Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Japanese  
Mandarin  
Apa Itu RSS?
   

Indonesia-Malaysia Kerjasama Teknologi Nuklir
Jum'at, 14 Desember 2007 | 20:21 WIB

TEMPO Interaktif, TANGERANG:

Dalam waktu dekat mereka juga akan merumuskan secara legal produk apa saja yang bisa diproduksi bersama dan diekspor. Demikian poin penting dalam dialog menteri
riset dan teknologi Kusmayanto Kadiman dan Menteri Ilmu, Teknologi dan Inovasi Malaysia (MOSTI), Dr. H.E. Dato' Seri Jamaludin Jarjis di gedung DRN Puspitek Serpong. kemarin.

Dialog bertemakan 'Transforming Innovation into
Bussiness Opportunites' itu dihadiri para ABG--istilah Kusmayanto untuk menyebut akademikus, bisnis dan goverment--juga membahas pentingnya membangun kerjasama ekonomi untuk membangun pasar dunia. Selain itu ada hal penting untuk memotivasi pemuda Indonesia yang
berilmu untuk menjadi angkasawan (astronot). Malaysia telah memulainya dengan dua orang angkasawan muda. Salah satunya, Dr. Sheikh Muszaphar Shukor Al Masrie yang ikut mendampingi Menteri Jarjis.

Lebih lanjut Jarjis mengatakan kerjasama Indonesia-Malaysia yang disebutkan Jarjis sebagai bangsa Melayu tidak hanya soal riset saja. Namun kerjasama dalam pembiayaan keuangan dan produk. "Kenapa kalau Cina bisa mengekspor barang-barangnya, kita tidak? Maka hal itu sudah seharusnya dilakukan oleh kita. Kita rebut pasar Cina,"ujar Jarjis.

Pasar produk yang dibidik tentu saja disesuaikan
dengan produk khas Indonesia dan Malaysia yang
beriklim tropis. Terkait dengan pembiayaan keuangam,
Malaysia tidak hanya memberikan modal kepada perusahaan baru tapi juga perusahaan yang akan dibuka di Indonesia. Untuk itu perlu dibuatkan aturan secara legal, agar tidak
terkena pajak ganda. Menteri Kadiman mengatakan dengan aturan yang jelas, maka tidak akan ada pajak di Malaysia dan ditarik lagi di Indonesia, demikian juga fiskal dan non fiskal.

Terkait dengan nuklir, Malaysia punya peran penting dalam mengatasi tsunami di Indonesia dan Malaysia sendiri. Pemasangan Buoy, salah satu alat pengukur energi gelombang laut untuk mendeteksi dini tsunami milik Malaysia pernah dipasang di perairan Indonesia. Menurut Kadiman pemasangan buoy ketika itu hanya melalui ijin per telepon saja dan disetujui Perdana Menteri Malaysia Abdullah Badawi.

"Dato' JJ kontak saya, Pak KK saya mau pasang buoy
supaya tidak ada aspek yudidis yang langgar bagaimana
caranya? KK menjawab dari seberang telepon, Gampang,
kita bawa kapal barang, kita ketemu di laut, nanti
buoy anda dipindah ke kapal kami. Dan kita katakan
buoy ini donasi dari Malaysia untuk Indonesia,"kata
KK.

Ternyata dikatakan Jarjis bahwa pemasangan buoy itu
membuat setidaknya negara Indonesia Afrika, India dan
Bangldes, India dan Malaysia sendiri tidak dihantam
tsunami. Buoy digunakan untuk mendeteksi gelombang
laut yang menyimpan potensi tsunami.

Prinsip kerja buoy menghasilkan listrik dengan
mengapungkannya di permukaan. Gelombang laut yang
terus mengalun dan berirama bolak-balik dalam buoy
ini akan diubah menjadi gerakan harmonis listrik.

Dialog interaktif yang berlangsung di Puspitek itu
berakhir dengan kedua menteri didampingi sang
astronot Seikh berkeliling mengunjungi stand pameran
teknologi dari Badan tenaga nuklir nasional (Batan),
Lembaga penerbangan dan antariksa nasional (LAPAN),
LIPI.

l Ayu Cipta


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk113584 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

GELIAT SANG JAWARA
Boker Hidup Lagi!
Menteri Kesehatan Tolak Undangan Komnas HAM
Pembantai Itu Hanya Diam
Pengunjung Ragunan Mencapai 80 Ribu Orang

<< December,2007>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data