|
Pertumbuhan Otak Pengaruhi Autisme
Selasa, 11 Desember 2007 | 20:39 WIB
TEMPO Interaktif, Raleigh:
Temuan terbaru Universitas North Carolina ini mendukung penelitian sebelumnya bahwa pertumbuhan cepat otak anak autis umur satu tahun setara dengan otak anak normal usia dua tahun.
Ketua tim peneliti, Joseph Piven, mengatakan studi perilaku terhadap bayi berisiko tinggi terkena autisme menyatakan munculnya gejala gangguan perilaku dan masalah dengan interaksi sosial umumnya terlihat pada usia setahun. "Penemuan gejala sejak dini meningkatkan peluang lebih besar untuk perawatan dan pencegahan sejak awal yang bisa diidentifikasi oleh penelitian selanjutnya," kata Direktur Pusat Penelitian Gangguan Perkembangan Syaraf Universitas Carolina Utara itu dalam pertemuan tahunan pakar neuropsychopharmacology Amerika pekan lalu.
Autisme, gangguan perkembangan mental yang dicirikan oleh defisit parah dalam interaksi sosial dan komunikasi, biasanya diasosiasikan dengan keterbatasan dalam jangkauan aktivitas dan minat. Hal lain adalah munculnya perilaku pengulangan, seperti menyusun mainan dalam cara tertentu serta kebutuhan untuk rutinitas.
Hasil penelitian menemukan dalam pertumbuhan otak yang normal, koneksi syaraf dihilangkan melalui proses "pemangkasan". Proses ini sangat penting untuk menyaring koneksi dalam otak normal dan meningkatkan efisiensi dari koneksi otak yang sudah ada. Nah, ternyata pada anak autis, hanya ada sedikit aktivitas pemangkasan, dan karena itu otak mereka menjadi lebih besar daripada anak yang tidak terkena autis.
Piven mengingatkan, meski penelitian mereka menunjukkan adanya hubungan antara pertumbuhan otak yang terlalu cepat dan autisme, hal ini bergantung pada variasi kasus dalam autisme. Bagaimana anak itu terkena autis, perkembangan dan pengaruhnya terkait dengan pertumbuhan otak sangat bervariasi.
Piven menyatakan studi tentang perkembangan otak pada anak autis ini merupakan bagian dari studi besar Austism Centers of Excellence yang dibiayai oleh National Institutes of Health. Studi itu mempelajari 500 bayi berusia 6, 12, dan 24 bulan. Mereka adalah adik anak yang terkena autis, sehingga dikategorikan berisiko tinggi terkena autis. Studi dilakukan dengan peralatan canggih pengolah data otak berbasis resonansi magnetik (MRI).
Sebelumnya, penelitian perkembangan otak dan perilaku menggunakan teknologi MRI. Teknologi itu dikhawatirkan memperparah gejala autis yang sudah ada. Hasil penelitian sebelumnya menunjukkan metode ini digunakan dan bahkan bisa menyediakan informasi tentang perubahan otak dalam bayi yang bisa dikategorikan sebagai gejala awal autisme.
AMAL IHSAN | SCIENCEDAILY
INDEKS BERITA LAINNYA :
|