Search  
 
| Advance search | Registration | About us | Careers
  Home  
  Budaya  
  Digital  
  Ekonomi  
  Iptek  
  Internasional  
  Jakarta  
  Nasional  
  Nusa  
Olahraga  
  Majalah  
  Koran  
  Pusat Data  
  Tempophoto  
  Indikator  
English
Japanese  
Mandarin  
Apa Itu RSS?
   

Petualangan Jules Verne di Antariksa
Kamis, 13 Maret 2008 | 21:06 WIB

TEMPO Interaktif, CAYENNE:

Kemarin, pesawat ulang-alik Endeavour meluncur dari Kennedy Space Center pada 06.28 GMT tanpa kendala. Pesawat berawak tujuh astronot itu akan menjalani misi 16 hari untuk memasang laboratorium Jepang di Stasiun Antariksa Internasional (ISS). Itu berarti selama hampir dua pekan, "hotel" ISS bakal dikunjungi tamu tujuh astronot pesawat ulang-alik Endeavour, sehingga total 10 astronot akan menghuni stasiun tersebut.

Menerima kunjungan memang bukan hal baru bagi ISS, meski tetap saja hal ini cukup merepotkan. Bisa dibayangkan, berapa galon air yang harus disediakan untuk air minum saja bila seorang astronot minum 2,2-2,5 liter sehari. Padahal semua air yang digunakan di stasiun itu harus dibawa dari Bumi. Jadi jangan kaget bila segelas air dihargai Rp 27,3 juta.

Itu baru untuk minum. Para insinyur Badan Antariksa Amerika (NASA) telah menghitung, setiap astronot menggunakan sekitar 4,4 liter air dalam sehari untuk minum, mencuci, dan sebagainya. Mengirim air dari Bumi ke sana membutuhkan biaya lebih dari Rp 100 juta per liter atau setara 350 gram emas murni.

Nah, di sinilah Jules Verne, wahana pengangkut raksasa pertama milik Eropa, memainkan perannya. Salah satu muatan penting yang dibawa oleh wahana yang diluncurkan dengan roket Ariane 5 dari Kourou, Guyana Prancis, Minggu dini hari, itu adalah 280 kilogram air.

Dalam misi pertamanya ini, Jules Verne, yang dinamai sama dengan pengarang Prancis yang terkenal dengan kisah petualangan dan fiksi ilmiahnya, juga membawa makanan, pakaian, dan beragam perlengkapan untuk ISS, termasuk 860 kg propelan untuk mengisi ulang bahan bakar sistem pendorong stasiun itu serta 20 kg oksigen untuk sistem udara ISS. Total, ia mampu membawa 7,5 ton kargo.

Meski tak sebesar pesawat ulang-alik, Jules Verne amatlah istimewa. Wahana sebesar bus tingkat dengan berat 20 ton ini adalah kendaraan pengangkut sekaligus alat pendorong terbesar paling canggih yang sepenuhnya robotik. "Pada dasarnya, wahana itu bisa melakukan segalanya secara mandiri," kata juru bicara Badan Antariksa Eropa (ESA), Franco Banacina. Misalnya, menemukan ISS dengan menggunakan Global Positioning System, dan menyambungkan diri ke stasiun tersebut secara otomatis dengan sistem pemandu laser.

Kendaraan ini adalah bagian dari barter antara Eropa dan partner internasional lainnya dalam proyek ISS. Untuk menutupi biaya operasi stasiun yang jauh dari murah, Eropa mengambil tanggung jawab untuk memasok beragam kebutuhan ISS, termasuk menyuplai air bersih.

Apalagi pesawat ulang-alik Amerika sebentar lagi memasuki masa pensiun. Peran wahana pengangkut seperti Jules Verne semakin besar, mengingat jumlah awak yang akan tinggal di ISS meningkat menjadi 6 orang pada 2009.

Kendaraan transfer otomatis ini bisa mengangkut dua jenis air ke ISS sesuai dengan standar berbeda yang ditetapkan NASA dan Badan Antariksa Rusia (Roskosmos). Standar NASA adalah air dengan residu kering rendah dan memakai yodium sebagai disinfektan. Adapun standar Roskosmos, air itu harus mengandung sejumlah mineral, seperti kalsium, magnesium, dan florida, serta disterilkan dengan perak yang dihasilkan melalui elektrolisis.

"Untuk Jules Verne, diputuskan hanya membawa jenis air (standar) Rusia," kata Cesare Lobascio, Kepala Kendali Lingkungan dan Penyokong Kehidupan untuk Kendaraan Antariksa Alenia Spazio di Turin, Italia.

Sebetulnya wahana ini memiliki kapasitas maksimum untuk menampung air sampai 840 kg yang dibagi dalam tiga tangki air. Namun, dalam peluncuran perdananya, hanya satu tangki kendaraan angkut itu yang terisi.

Sayangnya, setelah menunaikan tugasnya mengantarkan kargo, status Jules Verne turun drastis. Wahana pengangkut tersebut berubah menjadi tempat sampah raksasa. Selama enam bulan terpasang di ISS, wahana itu akan dijadikan gudang dan penampungan 6,5 ton sampah yang terakumulasi selama ini. Semua sampah berikut Jules Verne akan terbakar habis ketika kembali memasuki Bumi.

Berbeda dengan pesawat ulang-alik yang bisa digunakan berulang kali, kendaraan transfer ini memang cuma sekali pakai. Memang sayang juga bila kendaraan angkut yang biaya pembuatannya sekitar Rp 2,1 triliun sampai Rp 2,8 triliun, belum termasuk biaya peluncuran dan operasional, itu harus terbakar habis. Namun, pesawat antariksa sekali pakai adalah hal lumrah. Bahkan harga ini bisa dibilang murah bila dibandingkan dengan harga sebuah pesawat ulang-alik yang mencapai Rp 15,5 triliun.

Jules Verne bukanlah satu-satunya kendaraan angkut Eropa yang akan melanglang ke antariksa. Masih ada empat wahana angkut lain yang akan menyusul jejak sang petualang itu.

TJANDRA DEWI | AP |NATURE | SPACEDAILY


INDEKS BERITA LAINNYA :
 

 

 

dibuat oleh Radja:danendro
 

Komentar Anda
-
Kirim
-
Via SMS
Anda bisa mengomentari berita ini melalui SMS. Ketik TIJAWAB [spasi] brk120040 [spasi] komentar dan kirim ke 9333

Berita Terakhir

DKI Sisir Kawasan Radio Dalam
Rumah Duka Sophan Sophian Dikerumuni Wartawan
Menabrak Pakem Seni Trimatra
Sophan Meninggal Dalam Perjalanan Ke Rumah Sakit
Sophan Sophian Ingin Jadi Duta Besar

<< March,2008>>
MSnSl RK JS
      01
02 03 04 05 06 07 08
09 10 11 12 13 14 15
16 17 18 19 20 21 22
23 24 25 26 27 28 29
30 31




 

 
buatan danendro English | Japanese | Registrasi | Help | About us
  copyright TEMPO 2003

Kembali ke atas
Home | Budaya | Digital | Ekonomi |Internasional |Iptek |Jakarta | Nasional | Nusa| Olahraga | Indikator
Majalah | Koran Tempo | Pusat Data