Nicole Kidman ala Neanderthal
Rabu, 31 Oktober 2007 | 16:09 WIB
TEMPO Interaktif, WASHINGTON:
Rambut merah yang berapi-api adalah sesuatu yang digemari industri film Hollywood dan tak lekang oleh waktu. Julia Roberts, Nicole Kidman, Diane Keaton, dan Julianne Moore, semuanya berambut merah. Kini aktris muda berbakat dan mempesona, seperti Lindsay Lohan, dan Kirsten Dunst, juga berambut merah.
Namun, siapa sangka rambut merah yang menggetarkan hati itu ternyata punya akar yang teramat panjang, sampai puluhan ribu tahun lampau ketika manusia Neanderthal mendiami wilayah Eropa dan separuh Asia bagian barat. Karena hominid yang telah punah itu juga memiliki gen rambut merah dan kulit pucat, sama seperti Nicole Kidman dan Lindsay Lohan.
Temuan inilah yang membuat beberapa ilmuwan berpendapat citra Neanderthal kemungkinan besar harus direka ulang. Alasan mereka, beberapa dari manusia Neanderthal memiliki karakteristik yang dihasilkan oleh mutasi genetik itu. Selama ini manusia purba selalu digambarkan berambut gelap dan berkulit kecokelatan.
Adanya manusia purba berambut merah ini terungkap ketika sejumlah ilmuwan, yang mempelajari DNA Neanderthal, menemukan mutasi pada dua individu yang bisa mempengaruhi pigmentasi kulit dan rambut. Dalam laporan yang dipublikasikan jurnal Science itu, mereka menyatakan mutasi itu mengurangi fungsi gen MC1R.
Pada manusia modern, ketika ada mutasi yang sedikit berbeda mengurangi fungsi gen tersebut, maka akan dihasilkan rambut merah dan kulit pucat. Demikian dikatakan tim peneliti yang dipimpin oleh Holger Roempler dari Harvard University dan University of Leipzig, Jerman; Carles Lalueza-Fox dari University of Barcelona, Spanyol; dan Michael Hofreiter dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig.
"Kami menemukan varian MC1R pada Neanderthal yang tidak dijumpai pada manusia modern, tapi menyebabkan efek yang hampir sama pada rambut seperti yang terlihat pada manusia modern berambut merah," kata Lalueza-Fox.
Laporan temuan itu muncul seminggu setelah tim ilmuwan lain yang meneliti gen berbeda dan menyatakan Neanderthal ada kemungkinan memiliki kemampuan berbicara yang tinggi. "Makalah mereka membuat Neanderthal makin mirip manusia Eropa modern, dengan kulit pucat dan warna kulit serta kemampuan berbahasa, juga belum ditemukan adanya tanda perkawinan dengan manusia modern," kata ahli biologi molekuler di Barcelona itu.
Manusia purba yang satu ini memang pernah dianggap sebagai nenek moyang manusia modern. Namun, para pakar beranggapan Neanderthal adalah gang buntu dalam jalur perjalanan manusia yang menghuni Eropa dan sebagian Asia.
Mereka pertama kali muncul dalam catatan fosil sekitar 400 ribu tahun lampau dan sempat menjadi pemburu ulung yang mendominasi wilayah Inggris dan Iberia di bagian barat, Israel di selatan, dan Siberia di bagian timur.
Sedangkan spesies manusia yang hidup sekarang ini, Homo sapiens, berkembang di Afrika dan menggeser Neanderthal setelah memasuki Eropa sekitar 40 ribu tahun silam. Bukti terakhir keberadaan Neanderthal ditemukan di Gibraltar dan diperkirakan berumur antara 28-24 ribu tahun lalu.
Para ilmuwan telah lama berdebat soal kemungkinan kedua kelompok ini berbaur, tapi sebagian besar meragukannya. Namun, temuan Lalueza-Fox dan timnya membuktikan bahwa versi gen Neanderthal ini tak ditemukan pada manusia modern dan memperkuat dugaan bahwa tidak ada perkawinan silang di antara mereka.
Pekerjaan tim internasional ini adalah studi pertama yang mengekstrak DNA inti sel dari kerangka Neanderthal. Penelitian ini akan melahirkan cara baru untuk mempelajari manusia purba itu secara lebih mendalam. DNA inti sel adalah pembawa semua informasi genetik manusia, semacam cetak biru yang bisa menceritakan bagaimana karakteristik pemiliknya.
Dari dua kerangka Neanderthal yang ditemukan di Monte Lessini, Italia, dan gua El Sidron, Spanyol, itu, para ilmuwan membuat untaian DNA dari potongan gen MC1R-nya untuk membuat salinan yang dimodifikasi agar bisa dipelajari dalam tabung uji. Praktek ini sedikit rumit karena amat sulit memperoleh DNA dari spesimen kuno seperti itu. "Seperti menemukan sebatang jarum dari tumpukan jerami genomik," ujarnya. "Saya sempat tidak percaya kami menemukannya dan meminta hasilnya diulang. Akhirnya, varian itu ditemukan dalam dua Neanderthal terpisah di tiga laboratorium."
Analisis DNA itu memungkinkan mereka meneliti apakah gen itu menghasilkan melanin pada level yang sama dengan manusia modern berambut merah dan berkulit pucat. Variasi yang ditunjukkan dalam proses itu memang berbeda dengan manusia modern, tapi hasilnya sama.
Temuan ini membawa harapan bagi para ilmuwan untuk mengungkap lebih banyak aspek biologi Neanderthal yang tidak terawetkan dalam fosil. Lewat analisis genetika, penampilan manusia purba itu bisa diketahui, dari warna rambut, kulit dan matanya, sampai kimiawi sel dan kemampuan kognitifnya.
Hal ini akan membantu menjawab pertanyaan, mengapa kita, Homo sapiens, yang mewarisi dunia ini, bukannya mereka. Sebagai tahap awal, gen warna kulit dan mata adalah target para ilmuwan tersebut.
Dipilihnya gen itu bukan tanpa pertimbangan karena bagi manusia modern yang tinggal di khatulistiwa, kulit dan rambut gelap diperlukan untuk melindungi tubuh dari kanker kulit, yang dipicu oleh radiasi ultraviolet dari matahari. Sebaliknya, kulit pucat seperti yang ditemukan pada beberapa Neanderthal ada kemungkinan adalah produk rendahnya tingkat sinar matahari di wilayah yang jauh dari ekuator seperti Eropa.
"Ketika Anda keluar dari Afrika, tekanan selektif dari ultraviolet menghilang," kata Lalueza-Fox, "sehingga mutasi pada gen MC1R tetap survive dan menyebar dalam populasi itu."
Kulit yang pucat itu kemungkinan besar memberikan keuntungan evolusioner bagi Neanderthal karena memungkinkan kulit menyerap lebih banyak vitamin D dari matahari. Bagi orang di iklim tropis yang bermandikan sinar matahari, penyerapan vitamin D bukan masalah besar. Namun, di cuaca yang nyaris selalu berawan seperti di Eropa, penyerapan menjadi krusial.
tjandra dewi|AP|smh|bbc|nature





