Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Japanese  
Mandarin  
Apa Itu RSS?
   

Lebih Tajam, Lebih Cepat
Senin, 03 Desember 2007 | 10:41 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:

Sejak hiruk pikuk kamera digital SLR (Single Lens Reflect) dimulai, sekitar satu dasawarsa lalu, para fotografer puritan masih banyak yang bertahan dengan kamera film 35 mm. Namun, produsen kamera tampaknya tak ambil pusing. Buktinya, produk-produk kamera digital SLR terus bermunculan.

Menjelang tutup tahun ini, Nikon meluncurkan kamera digital SLR terbarunya, Nikon D3. Inilah generasi teranyar penerus kamera Nikon D1, produk digital SLR pertama pabrikan itu. Kelahirannya berselang delapan tahun.

Kamera yang menyasar kaum profesional ini menggunakan sensor ukuran penuh 35 mm (36x24 mm). Sensor kamera digital SLR lain biasanya hanya berukuran APS-C (28,1x18,7 mm).

Saat ini hanya ada segelintir kamera digital yang memiliki sensor 35 mm. Semuanya berharga premium, seperti Canon EOS-1D Mark III dan Canon EOS 5D. Namun, bak tak mau disamakan dengan para pesaingnya, Nikon menambahkan fitur-fitur canggih pada Nikon D3.

Sebagaimana kamera Nikon sebelumnya, D2X dan D2Xs, Nikon D3 menghasilkan jepretan beresolusi 12,1 juta piksel. Dengan resolusi sebesar itu, gambar yang dihasilkan bisa diperbesar hingga 16 x 20 inci atau 40 x50 cm, atau dua halaman majalah dengan resolusi pencetakan 300 dpi.

Kecepatan kamera ini juga terbilang tertinggi dibandingkan kamera digital SLR lainnya. Dalam mode full frame (FX), ia mampu mengabadikan sembilan gambar per detik. Adapun pada mode DX (5,1 megapiksel), ia malahan mampu mengabadikan 11 gambar dalam satu detik.

Kemampuan seperti ini hanya bisa dinikmati melalui kamera Canon 1D Mark III (10 frame per detik). Namun resolusi kamera ini lebih kecil, hanya 10 megapiksel.

Sensor CMOS yang dimilikinya juga meningkatkan kadar sensitivitas, dengan jangkauan ISO mulai dari 200 hingga 6400. Walhasil, gambar dengan noise rendah bisa dihasilkan dari kondisi pencahayaan yang minim.

Dengan konverter Analog ke Digital 14 bit, jangkauan kedalaman serta karakteristik warna yang dihasilkan jauh lebih banyak (sebelumnya hanya 12 bit). Selain itu, fitur itu juga turut bertanggung jawab untuk memperhalus warna gradasi serta memunculkan detil-detil yang sebelumnya tak terlihat.

Modul autofokus Multi-CAM 3500FX lebih bertenaga dibanding modul autofokus Multi-CAM 2000 pada Nikon D2Xs. Ia memiliki hingga 51 titik sistem autofokus yang masih lebih unggul dari Canon EOS 1 D Mark III yang hanya mampu mendeteksi 45 titik.

Pasalnya, Nikon D3 dilengkapi dengan sensor pengukur RGB 1005 piksel, yang dapat membedakan bentuk, posisi benda, serta mendeteksi obyek bergerak secara lebih akurat. Ini membuatnya sangat cocok untuk digunakan oleh fotografer olahraga, untuk menangkap obyek yang bergerak cepat.

Namun, desain tubuhnya tak banyak berubah dari Nikon D2Xs atau D2Hs, dengan ukuran 160 x 157 x 88 mm dan bobot 1,3 kg. Kamera hasil rancangan Italdesign milik Giorgetto Giugario ini, menyediakan dudukan lensa F-mount.

Layar LCD-nya berdiagonal 3 inci dan beresolusi 922 ribu piksel dan 170 derajat sudut pandang. Di tubuh Nikon D3 juga tersedia pangkalan HDMI untuk menampilkan gambar di layar berdefinisi tinggi.

Komponen shutter kamera ini terbuat dari bahan kevlar baru (komposit serat karbon), sehingga memiliki durabilitas yang tinggi, mampu bertahan hingga lebih dari 300 ribu siklus pengambilan gambar. Ia juga memiliki waktu startup yang singkat, 12 ms, mirror blackout 74 ms, dan waktu shutter release lag 41ms.

Di Indonesia, Nikon D3 akan tersedia pertengahan bulan ini. Harganya tak jauh dari kisaran harga jual di luar negeri, yaitu US$ 5000 atau sekitar Rp 47 juta.

INDRA DARMAWAN | CNET | DPREVIEW | LETSGODIGITAL

Dari Arsip Majalah TEMPO
Inovasi | 11 April 2005
Selamat Datang di Surga Nirkabel | 04 April 2005
Hijrah Seorang Penyiar MTV | 28 Maret 2005
Revolusi dari Ruang Bawah Tanah | 28 Maret 2005
Inovasi | 28 Maret 2005
Ketika Logam Mudah Keropos | 28 Maret 2005
Inovasi | 21 Maret 2005
Etalase | 21 Maret 2005
Inovasi | 14 Maret 2005
Etalase | 14 Maret 2005
>>selengkapnya ::


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 
Berita Terkait

Masyarakat Teknologi Informasi Terbentuk Tahun Depan
Hari ini Wapres Buka KIPNAS IX
Audio Mobil Punya USB
Google Adakan Kontes Ke Bulan
Urat, Sumber Energi untuk Berlari
Sang Pembersih Alami
Membersihkan Air di Lubang Galian
Mahasiswa Universitas Brawijaya Gelar Kontes Water Rocket
Plastik Peniru Tokek
Siapa pun (Kelak) Bisa Jadi Spider-Man
> selengkapnya...

Referensi

Kompos, Salah Satu Jalan Keluar Problem Sampah
Reusable Sanitary Landfill, alternatif pengolahan sampah Jakarta
Kesia-siaan TPST Bojong
Mengenal Teknologi Ballapress di TPST Bojong

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk112745 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

GELIAT SANG JAWARA
Boker Hidup Lagi!
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM
Pembantai Itu Hanya Diam
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang

<< December,2007>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data