Si Pelacak Kebakaran
Selasa, 06 November 2007 | 15:58 WIB
TEMPO Interaktif, EDWARDS:
Ruang kokpit Ikhana kosong. Tak ada satu pun manusia yang berada di atas pesawat Predator B milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) itu. Pilotnya, Mark Pescana, juga tengah berada di stasiun kendali darat di pusat riset penerbangan NASA Dryden.
Ikhana memang pesawat tanpa awak. Namun, itu tak menjadi kendala sedikit pun buat Ikhana untuk lepas landas dengan mulus dari markasnya, di Edwards Air Force Base, California, akhir Oktober lalu. Asap tebal yang mengepul di atas wilayah Lake Arrowhead, Running Spring, dan San Diego County yang tengah diamuk api juga tak mengganggunya.
Kondisi cuaca yang tidak menentu juga diterjangnya. Padahal semua pesawat US Forest Service tak bisa terbang untuk memetakan dan menganalisis kebakaran di California Selatan.
Dalam misi ini, Ikhana membawa pemindai modular mandiri, sebuah sistem inframerah-panas, yang dikembangkan di Ames Research Center NASA di California Utara. Sistem ini memungkinkan Ikhana mengintai menembus asap tebal dan kegelapan untuk menandai hot spot api dan perbedaan temperatur serta arah api.
Dia juga mampu memproses gambar di udara serta memancarkan informasi itu hampir real-time kepada para ilmuwan, yang menyesuaikannya dengan peta Google Earth. Kombinasi data dan peta ini membantu komandan pemadam kebakaran mengarahkan anak buahnya di lapangan ke lokasi yang harus dievakuasi.
Dalam kebakaran itu, tugas utama Ikhana adalah memindai kebakaran dalam jarak dekat dan mengirimkan pencitraan infra merah-panas itu kepada server pusat. Informasi itu bisa diakses oleh sejumlah badan, seperti Department of Homeland Security, pusat pelayanan darurat di California Selatan, dan Pentagon.
Jejaring yang melibatkan dua satelit teknologi tinggi membantu Ikhana memonitor kebakaran. Satelit Terra dan Earth Observing-1 (EO1) ini memiliki sensor dengan menggunakan teleskop dan kamera untuk memindai bencana alam yang terjadi di planet bumi dan mengirimkan datanya kepada para ilmuwan.
Sensor Terra memiliki jangkauan 1 kilometer, cukup besar untuk menemukan hot spot api dari antariksa, tapi terlalu besar untuk fokus pada lokasi yang spesifik. Sedangkan EO1 memiliki jangkauan 30 meter untuk pandangan lebih dekat sehingga memberikan informasi lebih terperinci bagi Ikhana.
NASA memadukan kedua sensor ini untuk menciptakan sebuah jaring sensor yang bisa dimanfaatkan oleh petugas penyelamat untuk memperoleh informasi secara cepat dan efisien. "Ini seperti saluran cuaca untuk kebakaran," kata Dan Mandl, manajer misi EO-1 di NASA. "Setiap sensor di dunia akan menjadi pemasok data dan kami memakai teknologi RSS sehingga tiap orang bisa menemukannya dan berlangganan."
Proses ini juga bekerja secara mandiri sehingga mempercepat proses pengumpulan data. Analisis satu gambar dari EO1 biasanya butuh waktu dua pekan, tapi gambar pertama kebakaran di California Selatan bisa dianalisis kurang dari 10 jam. "Petugas kebakaran perlu data sebanyak mungkin tentang lokasi api karena masalah terbesarnya adalah api tidak diam saja," kata Mandl.
Berkat bantuan Ikhana, kebakaran yang menghanguskan lebih dari 205.580 hektare, menewaskan 14 orang, dan menghancurkan 1.600 rumah itu sedikit demi sedikit bisa diatasi. Dia juga membantu menghitung kerugian yang disebabkan oleh kebakaran itu.
Pesawat yang berarti "cerdas" dalam bahasa suku Indian Cochtaw itu memang layak dijuluki senjata canggih untuk memadamkan kebakaran hutan, yang kerap terjadi di California. "Nama itu cocok sekali dengan tujuan pembuatan pesawat itu," kata Brent Cobleigh, manajer proyek Ikhana di NASA Dryden. "Mereka bisa mengumpulkan data sehingga para ilmuwan bisa memahami dan membuat model kondisi lingkungan serta iklim yang lebih baik. Juga meningkatkan kecerdasan pesawat tanpa awak untuk melakukan misi-misi lanjutan serta mendemonstrasikan teknologi yang dimiliki pesawat awak ataupun tanpa awak."
Sepupu Predator B, pesawat pengintai Amerika pada masa perang, ini memang memiliki semua kelebihan yang dimiliki kerabatnya itu. Bedanya, Ikhana khusus dimodifikasi demi misi kemanusiaan, bukan perang.
Meski berhasil membantu mengatasi kebakaran, Ikhana belum bisa dijadikan standar pemadaman berteknologi tinggi. Everett Hinkley, pejabat di US Forest Service menyatakan pesawat tanpa awak ini terlampau mahal dibandingkan dengan pesawat berawak. Tiap misinya memerlukan waktu persiapan yang lama. Sang pilot juga harus mahir menerbangkan pesawat dari jarak jauh.
Setelah misi pemadaman kebakaran, sederet tugas lain menanti Ikhana. NASA berencana memakai pesawat buatan General Atomics Aeronautical Systems Inc. ini untuk berbagai misi. Termasuk memantau lokasi bencana alam dalam skala berbeda, dari pencitraan satelit hingga data di level darat.
Nantinya, program Suborbital Science NASA akan menjadi konsumen utama Ikhana dan memakainya untuk penelitian ilmu kebumian. Bermacam instrumen sensor jarak jauh dan atmosfer, termasuk duplikat sensor pada satelit pengorbit, bisa dipasang untuk mengumpulkan data sampai 30 jam. "Pengumpulan data sepanjang siklus siang-malam hari di daerah terpencil dalam waktu lama mendorong keperluan akan pesawat tanpa awak," kata Cobleigh. "Pesawat berawak terbatas peraturan, yang melarang penerbangan sampai 10 jam, dan pesawat tanpa awak meminimalkan risiko bagi pilot bila harus terbang di wilayah tanpa landasan yang memadai."
tjandra dewi | cnn | dfrc | nasa | popular science




Komentar Anda :