Presentasi ala Google
Selasa, 25 September 2007 | 10:39 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Pekan lalu, perusahaan raksasa Microsoft dikepung tiga rivalnya, yaitu para penyedia peranti lunak di jalur online: IBM, Google, dan Yahoo!. Pasalnya, IBM mengumumkan software gratis untuk aplikasi desktop Lotus Symphony, yang terdiri atas dokumen, spreadsheet, dan presentasi.
Sebelumnya, Yahoo! malah mengungkapkan rencananya membeli perusahaan yang baru muncul, Zimbra. Perusahaan itu memiliki spesialisasi di bidang perangkat surat elektronik online, yang mirip Microsoft Exchange ataupun Outlook.
Sementara itu, kompetitor yang paling menakutkan, Google, tak ketinggalan melempar software gratis untuk presentasi semacam PowerPoint, yaitu Google Presentations. "Ini merupakan ancaman nyata bagi model bisnis Microsoft," ujar analis teknologi Gartner, Tom Austin.
Sebab, kedatangan software itu sekaligus melengkapi aplikasi Google sebelumnya, Google Docs, Spreadsheet, dan Gmail, sebagai aplikasi online penantang Microsoft Office. Padahal program Office adalah penyumbang sepertiga dari keuntungan yang diperoleh Microsoft, yaitu sekitar Rp 42,2 triliun.
Seperti apa aplikasi presentasi baru dari Google itu? Perbedaan utama dengan PowerPoint adalah Google Presentations termasuk software as a service (SAAS), yang memungkinkan penggunanya untuk tak menginstalkan program itu ke komputer mereka.
Program ini ditanam di server pusat data milik Google dan dapat diakses oleh siapa saja yang terhubung ke Internet secara cuma-cuma. Maka penggunanya tak perlu repot-repot memutakhirkannya tiap kali versi terbaru muncul.
Selebihnya, aplikasi gratis ini memiliki banyak kesamaan fungsi dengan PowerPoint. Menurut Rebecca Wettemann, analis dari Nucleus Research, sebanyak 60 persen dari fitur Google Presentations sama dengan fitur PowerPoint.
Program ini dapat mengatur halaman-halaman slide, menjalankan presentasi, dan melakukan kolaborasi dalam sebuah presentasi. Pengguna dapat memanfaatkan file yang sudah ada atau membuat slide presentasi baru menggunakan penyunting slide yang link-nya disediakan oleh Google Documents ataupun Spreadsheet.
Selain itu, seperti halnya aplikasi Google Docs, Google Presentations menyediakan fitur kolaborasi yang menjadi nilai lebih dan tidak dimiliki oleh PowerPoint. Dengan fitur itu, secara simultan pengguna dapat bekerja sama membuat slide show dengan para kolaborator dalam sebuah slide deck.
Untuk melakukan audiensi, seluruh partisipan dapat terhubung ke sebuah link dokumen slide presentasi sembari mengikuti presentasi yang dibawakan lewat layanan pesan instan Google Talk. Melalui media chat yang interaktif itu, mereka dapat menyimaknya dan mendiskusikan materi presentasi dengan partisipan lain secara seketika.
"Ketika Anda membuat sejumlah slide presentasi, hampir pasti Anda akan membagikan kepada orang banyak. Sekarang para siswa, penulis, guru-guru, dan setiap orang yang menggunakan komputer bisa menikmati kolaborasi dalam format-format dokumen bisnis berbasis web secara real-time," ujar Sam Schillace, Engineer Director dari Google.
Sayangnya, aplikasi debutan ini belum memiliki fitur animasi atau transisi seperti yang disediakan oleh PowerPoint. Hal itu membuat aplikasi ini terkesan lebih "kering" dan kehilangan faktor "wow" untuk membuat audiensi terpukau.
Walau demikian, Google Presentations memang patut dicoba oleh para pelaku presentasi yang menginginkan aplikasi yang lebih sosial dan interaktif. Google Presentations sudah mampu membaca materi presentasi yang dibuat dalam format PowerPoint (ppt). Sementara konversi sebaliknya, dari Google Presentations ke format ppt, akan segera menyusul.
Macworld | Googleblog | Timesonline | Cnet | Indra Darmawan




Komentar Anda :