Jepang Bangun Sistem Peringatan Gempa
Sabtu, 25 Agustus 2007 | 16:14 WIB
TEMPO Interaktif, TOKYO:
Untuk membangun sistem peringatan dini itu, badan meteorologi Jepang dan stasiun penyiaran nasional NHK bekerja sama memberi tahu publik sekitar 30 detik sebelum gempa terjadi. Sistem pertama di dunia itu sama sekali tidak meramalkan gempa, tapi sekadar memberi kesempatan agar warga menjauh dari kaca jendela atau mematikan kompor untuk mencegah kebakaran.
Peringatan dini dianggap sangat penting bagi negara yang paling sering diguncang gempa itu. "Jika kami bisa memberi cukup waktu bagi mereka untuk melindungi diri sebelum guncangan dimulai, korban dan kerusakan bisa dikurangi," kata Makoto Saito, juru bicara badan meteorologi Jepang.
Sistem peringatan itu akan mulai diaktifkan pada Oktober mendatang. Sistem itu bekerja berdasarkan data dari badan meteorologi yang diambil dari jaringan sensor bawah tanah yang memperkirakan intensitas sebuah gempa segera setelah guncangan terjadi. Alarm bisa berbunyi sebelum getaran dimulai karena adanya kelambatan antara waktu yang diperlukan gelombang seismik berbeda untuk mencapai permukaan.
Peringatan ini akan bekerja dengan mendeteksi gelombang awal, yang menyebar dari epicenter sebuah gempa dan sampai lebih cepat dibanding getaran gempa yang merusak. Ketika gelombang dengan intensitas tertentu terdeteksi, alarm akan menyala. Stasiun penyiaran NHK akan me-relay peringatan tersebut pada saat itu juga lewat televisi dan radionya.
Namun, sistem ini belum sempurna. Petir atau gangguan lain bisa memicu alarm palsu. Sistem ini juga tidak bekerja pada daerah yang langsung berada di atas patahan yang terpecah-pecah karena dua gelombang terjadi hampir simultan. Warga juga harus menonton televisi atau mendengar radio untuk mengetahui adanya peringatan.
Meski begitu, badan meteorologi Jepang menyatakan sistem itu bisa membantu memberi peringatan waspada tsunami setelah gempa 6,9 pada skala Richter di Jepang Utara, Maret lalu . Peringatan itu dua menit lebih cepat daripada sistem lama. Mereka juga bisa memberi perintah sebelum gempa 6,8 pada skala Richter terjadi bulan lalu.
Jepang, yang berada di atas empat lempeng tektonik, telah diguncang 83 kali gempa besar yang menimbulkan kerusakan parah sejak Maret 1996. Gempa terakhir yang terjadi bulan lalu menewaskan 11 orang serta menyebabkan kebakaran dan kebocoran radiasi di pembangkit nuklirnya.
AP





