Harimau dan Gajah Terjebak Kamera
Kamis, 01 November 2007 | 16:06 WIB
TEMPO Interaktif, LONDON:
Gambar binatang langka yang diambil secara rahasia itu adalah bukti bahwa wilayah yang semua dianggap tidak berharga untuk konservasi, ternyata menyimpan kekayaan hayati itu.
Institusi Zoological Society of London (ZSL) di Inggris sengaja memasang kamera pengintai dilengkapi sensor gerak, yang secara otomatis terpicu bila ada gerakan apa pun dalam jangkauannya. Mereka memperkirakan ada 250 harimau Sumatera hidup liar di sana, termasuk keluarga gajah.
Meskipun wilayah itu dihuni berbagai binatang besar, mereka tidak memperoleh perlindungan dari taman nasional. Penebangan liar kerap terjadi di hutan itu. Sebagian wilayah hutan juga dijadikan permukiman.
Hutan itu juga dialokasikan bagi eksploitasi beragam industri, seperti kelapa sawit dan pengolahan kayu, kata ZSL. Para ilmuwan yang tergabung dalam komunitas itu amat prihatin karena pemerintah Indonesia mengklasifikasikan daerah itu tak cocok untuk konservasi. "Ada asumsi bahwa seluruh lahan yang bukan hutan primer tidak berguna," kata Sarah Christie, manajer program institusi tersebut. "Kenyataannya, hal itu sama sekali tak benar."
Dalam survei selama 10 pekan, kamera ZSL mengambil puluhan gambar sejumlah mamalia besar yang bergerak di daerah itu, termasuk harimau Sumatera dan keluarga gajah Asia. Binatang itu diklasifikasikan sebagai binatang terancam punah oleh World Conservation Union (IUCN).
Kamera itu juga berhasil mengambil gambar tapir Asia, kucing emas, dan macan kumbang. IUCN mengklasifikasikan semua hewan itu rentan terhadap kepunahan.
Adnun Salampessy, seorang peneliti lapangan di institusi itu, menyatakan dia begitu heran melihat foto-foto tersebut. "Walaupun kami percaya wilayah ini amat penting, memiliki bukti aktual keberadaan binatang yang tidak terbantahkan itu sangat membesarkan hati," ujarnya.
Sebenarnya, Indonesia telah mengambil langkah konservasi yang semakin maju dalam beberapa tahun terakhir. Pada Januari 2007, pemerintah setuju membantu konservasi 22 juta hektare hutan hujan di jantung Kalimantan, blok hutan besar terakhir yang ada di pulau itu.
Christie berharap pemerintah Indonesia melakukan survei di daerah yang telah dieksploitasi itu untuk mengetahui apakah lahan itu digunakan sebagai habitat binatang langka tersebut sebelum mengalokasikan konsensi hutan itu untuk eksploitasi. "Ini adalah daerah yang baik untuk dilindungi," katanya.
Hutan seluas 2.000 kilometer persegi itu akan menjadi zona penyangga antara taman nasional dan permukiman penduduk di luar hutan.
newscientist





