Menyimpan File di Internet Gaya Microsoft
Selasa, 02 Oktober 2007 | 09:52 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:
Bagai tak mau kalah oleh Google dan sejumlah perusahaan lain, Microsoft pun segera meluncurkan layanan gratis penyimpanan dokumen berbasis web yang disebut Office Live Workspace. Penggunanya bisa menyimpan dan berbagi dokumen aplikasi Word, Excel, dan PowerPoint secara online melalui jaringan Internet.
Tapi pembuatan dokumen dan editing-nya belum bisa dilakukan secara online sebagaimana Google dan pesaing lainnya. "Kami mendapati bahwa permintaan terbesar masih soal penyimpanan, akses, dan berbagi dokumen secara online," kata Eric Gilmore, Manajer Produk Senior untuk Microsoft Office, kemarin.
Kemarin Microsoft sudah membuka praregistrasi untuk Office Live Workspace versi beta. Program uji coba beta itu rencananya akan dimulai sejak akhir tahun ini.
Pada layanan Workspace, pengguna bisa menyimpan sampai 1.000 dokumen dan mengaksesnya di mana pun ia suka. Cara ini tak memerlukan disket atau sarana penyimpan lain lantaran dokumen akan tersimpan dan dikelola oleh komputer Microsoft.
Pengguna layanan itu bisa berkolaborasi untuk berbagi, mengunduh, dan mengedit dokumen di komputer pribadi masing-masing lalu menyimpannya kembali secara online.
Layanan yang bekerja pada Internet Explorer dan Firefox itu menyediakan fasilitas peringatan bila ada orang lain yang mengakses dokumen itu. Dokumen yang disimpan bisa dilacak versi history-nya atau disediakan backup bila memakai versi yang lebih lawas.
Fitur lain adalah Shared View, yang mengizinkan orang menyaksikan desktop kolaborator lain secara real-time untuk menyaksikan perubahan yang mereka lakukan pada dokumen itu. Workspace akan bekerja pada aplikasi mulai Office 97, tapi belum bisa digunakan untuk aplikasi Office komputer Macintosh.
Bagi perusahaan besar, Microsoft akan menjadi host buat pusat data berupa surat elektronik, kolaborasi kelompok kerja, pesan instan, dan layanan online dengan konsumen perusahaan tersebut. Melalui cara ini, perusahaan tak perlu memiliki penyimpan digital berkapasitas besar.
Microsoft juga mengintegrasikan Workspace dengan produk Live lain, seperti Windows Live Hotmail dan Windows Live Messenger. Kedua layanan terakhir memungkinkan orang melihat lampiran Office yang didapatnya lewat surat elektronik atau instant messaging.
Tapi Workspace tidak akan bekerja pada komputer yang tak dilengkapi peranti Word dan Excel berlisensi seperti di rental-rental kecil. "Itu hanya pengecualian," kata Gilmore.
Bila menyimak fitur-fitur di atas, Microsoft tampaknya harus bisa menyajikan yang lebih baik ketimbang Google Docs dan Google Apps, yang dirintis sejak awal tahun ini. Google malah sudah menyediakan fasilitas editing dan pembuatan dokumen secara online.
Google Apps, yang berbasis perusahaan, telah dipakai ratusan perusahaan kecil dan belasan perusahaan besar. Inilah layanan aplikasi online yang mengintegrasikan wordprocessor, spreadsheet, surat elektronik, kalender, dan pesan instan.
Selain Google, masih ada IBM yang meluncurkan Lotus Symphony. Adapun Adobe kemarin meluncurkan Virtual Ubiquity, sebuah start-up yang mengandung wordprocessor bernama Buzzword. Adobe juga memperkenalkan Share, fasilitas berbagi dan menyimpan dokumen berbasis web.
Analis dari Gartner, David Smith, mengatakan kehadiran Workspace adalah alternatif bagi publik untuk memilih layanan sejenis. "Mereka ingin dilihat sebagai pengekor cepat, tapi yang tampak, mereka adalah pengekor yang lambat," katanya.
Tapi Smith yakin layanan itu tidak akan menghantam penjualan program Office reguler, produk terbesar kedua Microsoft setelah Windows.
DEDDY SINAGA | CNET | SEATTLEPI | NEWYORKTIMES | LATIMES | AP





