Menjemput Kotak Hitam Adam Air
Selasa, 28 Agustus 2007 | 13:21 WIB
TEMPO Interaktif, Makassar:
Operasi pengangkatan kotak hitam pesawat Adam Air bernomor penerbangan 574, yang jatuh pada awal tahun ini, telah dimulai pada Jumat pekan lalu. Kabarnya, kotak itu telah ditemukan dan akan diterbangkan ke Washington, Amerika Serikat, untuk diteliti lebih lanjut.
Pengangkatan kotak itu dilakukan sebuah kapal berbendera Siprus, yang bertolak pada pukul 13.00 waktu setempat dari Pelabuhan Soekarno Hatta, Makassar, Sulawesi Selatan.
Pada Sabtu dini hari waktu setempat, setelah menempuh 10 jam perjalanan, kapal bernama EDT Offshore itu tiba di perairan Majene, dekat lokasi yang diperkirakan tempat hanyutnya kotak hitam Adam Air.
Lokasi tersebut dideteksi oleh kapal Angkatan Laut Amerika Serikat, Mary Sears, beberapa pekan setelah kecelakaan yang menewaskan 96 penumpang dan 6 awak pesawat itu. Kapal ini menemukan kotak itu hanyut 1,4 kilometer jauhnya dari lokasi bangkai pesawat di kedalaman sekitar 2.000 meter di bawah permukaan laut.
Untuk menjemput kotak hitam, kru EDT menerjunkan kapal selam mini bernama Remote Operation Vehicle (ROV). Kapal selam ini bertugas mencari, membersihkan, dan mengangkat kotak hitam pesawat jenis Boeing 737-400 itu ke permukaan.
Kotak hitam, yang sesungguhnya berwarna oranye itu, berisi rekaman data penerbangan serta suara di kokpit pesawat yang terbang dari Jakarta menuju Manado via Surabaya tersebut.
Tapi, "Tidak tertutup kemungkinan kalau menemukan serpihan pesawat yang besar akan diambil juga," kata Ketua Komisi Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi kepada Tempo di Jakarta kemarin.
ROV itu sanggup menyelam hingga kedalaman 6.000 meter dan dilengkapi dengan sonar serta kamera perairan dalam. Kapal selam tanpa awak itu juga dilengkapi penyemprot, lengan robotik (manipulator) untuk mengambil benda, serta sebuah keranjang.
Staf Phoenix, Josep Maich, yang ikut dalam pelayaran itu mengatakan ROV dikendalikan dari sistem komputer yang ada di EDT, kapal buatan 1975 yang telah dimodifikasi pada 1998. Kapal ini dioperasikan oleh Phoenix International, sebuah perusahaan yang berkantor pusat di Chicago, Amerika Serikat.
Kapal ini disewa lantaran kemampuannya mengatasi berbagai kondisi gelombang lautan. "Kapal ini dapat tetap tenang dan stabil meski diempas gelombang," kata Tatang.
Kapal ini dioperasikan 18 anak buah kapal yang berasal dari berbagai negara. Selain itu, dua anggota KNKT, yakni Dr Ir Suriyanto dan Frans Wenas, serta ahli robotika dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Dr Elyas, ikut menumpang.
Kapal ini juga mengangkut seorang staf pabrik pesawat Boeing, anggota Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) Amerika Serikat, anggota Otoritas Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA), lima staf Phoenix, dua staf Adam Air, serta empat tenaga ahli.
Operasi pengambilan kotak hitam itu sebetulnya direncanakan tak lama setelah kecelakaan terjadi. Namun, operasi pengangkatan tak kunjung dilakukan karena belum diketahui siapa yang akan membiayai operasi tersebut.
Pekan lalu, Direktur Operasi Adam Air Irawan Soegondo akhirnya mengatakan biaya itu akan ditanggung sebagian oleh Adam Air. Tapi dia tak bersedia menjelaskan sumber dana yang lain. "Kalau berbicara masalah biaya saat ini masih terlalu dini," katanya.
Irawan optimistis operasi tersebut akan berjalan sukses. Apalagi menimbang bahwa kapal dari Phoenix ini terbilang canggih dan hanya ada dua di dunia. "Memesannya pun membutuhkan waktu dua bulan," ujarnya.
DEDDY SINAGA | IRMAWATI (MAKASSAR)





