Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Japanese  
Mandarin  
Apa Itu RSS?
   

Jupiter, Kawan atau Lawan?
Rabu, 29 Agustus 2007 | 16:10 WIB

TEMPO Interaktif, POTSDAM/b>:
Selama lebih dari satu dekade, Jupiter dianggap sebagai perisai antariksa bagi bumi. Para astronom percaya planet raksasa itu menangkis asteroid dan komet menjauhi tata surya bagian dalam.

Gaya tarik gravitasi planet gas itu dipercaya bisa melontarkan semua obyek yang mengancam bumi keluar dari tata surya. Tindakan Jupiter itu melindungi saudara kecilnya, bumi, dari kemungkinan tabrakan dan membantu mendukung kehidupan di dalamnya.

Namun, peran kakak melindungi adik kecilnya itu kini dipertanyakan. Sebuah studi pendahuluan mengindikasikan bumi bisa melindungi diri sendiri dengan cara serupa--bahkan lebih baik--tanpa bantuan Jupiter.

Hasil studi itu dipresentasikan pada European Planetary Science Congress di Potsdam, Jerman, akhir pekan lalu. Disebutkan bahwa bumi akan dihantam oleh sedikitnya satu kelas obyek langit, tanpa menghiraukan ada tidaknya Jupiter di sisinya.

Temuan itu jelas masih sementara, kata Jonathan Horner, astronom di Open University di Milton Keynes yang memimpin studi tersebut. Namun, dia menambahkan, peran Jupiter sebagai pelindung ada kemungkinan terlalu berlebihan. "Kelihatannya gagasan itu tak terlalu meyakinkan," ujarnya.

Ide Jupiter sebagai pembela bumi pertama kali diusulkan oleh ilmuwan planet, George Wetherill, pada 1994. Wetherill menunjukkan bahwa massa planet yang 318 kali lebih besar dari bumi itu cukup kuat untuk melontarkan komet yang mungkin menabrak bumi keluar dari tata surya.

Beberapa ilmuwan lain juga "mendalilkan" bahwa Jupiter menapis kerumunan asteroid berbahaya dan obyek lain sehingga membuat bumi menjadi tempat tinggal yang lebih aman. Studi lain justru menyatakan bahwa perubahan orbit Jupiter pada masa lalu ada kemungkinan justru meningkatkan jumlah obyek yang bakal menabrak bumi. Sampai saat ini, kata Horner, baru sedikit upaya yang dilakukan untuk menguji mana gagasan yang benar.

Dalam sebuah upaya untuk menguji itulah Horner dan rekannya, Barrie Jones, membangun sebuah model komputer untuk menguji beberapa versi tata surya pada cluster komputer Open University. Versi pertama dengan satu Jupiter dengan massa sebenarnya, versi kedua tanpa planet itu, dan yang lainnya dengan satu planet gas raksasa dengan massa seperempat, setengah, atau tiga perempat massa Jupiter.

Sistem itu juga berisi 100 ribu centaur, benda antariksa berukuran besar dan dingin dari sabuk Kuiper. Populasi induk dari keluarga komet Jupiter ini terletak dekat Pluto.

Setelah menjalankan model-model tata surya itu selama 10 juta tahun virtual, Horner dan Jones menemukan sejumlah hasil yang mengejutkan. Bumi berpeluang lebih dari 30 persen untuk ditumbuk satu centaur dalam sebuah tata surya dengan satu planet seukuran Jupiter ketimbang sistem tanpa planet Jupiter.

Bencana lebih parah bakal dialami bumi ketika ada planet berukuran menengah di lokasi yang ditempati Jupiter. Jupiter, dalam versi yang lebih ringan, membantu menarik centaur ke dalam tata surya bagian dalam, tapi tak punya cukup gravitasi untuk melempar mereka keluar. Akibatnya, sebuah planet berukuran seperempat massa Jupiter memperbesar kemungkinan bumi ditabrak asteroid atau komet sampai 500 persen bila dibandingkan dengan sistem tanpa ada planet di situ.

Bila tak ada planet raksasa sebesar Jupiter, centaur tak akan terbelokkan ke dalam orbit melintasi bumi. Alhasil, persentase tumbukan dengan bumi pun menjadi rendah.

Sedangkan kehadiran planet sebesar massa Saturnus (sepertiga kali Jupiter) akan menghasilkan gaya tarik gravitasi yang memasukkan obyek langit ke dalam orbit yang melintasi bumi. Tapi gravitasinya tak cukup besar untuk bisa melontarkannya dari tata surya. Ini berarti akan ada lebih benda langit yang berada pada orbit melintasi bumi serta kemungkinan tabrakan lebih besar.

Meski hasil studi Horner ini cukup meyakinkan, tak semua astronom mengiyakannya. Mark Bailey, Direktur Armagh Observatory di Irlandia Utara dan pakar asteroid penabrak bumi, menyatakan Horner lalai mempertimbangkan kemampuan Jupiter menangkis benda-benda penabrak bumi dari awan Oort, sebuah awan komet raksasa yang mengelilingi tata surya.

Horner juga tak memperhitungkan faktor sumber asal datangnya tabrakan, kata Alessandro Morbidelli, astronom di Observatoire de la Cote d'Azur, di Nice, Prancis. Sabuk asteroid antara Mars dan Jupiter memang ancaman paling besar, tapi ada benda langit lain yang melintasi bumi dalam tata surya.

Morbidelli menyatakan, untuk benar-benar memahami peran Jupiter sebagai pelindung, memerlukan sebuah kalkulasi bagaimana pengaruh planet itu terhadap banyak obyek yang lebih kecil. "Itu hal yang jauh lebih rumit untuk dilakukan," kata Morbidelli.

Menjawab tantangan tersebut, Horner dan timnya akan segera membuat simulasi yang melibatkan awan komet Oort dan obyek-obyek dari sabuk asteroid. Simulasi ini juga akan menghitung risiko tumbukan asteroid dengan bumi dan menguji peran posisi Jupiter dalam tata surya.

tjandra dewi | nature | sciencedaily


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk106514 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

Adinda Bakrie Gelar Resepsi Mewah
Indonesia Masuk Radar OECD
Presiden Kecewa Larangan Terbang ke Eropa Diperpanjang
Anwar: Aliran Dana BI Lebih Serius dari Korupsi Biasa
Pabrik Mittal Jadi Acuan Krakatau Steel

<< August,2007>>
MSnSl RK JS
   01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data