Ketika Paus Makan

Jum'at, 14 Desember 2007 | 20:24 WIB

TEMPO Interaktif, BERKELEY:
Kata besar tidaklah tepat bagi paus. Paus Humpback dapat mencapai 40 ton. Paus Fin telah diketahui bisa seberat 80 ton. Paus biru, binatang terbesar yang pernah hidup, massanya mencapai 160 ton, sama dengan 2.000 orang dewasa atau 5 juta tikus.

Perlu banyak sekali makanan untuk menghasilkan tubuh sebesar itu. Namun, bagaimana tepatnya paus itu sampai memiliki tubuh sebesar itu masih menjadi misteri. "Kami tidak terlalu memahami binatang itu pada lingkungan alaminya," kata Nick Pyenson, biologis di University of California, Berkeley, Amerika Serikat.

Selama beberapa dekade, pakar paus hanya punya petunjuk tak langsung tentang binatang itu. "Ada kemungkinan makanannya berasal dari binatang yang mati atau dari orang-orang yang berdiri di atas kapal untuk melihat paus yang muncul di permukaan," katanya.

Dengan informasi yang begitu minim, para ilmuwan berjuang untuk memahami beberapa teka-teki tentang paus-paus raksasa itu. "Yang selalu menjadi pertanyaan adalah bagaimana mereka menyelam dalam waktu singkat dengan ukuran tubuh sebesar itu," kata Pyenson.

Logikanya, makin besar suatu mamalia laut, makin lama waktu yang dibutuhkannya untuk menyelam mencari makan, karena dia mempunyai lebih banyak jaringan otot untuk tempat penyimpanan oksigen. Semua spesies lain mengikuti pola ini, tapi paus-paus raksasa itu tidak.

Pyenson dan timnya mungkin telah memecahkan beberapa misteri gastronomi monster laut itu dengan menciptakan model biomekanis terperinci pertama dari cara makan paus fin. Intinya, mereka menciptakan tegukan terbesar di dunia.

Sebenarnya Pyenson dan timnya menghasilkan model biomekanis tersebut secara tak disengaja. Pada 2003, sejumlah ilmuwan di Scripps Institution of Oceanography di La Jolla, California, mengejar paus fin dan berhasil menanam monitor kecil di punggung binatang itu dengan mangkuk penyedot. Setelah beberapa jam, monitor tersebut lepas. Mereka berharap monitor itu bisa merekam nyanyian paus. Tapi sialnya, yang terekam justru kegiatan paus sedang makan, bukan sedang menyanyi.

Jeremy A. Goldbogen, yang saat itu berstatus mahasiswa di Scripps, menyadari bahwa proyek itu tak sepenuhnya gagal. Goldbogen, yang saat ini menjadi peneliti di University of British Columbia (UBC), tertarik untuk mengetahui bagaimana paus fin makan.

Monitor itu telah mencatat banyak sekali informasi berharga tentang pergerakan paus yang dapat dianalisis, seperti kecepatan dan kedalaman mereka berenang. "Ini pertama kali kami melihat data seperti itu," kata Goldbogen.

Bekerja sama dengan Robert Shadwick dari UBC dan Pyenson, Goldbogen menerapkan beberapa hukum dasar fisika pada data tersebut serta mengkombinasikannya dengan informasi ukuran dan bentuk paus itu. Mereka berhasil memperoleh gambaran yang amat mendetail tentang apa yang dilakukan paus ketika makan. Temuan mengejutkan itu akhirnya mereka publikasikan dalam jurnal Marine Ecology Progress Series.

Terungkap bahwa seekor paus fin menyelam amat dalam untuk mencari makanan. Mereka berenang sedalam lebih dari 180 meter di bawah permukaan laut untuk mencari gerombolan besar krill. Apa yang dilakukan paus setelah menemukan mangsanya itu menyempurnakan kejutan bagi para ilmuwan. "Mereka masih berenang, tapi memperlambat lajunya dalam waktu teramat singkat," kata Goldbogen. "Bahkan ketika paus itu memompa ekornya yang kuat, dia berhenti dalam tiga detik."

Para ilmuwan menyimpulkan, paus itu berhenti dengan membuka mulutnya. Air meluap ke dalam, mendorong rahang bawahnya yang luar biasa besar sampai tegak lurus menggantung dari tubuhnya. Dalam waktu sekejap, paus itu menghasilkan isapan yang amat kuat. "Paus memiliki tubuh sangat streamline sehingga mereka bisa berenang dengan cepat dan efisien, kemudian mereka membuang semuanya keluar dari jendela," kata Goldbogen.

Dalam kenyataannya, tubuh paus fin beradaptasi dengan sangat hebat untuk meningkatkan daya isap. Bagian bawah mulutnya terbuat dari susunan lipatan unik yang bisa meregang empat kali lipat dari ukuran normalnya. Ditambah dengan ekor yang terus mengibas, paus mendorong lebih banyak air yang masuk, sehingga mulutnya berkembang seperti parasut. Tak ubahnya pembalap yang menggunakan parasut untuk memperlambat laju kendaraannya, mulut yang menggembung itu membuatnya benar-benar berhenti total.

Goldbogen dan timnya menghitung bahwa hanya dalam waktu 3 detik, mulut seekor paus fin sepanjang 18 meter itu terisi lebih dari 18 ribu galon air. Itu sama dengan volume sebuah bus sekolah, dan melebihi berat puas itu sendiri.

Paus itu kemudian menggunakan waktu tiga detik lagi untuk menutup rahangnya. Ketika lipatan mulutnya merapat seperti semula, gerakan itu mendorong air keluar dari sisi mulut. Namun, sebelumnya, air terdorong dulu melalui serangkaian piringan tipis yang disebut baleen. Setiap krill atau binatang lain yang berada dalam air akan terjebak di situ. Ketika paus mendorong keluar semua air yang diteguknya, dia bisa menelan mangsanya dan bergerak maju kembali.

Jika model buatan Goldbogen ini akurat, itu berarti paus fin menggunakan energi dalam jumlah besar untuk makan. Ini dapat menjelaskan mengapa paus cuma menghabiskan waktu sedikit sekali di dalam air. Mereka memang bisa menyimpan oksigen cadangan dalam ototnya, tapi mereka juga membakarnya dengan cepat ketika mereka menyapu makanan dengan cara yang aneh.

Untuk semua jerih payah ini, dari satu tegukan air sebesar bus itu, paus fin yang memperoleh sembilan kilogram krill. Tapi paus fin bisa menelan setiap 30 detik. Dalam empat jam, seekor paus bisa menangkap satu ton krill, yang memasok cukup banyak energi untuk mendukung aktivitas tubuh sebesar itu selama sehari.

TJANDRA DEWI | NY TIMES

Komentar Anda :

Disclaimer : Komentar adalah tanggapan pribadi, tidak mewakili kebijakan editorial redaksi Tempo Interaktif. Redaksi berhak mengubah kata-kata yang berbau pelecehan, intimidasi, bertendensi suku, agama, ras, dan antar golongan
Kirim

Nama:

Kota:

Email:

Judul:

Komentar:

Kode Verifikasi :

Masukkan Kode :