedua negara di atasnya—tapi dari pembakaran hutan. Kondisi yang terus terjadi sepuluh tahun terakhir itu, menurut Emil, memungkinkan Indonesia melejit menjadi negara nomor satu pencemar udara di dunia pada 2020.

“Harus ada perubahan kalau tidak ingin jadi raja emisi,” katanya sambil mengutip isi peraturan daerah di Riau yang malah mengizinkan membuka lahan dengan cara membakar hutan asal luasannya kurang dari dua hektare.

Emil juga mengkritik pola pembangunan jalan di beberapa negara Asia, termasuk Indonesia, yang meniru pola di Amerika Serikat. Di negeri itu, proporsi darat memang jauh lebih besar ketimbang air, sehingga butuh sarana jalan untuk mobilitas warganya. Nah, kebutuhan otomotif, berarti pula kebutuhan bahan bakar. Buntut-buntutnya adalah emisi gas rumah kaca dan bumi akan semakin panas.

Disinilah, Emil menyarankan, pentingnya kebijakan sektoral yang mengutamakan fungsi ketimbang produknya, selain berbagai kebijakan energi yang rendah unsur karbon. “Kita tidak akan perlu mobil kalau sistem transportasi lancar,” katanya memberi contoh.

Dalam orasinya, Emil berpesan khusus kepada para ilmuwan dan perekayasa untuk memasukkan tantangan perubahan iklim serta penanggulangannya dalam keahlian atau pekerjaan masing-masing. Ia juga meminta kelompok yang sama ikut mematok sasaran Indonesia sejahtera pada 2020 lewat sains dan teknologi hasil penelitian dan terapan.

“Sekarang kita boleh mengkritik, tapi jangan lalu tidur,” begitu katanya.

(wuragil)

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :